Monday, December 19, 2005

Geliat Gadis Tunis

Gadis Tunis Dalam Gerimis


Sekelompok wanita Arab bermain musik. Mencari jati diri?

Udara dingin terasa semakin menusuk seiring malam yang merayap perlahan. Hujan baru saja reda. Mobil yang kutumpangi berjalan pelan, menyusuri kawasan Almanar, kawasan elit kota Tunis.

Di sebuah pom bensin, mobil berhenti. Dua orang pegawai berseragam biru datang menyambut. Dengan cekatan mereka bekerja. Seorang mengelap kaca mobil, kawannya mengisi bahan bakar. Dalam keremangan malam, sekilas kutatap wajah pegawai yang sedang mengelap kaca. Ada garis kecantikan yang tak tersembunyikan. Meski ia memakai topi lebar serta gerakan tubuh yang zig-zag. "Lihat Pak, sepertinya dia wanita", bisikku kepada Husein, sopir sekaligus pemilik mobil. "Ah, masa?" kata Husein seraya ikut melirik.

Sewaktu menyerahkan uang bayaran, Husein bertanya. "Kamu wanita yach?" Pegawai yang berdiri depan pintu mobil itu menjawab. "Ya Tuan, emangnya kenapa?" Bibirnya mengulum senyum, matanya hitam dan jernih. Seperti mata kelinci. Barangkali, mata semacam ini yang dimaksud lagu lama Hampir Malam di Jogya itu. Husein bertanya lagi, "kok kamu mau bekerja malam-malam begini. Apa tidak ada pegawai lelaki?" Nada bicara Husein agak sinis, maklum orang Saudi, negeri yang tidak mengenal kamus wanita bekerja.

Mobil bergerak meninggalkan pom bensin. Tanpa menunggu jawaban dari wanita tadi. Kala batinku masih penasaran, tengah malam begini, gadis-gadis muda itu bekerja di pom bensin. Diterpa angin, gerimis dan udara dingin. Mengapa mereka mau bekerja begitu? Mengapa pemerintah membiarkan mereka bekerja? Apakah memang tidak ada lelaki lagi? Apakah karena para wanita itu benar-benar perlu uang? Ah, rasanya tidak mungkin. Tunisia adalah negeri makmur. Termakmur kedua di Afrika Utara setelah Lybia. Pendapatan per kapitanya 3000 Dolar AS, tiga kali lipat Indonesia. Ataukah mereka bekerja atas nama emansipasi?

Kalau karena alasan yang disebutkan terakhir, memang sangat mungkin. Untuk hitungan Arab, Tunisia termasuk negara yang memberikan kebebasan perempuan secara luas. Jauh berbeda dengan Mesir, Iran, apalagi Saudi. Trend persamaan hak laki-laki dan wanita di Tunisia bukan hanya wacana hiasan bibir saja, tetapi sejak lama telah melebar ke tataran praktis realitas kehidupan.

Sejak masa awal kemerdekaan tahun 1956, pemerintah telah mengeluarkan hukum keluarga yang mengatur hak-hak wanita. Diantaranya adalah penghapusan poligami, pemberian hak bagi isteri untuk mengajukan cerai, juga hak pemeliharaan anak bagi isteri yang ditinggal mati suaminya. Semua aturan ini ditetapkan pada masa pemerintahan Habib Borguiba, presiden pertama Tunisia yang memang dikenal pejuang hak-hak wanita. Kini, di pintu gerbang makamnya di kota Monastir – 130 km timur kota Tunis- tertulis kalimat Borguiba Sang Pembebas Wanita Tunisia.

Dukungan politik atas hak-hak wanita juga dilakukan oleh Zainal Abidin Bin Ali, presiden Tunisia sekarang. Pada bulan Agustus 1993, ia mengeluarkan Undang-Undang tentang hak-hak wanita yang merupakan amandemen atas sejumlah peraturan lama yang masih dianggap bias gender. Suami isteri memiliki peran yang sama dalam upaya memelihara keharmonisan rumah tangga dan dalam hal urusan anak-anak. Pasal ini dianggap mengamandemen pasal isteri harus mentaati semua keputusan suami. Masih dalam UU itu, disebutkan bahwa suara sang ibu harus didengar dalam menentukan calon suami puterinya. Jadi, tak semata hak prerogatif sang ayah. Bagi wanita Tunisia yang menikah dengan pria asing lalu memiliki anak, maka sang anak bisa memperoleh hak kewarganegaraan Tunisia, sebagaimana ibunya. Sebuah penghargaan status yang – sepertinya – belum diterapkan oleh banyak negara Arab.

Masih banyak peraturan lain yang berpihak pada aktifitas dan ruang gerak kaum wanita Tunis. Imbasnya, saat ini trend wanita yang bekerja di luar rumah semakin populer. Pada tahun 2004, seperempat wanita Tunisia – dari total jumlah wanita 5 juta jiwa - berstatus bekerja secara resmi di berbagai bidang. Baik di perkantoran, dunia bisnis, hingga kerja-kerja lapangan semisal sopir taksi ataupun pegawai pom bensin seperti tadi. Setiap pagi, bis-bis umum dipadati kaum wanita muda yang berangkat kerja. Di ruas-ruas jalan kota Tunis, polisi wanita berkeliaran. Rata-rata berkulit putih, ramah, dan juga rupawan. Sewaktu aku berjalan santai di Borguiba Avenue, jalan utama di kota Tunis, seorang polisi wanita yang masih muda menyapaku." Bienvenue", tuturnya dengan senyum tersungging. Bienvenue adalah bahasa Perancis, artinya Selamat Datang. "Ahlan bik", jawabku pake bahasa Arab. Maklum, spontan agak-agak kaget. Di kota Tunis, ternyata polisi sangat ramah, bersahabat dan lebih enak dipandang, hehe...

“Hampir tak ada bidang kehidupan di negeri ini yang tidak melibatkan kaum wanita”, tutur Lamia, seorang mahasiswi Tunis di kelasku. Di bidang pekerjaan yang kasar sekalipun, semisal tukang listrik, tukang servis elektronik hingga tukang bangunan. “Semuanya biasa di sini. Wong sekolah kejuruan saja – semacam STM - banyak banget siswinya”, tutur dia lagi. Duh, gusti, itu sih kayaknya sudah melewati kodrat kewanitaan, komentarku. Bukankah kalau bekerja kasar mereka akan kehilangan kelembutan dan kecantikan? Bukankah dengan bekerja kasar begitu mereka malah merendahkan martabatnya sendiri? Lamia tertawa ngakak.

Fenomena wanita bekerja seperti itu ternyata tidak selalu disikapi positif oleh kalangan pria. “Kamu lihat sekarang di kantor-kantor, semuanya wanita”, tutur Khaled, seorang mahasiswa Tunis berusia 26 tahun, dengan nada geram bin iri. Tatapan matanya kosong menerawang. Mungkin ia takut ngga kebagian job, lalu menjadi pengangguran. “Jangan iri gitu ya akhi..”, aku so’ menasehati. “Iri khan tanda tak mampu”, lanjutku polos, apa adanya. Khaled hanya mesem

Kaum wanita Tunis juga duduk dalam dunia birokrasi, bersaing dengan kaum lelaki. Data resmi tahun 2004 menunjukkan bahwa 25 persen hakim di Tunisia adalah kaum wanita. Juga 26 persen posisi pengacaranya. Mereka menempati porsi 15 persen dari total anggota DPR, serta posisi seorang wakil ketua DPR. Mereka juga aktif di organisasi wanita, baik dalam maupun luar negeri.

Tunisia memang tidak dikenal karena pemikir-pemikirnya yang giat menyuarakan emansipasi wanita. Tidak seperti Maroko yang punya Fatima Mernissi, atau Mesir yang punya Qassim Amin, Rif’at Tahtawi atau yang sekarang masih ada, Nawal Sa’dawi.

Di Mesir, gaung emasipasi wanita memang terdengar nyaring. Tapi, kencangnya gaung itu masih terbentur tradisi beragama dan budaya patriarkis yang masih kentara. Poligami saat ini masih menjadi trend dan hal yang lumrah. Sinetron Haji Mutawalli yang bercerita tentang kisah sehari-hari sang haji bersama keempat isterinya, menjadi sinetron favorit pemirsa pada tahun 2002 lalu. Cerita tentang kekerasan suami terhadap isteri juga masih sering terdengar. Seperti yang pernah kututurkan dalam paket Serba-Serbi Mesir (SSM) berjudul Pria Mesir Nan Perkasa.

Di Tunis, cerita tentang poligami hanya dalam wacana diskusi. Seperti yang kualami dalam kuliah Huquq al Insan (Hak Asasi Manusia) beberapa hari lalu. Dosen kami, Dr Ali Syaibi yang juga seorang kolumnis media, dengan jeli menjelaskan duduk perkara penghapusan aturan poligami di Tunis. “Secara sosiologis, saat ini poligami bukan hal yang menarik bagi orang Tunisia”tuturnya seraya mengutip ayat walan ta’dilu bainanisaa walau harastum. Keadilan secara utuh tak mungkin bisa diwujudkan oleh suami yang poligami. Dan ayat ini memang dipegang kuat oleh para ulama madzhab Maliki –madzhab fikih orang Tunis – kala bicara soal poligami.

Dalam soal kewarisan, Tunisia menerapkan konsep Alquran ; wanita mendapat setengah bagian pria. Aku sempat berfikir, biasanya konsep waris Islam ini dituduh para aktifis feminisme sebagai bias gender, salah satu bukti ketidakadilan Islam terhadap wanita. Di Tunisia, negeri yang memberikan kebebasan luas bagi kaum wanita, konsep ini malah menjadi hukum positif. Di fakultas pascasarjana Universitas Zaytuna, kajian ilmu faraidh bahkan menjadi sebuah program studi tersendiri. Mungkin dalam tataran empirisnya terbukti, bahwa nilai keadilan konsep ini sangat ideal bagi kaum wanita. Subhanallah.

Inilah salah satu potret kaum wanita di Tunisia, negeri berpenduduk 10 juta jiwa dengan porsi 99 persennya muslim. Untuk ukuran Arab dan Afrika, Tunisia barangkali bisa dikategorikan terdepan dalam hal kebebasan dan jaminan hak kaum wanitanya. Aktifitas kaum hawanya tak terhalang oleh sekat politis, sosiologis bahkan teologis, tidak seperti di kebanyakan negara Arab dan Afrika lain. Mereka juga punya hak untuk tidak dimadu oleh suaminya. Maka cinta suami takkan lagi terbagi. Hanya saja, yang kasian khan suaminya ; tak bisa nambah. Nah, loe…
Kado Hari Ibu, 22 Desember 2005Salam manis dari Tunis

Jumat Keramat

Jumat Hari Keramat


Mesji Uqbah bin Nafi di Kairouan, 156 km selatan kota Tunis, didirkan pada tahun 50 H

Pada hari pertama keberadaanku di Tunis, aku langsung punya image yang tidak menarik tentang pola beragama orang Tunis. Mereka tidak pandai merawat mesjid, mereka bukan penikmat spiritualitas, mereka menganggap remeh salat.
Image itu mendadak muncul usai mengikuti salat Jumat di Mesjid Al Hawa, sebuah mesjid besar, tepat di depan kampus Universitas Zaytuna. Kala itu, Jumat pertamaku di Tunis, 11 Nopember 2005. Aku ikut salat Jumat gelombang ketiga, khatibnya baru naik mimbar pukul 14.30 atau 40 menit sebelum adzan Ashar. Khatib berkhutbah selama setengah jam, dan usai salat Jumat, muadzin langsung mengumandangkan adzan Ashar. Kami pun salat Ashar berjamaah di awal waktu.
Suasana dalam mesjid itu, polos tanpa banyak hiasan atau kaligrafi. Kebanyakan jemaahnya juga berpakaian biasa, hanya satu dua orang yang berjubah atau berpeci. Tak ada wirid-wirid atau lantunan ayat suci. Atau dzikir para jemaah tarekat seperti yang sering kusaksikan usai Jumatan dulu di Mesjid Husein, Kairo. Hatiku menduga-menduga, simbol-simbol formal keagamaan sepertinya tidak populer di negeri ini.
Jumat pertama yang sangat tidak menarik. Jumat yang gersang. Apalagi waktunya menjelang Ashar begitu. Aku yang belum terbiasa dan belum tahu, masih meragukan keabsahannya.
Sebenarnya, firasat ga enak sudah kurasakan sejak siang sebelum Jumat. Kala itu, menjelang jam 12an, aku berada di kantor kementrian pendidikan tinggi untuk mengambil surat pengantar studi dan beasiswa. Sekaligus lapor diri bahwa aku sudah berada di Tunis. Sebelumnya aku bersilaturahmi ke KBRI.
Saat di kementrian, aku sudah gelisah. Waktu dzuhur sudah tiba. Saatnya salat Jumat. “Tenang saja”, tutur seorang kawan, “kita bisa salat Jumat pada gelombang kedua atau ketiga nanti”,lanjut dia enteng. “Hah ? gelombang kedua dan ketiga ?” aku kaget. “ Ya, di Tunis ini, kita bisa pilih waktu salat Jumat. Ada yang mulai jam 12, setengah dua, dan setengah tiga. Tergantung sempatnya kita kapan”, sang kawan bertutur. Ya sudah, aku ikut saja. Meski hati bertanya-tanya dan prihatin. So’saleh, hehe..
Jam 12 lewat. Adzan dzuhur terdengar sayup-sayup. Disambung dengan ceramah Jumat. Tetapi suasana kantor kementrian masih saja ramai. Para pegawainya sibuk, serta tamu-tamu juga berdatangan. Di jalan raya sana, kendaraan tetap ramai, pejalan kakinya hilir mudik. Anak-anak sekolah berjalan bergerombol. Seolah bukan hari Jumat saja.
Duh Gusti, aku membathin. Tiba-tiba aku ingat Mesir, negeri yang sangat kaya dengan khazanah dan tradisi Islam. Orang-orangnya yang religius, mesjid-mesjidnya yang antik, serta ritual keagamaannya yang variatif, lekat dengan spiritualitas. Di Mesir, Jumat siang begini, aku biasanya sudah duduk di dekat mihrab mesjid bersejarah, menikmati lantunan ayat Alquran yang dikumandangkan secara live oleh seorang qari. Sambil menanti khatib naik mimbar.
Jam 13an aku baru selesai urusan di gedung kementrian. Mula-mula kami cari mesjid. Tetapi perut keroncongan minta diisi. “Ya sudah, kita makan dulu”, kata sang kawan. Aku sih setuju saja. Toh kalaupun sembahyang, pikiran takkan tenang. Dalam suasana begini, sikap mendahulukan makan atas salat, dibenarkan oleh syariat.
Maka kami pun masuk ke sebuah rumah makan murah. Menikmati kaftaji, makanan khas Tunis. Di tengah suasana rumah makan yang penuh pengunjung. Lagi-lagi aku bergumam, mengapa mereka tidak segera ke mesjid untuk salat Jumat.
Pada Jumat kedua, 18 Nopember 2005, aku bersiap-siap sejak pagi. “Aku ingin salat Jumat di awal waktu dan di mesjid besar”, pesanku kepada kawan senior. Karena aku tak mau Jumat kemaren terulang. Sang kawan mengiyakan. Dan menjelang jam 12, kami sudah berada di dalam mesjid Kasbah, sebuah mesjid besar dan megah di kawasan kota, 200 meter dari kantor Perdana Menteri.
Khatib naik mimbar di awal waktu dzuhur. Rata-rata jemaahnya berpakaian rapi. Sebagian berjubah serta peci merah khas Tunis itu. Banyak juga jemaah berjas dan dasi. Nampaknya mereka para pegawai kantoran. Maklum, Jumat di Tunis adalah hari kerja. Liburnya Sabtu-Ahad seperti di Indonesia. Sebelum Jumat, ada lantunan ayat Alquran oleh seorang qari. Usai Jumat, ada wiridan dan doa bersama. Isi khutbahnya juga menarik Perlahan, image-ku tentang salat Jumat dan pola beragama orang Tunis mulai membaik.
Aku sangat menikmati Jumat kedua ini. Hati terasa lebih tenang karena Jumat ditunaikan pada awal waktu. Aku ingat hadis Nabi yang melukiskan pahala orang datang pertama ke mesjid untuk Jumat, laksana berkurban dengan seekor sapi. Orang yang datang setelahnya menuai pahala senilai kurban dengan kambing. Lalu ayam, dan akhirnya telor. Jemaah yang tiba terlambat, tidak akan mendapat apa-apa karena malaikat pencatat amal telah menutup bukunya. Demikian hadis Nabi tentang keutamaan Jumat.
Berangkat dari kandungan hadis itu, aku jadi bertanya-tanya soal salat Jumat 3 gelombang yang diterapkan di Tunisia. Konon juga di beberapa negara Arab lain yang menganut madzhab Maliki. Apakah mereka tidak mengindahkan hadis keutamaan salat di awal waktu? Apakah mereka tidak ingin mendapat pahala kurban senilai sapi? Bukankah salat Jumat itu harus dilakukan secara segera sebagaimana semangat ayat fas’au ila dzikrillah wa dzarul bai’? Dengan adanya tiga pilihan waktu itu, bukankah nanti orang Islam akan cenderung bersantai dan menganggap enteng waktu salat? Bukankah orang yang menganggap enteng salat itu termasuk kategori munafik? Bukankah...? Bukankah...? Begitulah, hatiku bertanya-tanya. Semuanya serba bukankah. Maklum, berangkat dari ketidaktahuan.
Lalu, aku buka beberapa kitab fiqih populer, baik yang klasik maupun yang kontemporer. Ternyata, tak ada satupun kaidah yang menyebutkan bahwa salat Jumat hanya harus dimulai awal waktu dzuhur. Aku pun mulai merasa tenang. “Tak ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha, tentang waktu pelaksanaan Jumat. Ia sama dengan waktu salat dzuhur, sejak tergelincirnya matahari hingga tiba waktu Ashar”, tulis Wahbah Zuhaili, ahli fikih kenamaan kontemporer asal Syria, dalam kitabnya Al Fiqh al Islamy wa Adillatuhu.
Hingga hari ini, enam Jumat telah kulalui di Tunis. Tiga gelombang Jumat itu telah kucoba. Kubagi rata ; masing-masing dua kali, di 6 mesjid yang berbeda ; Al Hawa, Zaytuna, Kasbah, serta tiga mesjid lain yang tidak kuketahui namanya. Masing-masing berlokasi di dekat KBRI, di kawasan Bourguiba Avenue, serta di kawasan Medina, Old Tunis
Secara perlahan, aku mulai menikmati salat Jumat di Tunis. Terlebih di mesjid-mesjid besar semisal Zaytuna, yang kadang diramaikan oleh wirid-wirid tarekat setiap usai Jumat sebagaimana di mesjid-mesjid Mesir. Aku juga mulai bisa menyesuaikan diri dengan 3 pilihan waktu salat Jumat. Aku mulai tahu, mesjid mana saja yang menggelar Jumat pada awal waktu, dan mana yang pada akhir waktu.
Dengan adanya 3 pilihan waktu, aktifitas kerja bisa terus berlangsung secara maksimal hingga jam 14.00. Bagi yang sibuk mendadak atau terjebak kemacetan, bisa tetap tenang selambatnya hingga jam 14an. Yang penting, Jumatnya tidak kelewat. Umat Islam bisa tetap salat Jumat untuk kepentingan akheratnya, tanpa kehilangan kesempatan untuk meraih prestasi dunia. Selaras dengan makna ayat wabtagi fiimaa atakallahu... Dari sisi ini pula, salah satu bukti keluwesan syariat Islam semakin terbukti. Subhanallah.
Jumat adalah hari keramat, sayyidul ayyam dan hajinya orang miskin. Dalam salat Jumat terdapat keberkahan dan doa mustajabah. Yusuf Qardawi mengatakan bahwa ada 4 faktor kegagalan kristenisasi di Mesir ; Alquran, Ramadan, Al Azhar, dan khutbah Jumat
Aku, sebisa mungkin akan selalu salat Jumat pada gelombang pertama. Karena ia lebih utama, pahalanya lebih besar sebagaimana hadis Nabi tadi. Tetapi dalam suasana terdesak atau sibuk mendadak, aku tetap tidak kehilangan kesempatan untuk meraih tiket ke surga, karena ada Jumat gelombang berikutnya. Insya Allah…

Senja Jumat 16 Desember 2005Salam Manis dari Tunis

Saturday, December 10, 2005

Pesona Mesjid Zaytuna

Malam Jumat di Mesjid Zaytuna

Bab el Bahr, salah satu pintu Old Tunis
Sewaktu masih di Mesir, aku punya tradisi rutin ; menelusuri mesjid-mesjid tua nan bersejarah serta melarutkan diri dalam aneka ritual keagamaan didalamnya. Lumayan, untuk memperkaya pengalaman, baik pengalaman lahir ataupun pengalaman bathin.

Kini, setelah genap sebulan tinggal di Tunis, aku tiba-tiba berniat melanjutkan tradisi lama itu. Barangkali ada hal baru yang menarik. Buat cerita ke anak cucu kelak. Hehe..tentu mereka akan sangat senang menyimaknya. Maka pada senja Kamis (8/12) kemaren aku meninggalkan kediamanku di kawasan Bir Aniba, Tunis. Menuju mesjid paling terkenal dan bersejarah di kota Tunis ; Zaytuna, yang dibangun pada tahun 732 M pada akhir masa kekuasaan dinasti Umayyah. (Mesjid tertua di Afrika, mesjid Amr bin Ash di Fustat, Old Cairo didirikan tahun 640 M pada masa khalifah Umar. Sedangkan mesjid Al Azhar didirikan tahun 970 M pada masa dinasti Fathimiyyah].

Aku berjalan cepat menelusuri gang sempit yang berkelok-kelok diantara komplek perumahan kawasan Bab Manara, Old Tunis. Dari kediamanku, Mesjid Zaytuna bisa ditempuh selama 20 menitan jalan kaki.

Seperti halnya Kairo yang memiliki kota tua (Kahirah Qadimah, Old Cairo), Tunis juga punya kawasan kota tua Old Tunis atau Medina. Old Tunis dikelilingi oleh empat pintu gerbang di empat titik perbatasan ; Bab el Bahr, Bab Souika, Bab Sa’doun dan Bab Manara. Old Cairo juga dikelilingi Bab el Louk, Bab el Futuh, dan Bab en Nasr.

Kawasan Medina kini menjadi obyek wisata sejarah yang terkenal di Tunis. Mungkin seperti Old Cairo dengan paket Islamic Cairo-nya. Dan mesjid Zaytuna berada di tengah-tengah komplek Medina itu.

Usai melewati kompek perumahan penduduk dan Rue Manara (Manara Street), aku memasuki kawasan Medina. Berupa gang selebar 2 meter, berkelok-kelok dan bercabang ke banyak arah, membelah komplek pertokoan yang memanjang. Ada toko pakaian, kios tukang jahit, perhiasan, toko souvenir khas Arab Tunis, rumah makan, kafe, hingga penginapan. Sekilas mirip dengan Pasar Khan Khalili di Husein, Old Cairo. Hanya saja, Medina jauh lebih luas.

Bangunan toko-toko itu menyatu satu sama lain. Atap tembok berbentuk lengkung menaungi jalanan di seluruh komplek Medina. Melindungi pejalan kaki dari terik mentari dan hujan. Menurut cerita, umur komplek Medina plus atap temboknya yang masih kokoh itu juga setua usia Mesjid Zaytuna.

Aku belum hafal bener liku-liku jalan ini. Tapi aku PD saja, terus berjalan lurus, tak peduli beberapa belokan atau simpang empat yang kulewati. Di beberapa perempatan, terdapat merk-merk seperti Souk el Kuafi, Souk Et Trouk dan Souk At Tarine. Nama-nama blok bagian pasar. Souk At Tarine adalah pasar parfum, Souk de la Laine adalah tempatnya pakaian dan tenunan Arab. Begitu seterusnya.

Setelah 200an meter berjalan lurus di lorong itu, aku menemukan sebuah pintu terbuka, lebar dan tinggi, di sebelah kanan jalan, diantara deretan toko. Di dalam sana nampak pelataran luas. Ya, itulah pelataran dalam Mesjid Zaytuna. Di tengah komplek Medina. Keempat sisi tembok mesjid bersentuhan langsung dengan bangunan pertokoan ini.

Dengan bismillah aku memasuki pelataran mesjid. Alas kaki tetap dipake, meski lantainya berupa tembok tua yang bersih. Sejenak aku tertegun memandangi suasana sekeliling. Dalam senja yang temaram, aku berdiri di sebuah pelataran terbuka seluas kira-kira 1200an meter persegi. Sama luasnya dengan pelataran Mesjid Al Azhar. Dikelilingi bangunan tua berwarna kuning usang, serta tiang yang berderet. Disorot lampu malam, ketegaran bangunan itu semakin kentara, menyiratkan keangkuhan peradaban yang mewariskannya. Hanya menara setinggi 10 meteran di pojok kanan belakang mesjid yang dicat putih, dengan puncak genting berwarna biru. Khas menara mesjid-mesjid Tunis. Di atas menara itu, nampak seorang lelaki berpeci merah berdiri, tengak-tengok ke bawah. Siapa tuh, kok bisa naik ke atas. Aku khan jadi pengen, bisik hatiku penasaran.

Senja itu, aku merasa seolah-olah sang waktu terhenti sesaat. Lalu berbalik mundur hingga membawaku ke abad pertengahan. Seperti yang kurasakan kala berada di pelataran dalam mesjid Ahmad bin Tulun di Old Cairo, salah satu mesjid tua favoritku dulu.

Aku asyik mengamati setiap sudut dan lekuk bangunan kuno itu. Gaya arsitekturnya tak jauh beda dengan kebanyakan mesjid kuno di Mesir. Para jemaah yang hendak sembahyang magrib berdatangan dari empat pintu di empat pojok pelataran mesjid. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara adzan yang diteriakkan orang di atas menara sana. Oh, rupanya lelaki berpeci merah itu seorang muadzin. Aku membathin, mengapa adzannya tanpa pengeras suara. Tradisional banget gitu lho... Suara sang muadzin sore itu menggema, bersaing bersahutan dengan adzan magrib dari mesjid lain yang memakai pengeras suara.

Senja yang temaram berangsur kelam. Aku segera beranjak memasuki ruangan dalam mesjid. Juga dengan bismillah. Rupanya ruangan seluas kira-kira 1500 meter persegi itu telah dipadati jemaah. Mereka duduk rapi, diantara tiang-tiang yang berderet. Seperti halnya mesjid Al Azhar, mesjid Zaytuna juga banyak tiangnya. Ada 15 tiang dari kiri ke kanan serta 10 tiang dari depan ke belakang. Oh, jadi, semuanya 150 tiang, pikirku spontan. Lantai mesjid ditutupi tikar biasa. Berwarna dasar kuning, tanpa banyak variasi hiasan. Polos, sederhana, tetapi bersih. Kenapa bukan karpet atau permadani saja yach.

Aku memilih tempat duduk di shaf depan dekat imam. Sengaja, biar tau, siapa sih imam salatnya. Di shaf depan itu, banyak orang tua berjubah dan berpeci merah khas Tunis. Wajah mereka bersih dan berwibawa. Mungkin mereka ini para syekhnya, pikirku. Tapi cuek saja ah, aku yang tanpa peci serta bercelana jeans lusuh duduk bersila di sebelah mereka. Di hadapan Allah khan semuanya sama.

Belum 2 menit aku duduk, para jemaah itu berdiri serentak, sambil berteriak Allahu Akbar. Kompak banget. Aku kaget. Aya naon yeuh. Oh, rupanya sudah iqamat. Kirain teh ada keributan, lalu mereka panik dan bersiap-siap bubar, hehehe... Aku ikut berdiri. Kalimat iqamat baru sampai lafadz hayyaalasalah, para jemaah sudah berdiri rapi. Sebuah tradisi yang sangat menarik dan pantas kita ikuti, hehehe..
Seorang syekh yang renta memimpin salat magrib kami. Usai Fatihah, ia membaca surat-surat pendek dengan nada bacaan yang cepat. Usai salat, para jemaah membaca wirid, salawat dan doa secara serentak, bersama-sama. Dipimpin seorang syekh yang agak muda. Aku jadi ingat tradisi wiridan di mesjid-mesjid NU di tanah air.

Usai salat sunat bakdiyah, para jemaah berkumpul di tengah. Hampir semua mereka membawa mushaf Alquran. Aku menduga ada pengajian. Ternyata benar. Seorang syekh berusia setenga baya duduk di kursi dikelilingi para jemaah yang duduk lesehan. Seperti suasana pengajian Syekh Mutawalli Sya’rawi yang kerap kulihat di TV Mesir dulu. Hampir semua jemaah ikut. Tak kurang dari 400an orang. Belum lagi para jemaah wanita di bagian belakang mesjid, terhalang tirai kayu.


Pelataran dalam Mesjid Zaytuna kala sepi

Malam itu, rupanya sang syekh mengajarkan ilmu tajwid. Mula-mula para jemaah membaca surat Thaha bersama-sama. Aku duduk merapat pada seorang pria muda yang memegang mushaf di sebelahku. Ia tanggap. Segera mushaf yang terbuka itu didekatkan kepadaku hingga aku bisa membacanya. Sekilas kulirik, mulutnya komat-kamit mengaji, pandangan matanya kemana-mana. Gile, dia hafal surat Thaha, bisik hatiku. Padahal dia ga ada tampang orang saleh, hehehe....
Selesai surat Thaha, bacaan berpindah ke surat Al Anbiya. Serentak dengan nada tinggi. Seperti orang Indonesia yasinan. Nah, bacaan surat al Anbiya ini sering dipotong oleh sang syekh yang duduk di kursi. Lalu ia membaca sendirian dan menyuruh jemaah mengulangi bacaannya. Satu ayat diulang bisa sampai 5 kali. Tergantung isyarat tangan sang syekh. Jika tajwidnya sudah ok, bacaan berpindah ke ayat berikutnya.

Dan ratusan jemaah itu, yang rata-rata berpakaian rapi dan berusia muda, manut saja dengan perintah sang syeh. Sesekali sang syekh menjelaskan tajwid bacaan itu, diselingi tafsir / penjelasan kandungan maknanya. Di bagian ini aku merasa tertarik. Selain sang syekh nampak piawai mengurai makna kandungan ayat, ia juga sangat menguasai detail teori-teori ilmu tajwid, pendapat ulama serta syair-syair kaidah tajwidnya. Jika ada hamzah di ujung mad wajib muttasil bertemu hamzah lagi, maka hamzah pertama itu boleh dibaca panjang. Pendapat ini dianut oleh ulama anu pada abad anu…Contohnya dalam ayat wal muhsonatu minannisaa iiiiiiii….illa maa malakat…tuturnya. Aku asyik menyimak. Kepalaku mengangguk-angguk. Sesekali sang syekh bercerita tentang ikhtilaf ulama tajwid dalam hukum bacaan Alquran. Nama syekh Abdul Wahab al Qurtubi, ulama ahli tajwid abad ke-5 hijirah sering disebutnya. Membuatku terharu. Subhanallah.. Aneka ikhtilaf ulama dalam ilmu tajwid, sungguh, baru kuketahui saat ini. Aku benar-benar kuper. Aku ingat ungkapan hikmah Imam Syafii. Semakin lama belajar, aku semakin menyadari kebodohanku. Ternyata ilmu Allah itu sangat luas. Aku kira, ikhtilaf ulama hanya dalam masalah fiqh dan ushul fiqh sajah, hehehe… jadi pengen malu

Aku terlarut dalam ceramah-ceramah sang syekh yang memikat. Sesekali diselingi bacaan Alquran bersama-sama. Beliau adalah Syekh Muhammad Mansour, salah satu ulama besar di Zaytuna, tutur lelaki di sebelahku kala kutanya mengenai nama sang syekh. Setiap magrib hari Kamis, Ahad dan Senin, beliau mengajar di sini, katanya lagi. Aku mengangguk-angguk. Tatapan mataku tak berpaling dari sang syekh yang asyik berceramah. Sesekali gelak tawa jemaah terdengar, mengiringi guyonan sang syekh. Aku merasakan suasana pesantren di Sukabumi dulu, kala kyaiku yang juga suka humor, mengajariku ilmu tajwid. Ah, kyai di Mesir, Tunis dan Sukabumi sama saja ; punya tradisi humor tinggi.

Para jemaah yang datang terlambat, berdatangan lalu duduk bergabung. Tak sedikit diantara mereka berstelan jas dan dasi. Mungkin baru pulang kerja. Dengan mushaf yang siap di tangan. Rupanya mereka sudah mengetahui jadwal pengajian ini.

Menjelang adzan isya berkumandang, pengajian berhenti. Sang syekh memimpin doa. Jemaah mengamini kompak. Bergemuruh. Aku meresapi setiap ungkapan doa yang keluar dari mulut sang syekh, lalu mengamininya sepenuh hati. Kala ia membaca doa ampunan untuk kedua orang tua serta memohon ilmu yang bermanfaat, aku memejamkan kedua mata yang mulai terasa hangat. Bathinku berbisik pasti. Ya Allah, Maha Pemilik Ilmu. Curahkan ilmu-Mu yang luas kepadaku. Sebagaimana ilmu yang telah Kau curahkan kepada beliau yang duduk di kursi itu. Dalam terpejam, aku semakin terlarut dalam kenikmatan berdoa. Juga dalam kerinduan akan kampung halaman dan ayah bunda. Di sebuah malam Jumat di Mesjid Zaytuna...

Salam Manis dari TunisJumat 9 Desember 2005

Monday, November 28, 2005

Makanan Tunis

Menikmati Kuskus di Kota Tunis

Beberapa hari sebelum terbang ke Tunis, aku bertemu Pak Muzammil Basyuni, Wakil Kepala Perwakilan RI di Mesir. “Setibanya di Tunis, pastikan Anda menikmati Kuskus, makanan khas Tunis“, pesan beliau. Aku hanya tersenyum “Insya Allah, Pak“, jawabku singkat tapi mantap. Sebagai bujangan yang hobi makan enak, aku sangat tertarik dengan pesannya yang satu ini. Pak Muzammil pernah bertugas di Tunis pada pertengahan dekade 1980-an. Wajar jika ia tahu makanan favorit Tunis.

Setibanya di Tunis pada tanggal 10 November 2005, aku tidak langsung mencari kuskus. Karena kesibukan, kuskus sempat terlupakan. Aku pergi kesana kemari, untuk urusan keimigrasian dan berkas-berkas studi. Baru pada senja Rabu (23/11) kemaren aku tiba-tiba ingat kuskus, makanan Tunis yang sejak lama aku angankan itu. Pukul 16an sore, usai mengikuti mata kuliah Pemikiran Islam Modern, perut terasa keroncongan, pikiran terasa lelah. Maklum, musim dingin begini, perut suka manja, tak mau dibiarkan kosong. Bersama dua orang mahasiswa senior, aku berjalan cepat meninggalkan kampus, menembus gerimis yang membasahi bumi Tunis. Dalam dua minggu terakhir ini, hujan turun hampir tiap sore di kota berpenduduk 1 juta jiwa ini.

Sore itu kami sepakat untuk menikmati kuskus. Saking semangat, aku melangkah mantap, tak peduli badan kebasahan. Setelah berjalan kira-kira 10 menitan, kami tiba di sebuah rumah makan kecil di tepi jalan raya, dekat kawasan kota lama (Old Tunis). Rumah makan penyedia kuskus yang terdekat dari kampus kami, Universitas Zaytuna.

Tak banyak orang sore itu. Dari 10 meja yang ada, hanya 3 terisi. Maklum, bukan jam makan. Sambil menunggu pesanan tiba, aku memandangi suasana rumah makan itu. Tak lebar-lebar amat. Tetapi bersih. Di setiap meja, tersedia panci air minum dan 4 buah gelas bersih. Beda dengan rumah makan murah di Mesir, satu meja hanya ada satu gelas. Tak peduli berapa orang yang duduk. Minum satu gelas bergiliran– meski dengan orang Mesir sekalipun, adalah hal yang lumrah.

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa makanan. Semangkuk besar makanan, terdiri dari kubis, kentang, wortel, mentimun, dan kacang lupia. Semuanya berbentuk irisan kecil dan direbus. Dicampur dengan gandum bubuk, lalu disirami kuah kental bersaos dan goreng cabe merah. Bumbu lainnya aku tak tahu. Merah warna kuah menyiratkan rasa yang pedas. Diatasnya ada sekerat besar daging kambing. “Inilah kuskus yang Anda cari-cari itu”, tutur sang kawan. Oya? Aku memandangi mangkok itu seraya menelan air liur.

Lalu pelayan datang lagi membawa beberapa potong roti tawar. “Untuk tambahannya, Anda bisa makan roti ini atau pesan goreng kentang” tutur sang kawan. Aku hanya mengangguk-angguk. Memandangi kuskus yang masih mengepul panas. Bagi yang tidak suka daging kambing, tersedia juga kuskus ayam. Potongan ayam rebusnya kira-kira seukuran kepalan tangan orang dewasa. Di Tunis, paket makanan ini dinamakan kuskus dajaj (kuskus ayam). Sedangkan kuskus kambing biasa disebut kuskus alusy. Harganya sama : 2,5 Dinar Tunis. Atau setara dengan 2,2 Dolar AS. Harga yang lumayan murah, masih bisa terjangkau oleh kantong mahasiswa seperti aku. Di restoran-restoran elit kota Tunis, harga kuskus bisa lebih mahal hingga dua kali lipatnya.

Kuskus semangkok besar itu kuaduk rata. Tapi kuahnya terasa kurang banyak. Seorang pelayan kuminta menambahi kuahnya. “Behi”, kata sang pelayan sembari bergerak cepat, memenuhi permintaanku. Behi adalah bahasa Arab Tunis, artinya oke atau baik. Semakna dengan kata masyi atau hadir dalam bahasa Arab Mesir.

Setelah panasnya berkurang, kuskus itu segera kucicipi. Oh, ternyata memang nikmat. Ada rasa gurih, sedikit pedas dan asin. Aroma manis tomat juga terdeteksi. Mirip Nano-Nano, rame rasanya…! Mataku berkedip-kedip, lidah menari-nari, hehehe... Aroma harum bumbunya membuat perutku semakin tak sabar meminta diisi. Tanpa banyak basa-basi, aku segera ‘menghabisi’ makanan yang terkenal seantero Tunis itu. Aroma saos yang sedikit pedas plus daging kambing rebus yang kulahap sore itu, semakin menghangatkan perut dan tubuhku yang baru saja kedinginan bermandi gerimis. Ternyata, kuskus sangat cocok dinikmati usai hujan-hujanan. Jika Anda tidak percaya atau penasaran dan ingin mencobanya, silahkan buktikan sendiri. Di kota Tunis, tentu…

Salam Manis dari Tunis
Jumat 25 Nopember 2005

Wednesday, October 26, 2005

Mesir, Aku Pamit

Papyrus

di Khan Khalili
aku mencari sebentuk hadiah
sebagai kenangan bahwa aku pernah singgah di kotamu,
Musa

tapi tidak kutemui selain kerdip lampu Mesjid Husein yang menandai hari berangkat malam
bau syisya merebak diantara ahwaji di pinggir jalan
besok lusa aku meninggalkan tepian tempatmu berlabuh di pangkuan Ramsis

bayang-bayang itu masih lekat dalam ingatan
setelah aku menyaksikan fragmen masa lalumu di Ragab Pharaoh Nil
kemaren sore diantara jazirah dari perahu yang membelah sungai Nil
dan bungkusan mummi yang membuat aku mual setelah bertandang di museum Tahrir.

aku inginkan sebentuk kenangan
bukan sekeping nostalgia diantara imarah berdebu dari ringkikan keledai
dan kereta barang yang bergerak membelah kota bersama mobil yang berpacu membelah jalan
bukan
bukan pula wajah masam madam sabah yang menagih kontrakan sya’ah
setiap habis bulan

aku inginkan kenangan yang manis
semanis anggur banati atau anggur rubbi mandanillu ataupun asab
di pinggir hadikah dauliyah, tempatku biasa minum
atau seperti rasa bar’uq sukkari yang senantiasa kusuka meski asam ada manis-manisnya.

tapi apakah lagi kenangan itu
di benteng Shalahudin al Ayubi, ketika musim panas tiba aku lihat penjaja hummus.
di puncak muqattam pun aku temui, terasa waktu dalam kurun yang purba
dengan jagung bakar di tangan lebih membuat aku tertarik menikmati matahari tenggelam bersama hamparan pasir di lembah kota
suara deram turummoi membawaku sampai ke sayyidah zeinab, mesjid tua itu
senantiasa membuat aku ingin singgah setiap saat
keinginan yang tidak pernah kesampaian
menuju Manial melewati Imbaba, selokan air yang menggantung tinggi membatasi penglihatan dari sedikit kuburan penduduk yang tertutupi tengah kota, mengalah pada bangunan baru funduq penampung turis berbintang lima sepanjang cornice.
Kahirah yang usang di waktu siang berubah jelita di waktu malam,
bertabur lampu mercuri dan gemerlap bintang-bintang malam

kusinggahi Uyun Musa di tepi laut merah dan terusan Suez
airnya membuat aku menggigil dan gemetar
sementara tanpa pepohonan matahari bebas memanggang kulitku
dan hembusan angin yang liar sepanjang jalan ke Fayyum
ketika kudatangi tunggul ketamakan Qarun di danaunya
serasa kudengar gemerincing kunci gudang hartanya
dihela beberapa kuda

apalagikah kenangan itu
lorong kecil di dalam pyramid dengan sedikit oksigen
membuat aku sesak hanya unutk melihat tempat peristirahatan para Firaun
kenapa begitu jauh kau gali tanah untuk menaruh sekerat ragamu
apa karena kau ingin keangkuhanmu abadi
dan dikenang sepanjang zaman

katakan padaku,
apa yang dapat kubawa pulang selain kenangan silam dari kota tua,
kota seribu menara ini

lonceng dan adzan bergema bergantin kadang bersamaan
penggembala domba bebas memasuki jalan
berjalan bergerombolan pergi pagi hari dan pulang jika matahari terbenam ke sebelah sahara
jauh dari penglihatan pasha-pasha yang butuh air susunya

alir-alir Nil di sela-sela kota
tepian yang menyimpan bunga air dan rumput-rumput

papyrus yang merebak tanpa kata
kupikir, biar kukemas saja
pada satu catatan di kertas lama
seperti pada purbanya ingatan
yang terlukis pada zaman yang kau lalui,
Musa
Fatin Hamama, Papyrus, Cairo, 1995

Monday, October 17, 2005

SSM 20 : Makanan Pedas

Orang Mesir Tak Suka Makanan Pedas
Pemandangan di salah satu restoran terapung di Sungai Nil
Setiap usai tarawih, pengurus Mesjid Indonesia Kairo menyediakan makanan khas Indonesia bagi para jemaah. Kadang berupa bakso, tekwan, mpe-mpe atau bahkan soto. Makanan ini dihidangkan di lapangan belakang mesjid.
Beberapa kali saya memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan makanan Indonesia kepada para murid kursus Bahasa Indonesia. Agar para murid juga bisa berbincang santai dengan para jemaah, untuk memperlancar kemampuan bahasa mereka.
Lokasi belajar kami masih satu gedung dengan mesjid Indonesia. Mesjid di lantai dasar, kelas kami di lantai atasnya. Sedangkan jadwal belajar selama Ramadan adalah usai salat Isya hingga menjelang jam 21. Jadi, kami selesai belajar kala para jemaah tarawih sedang bersiap-siap untuk menikmati hidangan.
Ahad malam pekan lalu, menu yang dihidangkan adalah bakso. Empat orang muridku nampak sangat lahap.Gurunya jadi ikut-ikutan, hehe.. “Bakso ini enak. Saya cinta bakso”, tutur Eyad, salah seorang murid yang sehari-harinya bekerja sebagai guru fitness dan bela diri. Eyad benar. Bakso malam itu memang terasa gurih dan nikmat.
Malam tadi, keempat muridku kembali kuajak turun ke lapangan. Usai belajar, tentu. Tareq, yang sejak di kelas sudah gelisah ingin segera ke lapangan, bertanya kepada saya. “Makan apa sekarang? Saya mau bakso lagi”. Saya hanya tersenyum simpul.
Dengan langkah pasti dan penuh semangat, kami berlima berjalan menuju lapangan belakang. Oh, rupanya menu kali ini adalah mpe-mpe, makanan favorit saya. “Apa ini?!” tanya Ibrahim, seorang murid bertubuh besar, kala ia menerima semangkok mpe-mpe dari tangan saya. Maka mulut saya pun nyerocos bercerita soal mpe-mpe kepada para murid. Beberapa orang jemaah yang ada di sekitar kami nampak tersenyum. “Silahkan makan. Ini sangat enak”, tuturku mantap, sambil mengacungkan jempol, mengakhiri ceritaku soal mpe-mpe. Spontan para murid melahap makanan khas Palembang itu.
Belum setengah menit kami mulai makan, Ibrahim tiba-tiba mengaduh. Mangkok mpe-mpe ia letakkan di meja. Lalu ia berdiri mencari minuman. “Pak Guru, makanan ini tidak bagus. Tidak bagus”, kata dia sambil nyengir. Matanya berkedip-kedip. Saya kaget. “Kamu kenapa Ibrahim?”. Belum sirna kekagetan saya, tiba-tiba ketiga murid yang lain melakukan hal yang sama. Beranjak dari kursi seraya meletakkan mangkok di meja. Muka mereka menyeringai. Mulut mereka terbuka. Hah, hah, hah. Ya salam, rupanya mereka kepedasan. Saya lupa, kuah mpe-mpe itu sedikit pedas. Dan orang Mesir itu memang tak suka rasa pedas. Kecuali dalam takaran yang sangat minim.
Keempat muridku sibuk minum air putih. Empat mangkok mpe-mpe itu dibiarkan di meja. Isinya masih utuh. Aku hanya tersenyum simpul. Dasar orang Mesir. Makanan senikmat ini diabaikan hanya karena sedikit pedas. Gimana kalau dikasih sambel goang ala Pasundan atau menu masakan Padang..?!
Saya jadi teringat kisah Vivian, seorang murid lain yang pernah tinggal di Bandung pada bulan Juli 2003. Usai kursus di KBRI Kairo, gadis Mesir berusia 27an tahun ini pergi ke Bandung, untuk memperlancar bahasa Indonesianya. Sekalian pelesiran di kota kembang. Kala berangkat meninggalkan Kairo, ia begitu mantap berencana tinggal setidaknya 3 bulan. Eh, ternyata, ia hanya sanggup bertahan 1 bulan. “Makanan di Bandung semua pedas.. huh hah, huh hah... Saya sakit perut setiap hari”, kata dia penuh ekspresi. Saya hanya tertawa terpingkal-pingkal.
Begitulah orang Mesir ; tidak bisa mengkonsumsi makanan pedas. Hingga bisa dipastikan, semua makanan khas Mesir tidak beraroma pedas. Tursi, jenis makanan pelengkap – terdiri dari bahan sayuran seperti wortel, mentimun - yang sangat populer di Mesir, memang ada cabenya. Tetapi aroma pedasnya hilang karena pengaruh cara memasak. Pun juga salatah, sambal-nya orang Mesir. Rasa cabenya nyaris tak ada. Di restoran internasional semisal KFC, Hardees atau Pizza, saus-nya juga tidak terasa pedas. Masih lebih dominan saus manis rasa tomat.
Kusyari dan makaruna, dua jenis makanan murah yang kerap saya konsumsi kadang dicampuri bumbu beraroma pedas. Bumbu cair itu memang berwarna merah, hingga nampak seperti sambal yang pedas, bikin mulut bersuara huh ha huh hah.. serta mata berair. Tapi ternyata, pedasnya tak ada apa-apanya jika dibanding dengan selera orang Indonesia kebanyakan.
Bumbu makanan orang Mesir lebih kentara aroma bawangnya. Irisan bawang mentah disertakan dengan sayuran segar lainnya, biasa kita jumpai dalam menu-menu masakan khas Mesir.
Daripada rasa pedas, orang Mesir lebih suka rasa asin. Jika mereka bikin kue, rasa manisnya sangat terasa. Giung, kalo kata orang Sunda. Makanan beraroma pahit juga dikonsumsi orang Mesir. Seperti buah zaytun. Ada juga makanan yang dimasak tanpa aroma apapun. Seperti daging, yang kerap dimasak tanpa bumbu. Direbus begitu saja. Maka rasanya pun tawar. Rupanya, bagi orang Mesir, daripada pedas mendingan tawar tanpa rasa apa-apa.

Pinggiran Nil, 17 Oktober 2005

Wednesday, September 28, 2005

SSM 19 : Syekh Al Azhar

Dilema Sang Kyai

Mesjid dan Universitas Al Azhar dilihat dari udara

Tujuh September 2005 lalu, Mesir menggelar Pemilu Presiden secara langsung. Hasilnya, Mubarak terpilih lagi untuk masa jabatan enam tahun ke depan.

Dari Pemilu ini, saya sempat memperhatikan sebuah fenomena yang cukup menarik ; kekecewaan sebagian kalangan muslim Mesir atas keberpihakan Grand Syekh Al Azhar, Dr. Sayyed Tantawi kepada Mubarak. Keberpihakan yang dinilai berlebihan. Beberapa media cetak yang terbit selama musim Pemilu mengkritik sikap Tantawi. Tantawi, yang menjadi Grand Syekh Al Azhar sejak 1996 ini dituduh melakukan serangkaian upaya koordinasi dengan Menteri Wakaf (Menag-nya Mesir) Dr. Hamdi Zaqzuq, untuk memastikan dukungan para da’i dan imam mesjid terhadap Mubarak. Mingguan kritis Al Usbu menulis “Tantawi telah menggunakan atribut keagamaan semisal mesjid untuk kepentingan politik ; sebuah sikap yang menyalahi Islam”.

Sejak Tantawi menduduki posisi Grand Syekh Al Azhar, hubungan antara lembaga Al Azhar dan penguasa memang penuh kemesraan. Sederet kebijakan pemerintah didukung penuh oleh Tantawi, meski terkadang Tantawi terkesan jalan sendiri. Meski Tantawi harus menentang arus kebanyakan ulama Al Azhar lain atau bahkan publik Mesir. Meski Tantawi –kayaknya – harus melewati dilema-dilema batin yang berat.

Seperti yang terjadi pada bulan November 2002, kala Tantawi berfatwa bahwa bunga bank tidak termasuk kategori riba yang diharamkan. Penentuan laba (bunga) bagi investor di awal akad dianggap tak menyalahi syariat, selama dilakukan atas prinsip ridha. “Sejak saat ini, berurusan dengan bank konvensional atau bank Islam, hukumnya sama saja, tidak ada bedanya. Karena bunga bank itu hukumnya halal, halal dan halal”, ujar Tantawi. Spontan, pro kontra mengemuka, meggoncang publik Mesir. Foto sang syekh menghiasi koran-koran Mesir.

Majalah mingguan terkemuka Kairo Rouz el Youssef menjadikan isu ini sebagai laporan utama beruntun selama beberapa edisi. Mingguan bergengsi terbitan Dubai al Iqtishad al Islami menurunkan edisi khusus akhir 2002 dengan bahasan utama tentang polemik bunga bank. Kutipan para tokoh ulama negara-negara Arab dilampirkan, semuanya bernada sama ; memprotes fatwa Tantawi. Para ulama Syiah di Iran mengkategorikan Tantawi sebagai ulama duniawi. Al Azhar dinilai tak konsisten. Karena tahun 1965, Al Azhar bersama Lembaga Fiqh Jeddah, Lembaga Fiqh Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan Lembaga Fiqh Washington, secara tegas menyatakan keharaman bunga bank.

Para ulama menuduh fatwa Tantawi sebagai ‘pesanan’ pemerintah. Untuk mendongkrak kepercayaan publik terhadap bank konvensional di Mesir. Maklum, kala itu Mesir mulai dilanda kesulitan ekonomi. Nilai tukar uang Mesir terhadap Dollar AS melemah.

Tantawi memang dikecam, tetapi fatwanya diikuti orang. Dipoyok dilebok, kata orang Sunda. Imbas fatwa itu, orang Mesir berduyun-duyun menabung di bank konvensional. “Jumlah deposito para nasabah di bank kami saat ini meningkat hingga 20 persen, terutama dalam sebulan terakhir”, ujar Hassan Abdul Aziz, Wakil Direktur Bank Al Ahli Al Misr Al Watani, salah satu bank resmi pemerintah Mesir.

Selain dalam kasus fatwa bunga bank, Tantawi juga dikritik para aktifis muslim militan berkaitan dengan fatwanya bahwa aksi bom bunuh diri seorang warga Palestina di tengah kerumunan warga sipil Israel bukanlah kategori bom syahid. Juga aksi pembunuhan pada orang sipil Amerika yang ada di Irak. “Itu bertentangan dengan HAM”, tutur Tantawi kala itu. Tantawi yang tidak setuju adanya aksi-aksi demonstrasi dukungan Palestina / Irak usai Jumat di Al Azhar, juga tak bersikap atas kasus pelecehan Alquran di penjara Guantanamo. Sewaktu masih menjabat sebagai dosen biasa, Tantawi tergolong kritis terhadap pemerintah. Publik menilai, Tantawi kini berbeda dengan Tantawi yang dulu. Kini ia sering mengikuti bisikan penguasa. “Kau bukan dirimu lagi”, mungkin begitu penilaian mereka.

Kala Amerika menyerang Irak, publik muslim Mesir menyatakan dukungan terhadap perjuangan muslim Irak melalui demonstrasi dan doa bersama. Pada bulan September 2003, seorang anggota Komisi Fatwa ulama Azhar, Syekh Muhammad Nabawi al 'Eish, mengeluarkan fatwa yang menyatakan keharaman hubungan diplomasi negeri muslim dengan pemerintahan transisi Irak bentukan AS. “Hubungan apapun dengan majelis ini, merupakan bentuk hubungan dengan musuh Allah", tutur al Eish.

Rupa-rupanya, pihak AS merasa terganggu dengan fatwa ini. Dua hari setelah fatwa itu dikeluarkan, Dubes AS di Kairo, David Willis, mendatangi Grand Syekh Al Azhar, Dr Sayyid Tantawi, seraya meminta Azhar meralat fatwa ini. Syekh Eish, ulama Azhar yang mengeluarkan fatwa ini, juga diminta dihentikan dari keanggotaan Dewan Ulama al Azhar.

Tantawi mendengarkan bisikan Willis. Dukungan masyarakat Mesir dan dunia Islam atas fatwa itu ia abaikan. Tantawi segera mengklarifikasi fatwa itu, seraya menganggapnya tak pernah ada. Reaksi publik pun mencuat. Sejumlah koran yang saya baca mengecam Tantawi, yang telah memilih suara orang Amerika ketimbang para ulama. "Kini semakin terbukti, siapa sebenarnya Tantawi. Ia tak lebih dari seorang ulama pro-penguasa", demikian tulis mingguan Afaq Arabiyah, salah satu corong gerakan Ikhwanul Muslimin.

Awal 2004 lalu, sikap Tantawi yang mendukung larangan berjilbab di Perancis juga menuai kritik luas. "Muslimah yang tinggal di negeri non muslim, boleh menaati aturan negeri setempat karena alasan darurat. Pemerintah Perancis punya hak untuk menerapkan aturan negerinya sendiri. Kita umat Islam, tidak boleh melakukan intervensi apapun atas Perancis", tandas Tantawi kepada pers, usai menerima Nikolas Sarkozi, Menteri Dalam Negeri Perancis, yang sengaja datang jauh-jauh ke Kairo untuk mencari dukungan Al Azhar. Mingguan beroplah tinggi, Al Usbu, menghujat Tantawi habis-habisan, dalam 7 halaman laporan utamanya. Judul-judul artikel yang ditulis koran oposisi ini adalah “Pecatlah Dia”, “Ini Dia, Imam Akbar Kita”, “Syekh Al Azhar tak pantas berfatwa”, dan “Gereja menolak sikap Perancis, Tantawi Malah Dukung”. Al Usbu juga menyertakan kutipan langsung beberapa ulama kharismatik Mesir semisal Nasr Farid Washil (Mufti Lama), Omar Hashem (Mantan Rektor), dan Ali Jumah (Mufti Negara). Semuanya bernada sama ; mengkritik fatwa Tantawi.

Dalam berbagai kesempatan, Tantawi selalu mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian, agama yang luwes dan moderat. Sejak tragedi 11 September 2001, Tantawi sangat sibuk menyuarakan propaganda Islam agama anti terorisme. Berbagai seminar digelar Al Azhar, buku-buku diterbitkan, semuanya berisi kampanye Islam anti Terorisme. Kampanye 'Tajdid Khitab Dini" (Pembaharuan Wacana Keagamaan), pun serempak disuarakan para ulama. Tulisan berantainya Hadza Huwa al Islam di harian Al Ahram setiap Kamis dalam 3 tahun terakhir menyiratkan pola pandangnya yang moderat.

Sekelompok ulama Mesir yang berfikiran maju, kerap mendukung gagasan-gagasan moderat Tantawi. Tetapi, kalangan ulama lain, tak segan-segan mengkritiknya. Ia dianggap terlalu pro penguasa. "Dalam sejarahnya, baru sekarang-lah Al Azhar, tak lagi berwibawa di depan pemerintah", tulis seorang pengkritiknya di mingguan Al Usbu', dua tahun lalu. Belakangan, ia dituduh mau mengembangkan sebuah madzhab pemikiran keislaman baru, yang pro Barat (AS), atas nama humanisme, demokrasi dan HAM.

Begitulah, beberapa cerita tentang fatwa-fatwa Grand Syekh Al Azhar sekarang, Sayyed Tantawi, sosok yang saya kagumi. Saya membayangkan betapa beratnya tugas Tantawi. Ia ditentang, dikecam, tetapi dikagumi orang. Bagaimana ia dihadapkan pada dilema-dilema dan kebimbangan dalam bersikap, demi kemaslahatan umat yang lebih luas.

Sejak lama saya mengagumi Tantawi. Saya sangat senang pernah dua kali bersalaman dengannya. Semoga ilmunya bisa menular kepada saya, hehe.. Rentang tahun 2002-2003 saya kerap menyempatkan diri salat Jumat secara rutin di Mesjid Al Azhar, hanya karena ingin mendengarkan ceramah-ceramah Jumat Tantawi. Isi khutbahnya berbobot, selalu merespon isu-isu kontemporer yang sedang trend, dibasahi dengan dalil-dalil Alquran. Alur logikanya rapi, analisanya menarik, tutur katanya lembut tetapi memikat. Lama waktu ceramah 40an menit terasa singkat.

Saya selalu husnudhan, bahwa Grand Syekh Al Azhar era sekarang memang harus bersikap seperti Tantawi. Di era Tantawi, Al Azhar mampu menampilkan Islam yang ramah dan damai, Islam yang rahmatan lil’alamin. Andai saja pemikiran sang syekh sangat kaku, konservatif, tidak moderat, tertutup dari perubahan, mungkin sejak lama Mesir dan Al Azhar menjadi musuh Amerika. Tentu sejak lama Al Azhar mendapat stempel sarang teroris. Mungkin intervensi AS terhadap Mesir akan semakin jauh, hingga menyentuh persoalan keagamaan yang lebih sensitif. Maka para santri Indonesia di Al Azhar takkan nyaman belajar. Mungkin jumlah mahasiswa Indonesia di Al Azhar takkan sampai 4000 orang seperti sekarang. Terakhir, jika Grand Syekhnya bukan Tantawi, mungkin tulisan yang Anda baca ini takkan pernah ada, hehehe....

Pinggiran Nil, 28 September 2005

Tuesday, September 06, 2005

SSM 18 : Imam Syafii

Suci Dalam Debu*


Aku (kemeja biru) di depan makam Imam Syafii, awal Mei 2004. Di tiang marmer putih itu, sang Imam sering bersandar kala mengajar..

'Engkau bagai air yang jernih, di dalam berkas yang berdebu....'

Untaian syair lagu milik grup Iklim yang sempat populer di awal dekade 1990-an itu, kayaknya cocok sekali untuk menggambarkan suasana di sekitar makam Imam Syafi'i, di pinggir selatan kota Kairo. Makam Imam Syafi'i, laksana air jernih, di tengah-tengah lingkungan kumuh (berkas berdebu).

Hari itu, 10 November 2001. Baru tiga hari aku di Mesir. Di depan mesjid Imam Syafi'i, di kawasan Islamic Cairo, aku tertegun heran. Lingkungan sekitar mesjid benar-benar semrawut. Sampah-sampah berserakan, tahi himar (sejenis keledai) 'terkapar' dimana-mana. Bangunan-bangunan butut yang ngga teratur itu, mengelilingi mesjid. Orang-orangnya juga, nampak kotor. Warna pakaian mereka, sudah ngga jelas. "Kumuh", begitu komentarku.

Jalan beraspal selebar 3 meter menuju mesjid, sepanjang 300 meteran, juga nampak tak terurus. Genangan air kotor, bahkan lumpur, mewarnai jalan. Ada sebuah pasar tradisional yang kujumpai di salah satu bagian jalan itu. Ngga usah diceritakan gimana suasananya, pokoknya kotor. Di Mesir ini, debu jadi pemandangan biasa. Jika ada angin menerpa, kita mesti siap menutup mata dan hidung. Pokoknya, kesemrawutannya la tarsumuha al alfadz..sulit dilukiskan dengan kata-kata...

Kawan-kawan, makam Imam Syafii terletak di dalam sebuah mesjid, di kawasan pinggiran kota Kairo, ditempuh selama kira-kira 30 menit dari pusat kota. Kawasan itu kini dikenal dengan kampung Imam Syafii. Kalo naik bis, cukup dengan ongkos 0,5 Pound (kurang dari 1000 rupiah). Mesjidnya sendiri, berukuran besar, berwarna usang dengan arsitek lama. Halamannya tidak terlalu luas, dikelilingi pagar tembok. Di puncak kubahnya ada arca kecil berbentuk perahu.

Setiap harinya, ratusan orang, berziarah ke makam imam madzhab yang wafat tahun 205 H itu. Dari sekedar yang baca doa, baca Quran, hingga yang meratap, menangis terisak, sambil memegangi tembok pusaranya. Tentang persoalan ini, pernah dikritik oleh sebuah majalah mingguan Kairo, Roz el Youssef, edisi Nopember 2002 lalu. Model ziarah seperti itu, curhat di depan makam seorang ulama besar, memang berpotensi menyeret pelakunya ke prilaku musyrik, menganggap bahwa sang ulama bisa memberikan manfaat atau madharrat bagi kita yang hidup.

Aku sendiri, sebagai seorang muslim, juga selalu berhati-hati dalam berziarah, jangan sampai niat dalam hati melenceng. Akan tetapi, sesampainya di depan makam Syafi'i, semua tekad tadi nyaris hilang. Yang ada adalah perasaan syahdu, terpana, seolah tak percaya, bahwa saat ini aku sedang berada di depan makam ulama berpengaruh, yang dulu hanya namanya, yang sering kudengar.

Sekitar 300 meter dari mesjid Syafi'i, ada sebuah makam seorang sahabat Nabi terkenal, Abu Dzar Al Ghiffari r.a. Makam beliau tidak berada dalam sebuah mesjid, melainkan di pinggir jalan sempit beraspal, tanpa bangunan apapun di sekitarnya. Mirip dengan makam-makam di Indonesia, berukuran sekitar 2 x 1 meter, dengan tembok biasa.

Dari makam sahabat ini, biasanya para peziarah langsung menuju makam tokoh wanita sufi terkenal, Rab'ah Al Adawiyah, yang berdampingan dengan makam Dzun Nun Al Mishry. Kedua tokoh ini, dikenal sebagai sufi besar dalam dunia Islam. Lokasinya sekitar 200 meter dari makam Abu Dzar.

Seperti halnya makam Abu Dzar, makam mereka juga tidak berada dalam mesjid, hanya saja , berada dalam sebuah bangunan kecil, ukuran kira-kira 4x4 meter. Seorang ibu tua pemilik warung pinggir jalan kumuh, adalah juru kuncinya. Yang memprihatinkan, adalah rute menuju makam para wali suci ini, melewati jalan berkelok-kelok, gang sempit, diantara komplek perumahan orang Mesir pinggiran yang amat kotor. Persis beberapa meter sebelum makam, kita mesti melewati gang sempit,yang kotornya...na'udzubillah. Sepanjang gang, ada kandang itik, di tepian dapur orang Mesir. Saat lewat ke sana, aku terpaksa menutup hidung saking harum aromanya. Bagian bawah celana pun terpaksa 'dilinting' ke atas, kayak orang yang takut kebanjiran, agar ngga kena lumpur.

Suci dalam debu. Sekali lagi, kalimat ini cocok untuk menggambarkan posisi beberapa makam ulama besar di pinggiran kota Kairo. Ironis memang. Peristirahatan orang-orang yang (dianggap) suci, dikelilingi aneka kotoran.

Makam Syekh Jalaludin As Shuyuti, ulama besar pengarang tafsir Al Jalalain, juga bernasib serupa. Lingkungan sekitarnya, nampak tak rapi. Untuk menuju kesana, kita mesti berjalan perlahan, mengendap-endap, tanah nafas, apalagi bersin, persis orang mengintip wanita sedang mandi, takut ketauan hansip. Soalnya, komplek pemakamannya yang terletak di kawasan Sayyidah Aisyah ini, dihuni banyak anjing galak yang suka menyalak.

Cerita ini bukan basa basi. Seorang kawan mahasiswa s2 , nyaris digigit anjing, setelah selama beberapa menit di kejar-kejar anjing 'geng' kuburan. Untung saja, ia berlari ke arah rumah bawwab (penjaga kuburan) yang orang Mesir. "Sialan, si Mesir itu malah ketawa terbahak-bahak", kata sang kawan berkisah. Ia memang selamat dari gigitan rabies itu, karena keburu dijinakkan oleh sang bawwab. Rupanya, penjaga kubur di sana juga berprofesi ganda, sekaligus pawang anjing galak.

Pemakaman yang berfungsi sebagai markas anjing galak juga bisa kita temui di komplek pemakaman tempat Syekh Athoillah (pengarang kitab tasawuf terkenal, Al Hikam) dimakamkan. Tak jauh dari kawasan Sayeda Aisha. Menuju kesana, kita mesti hati-hati. Anjing-anjing dengan raut muka tak bersahabat kerap menyambut kedatangan kita, sejak di gerbang pemakaman.

Suci dalam debu. Makam orang-orang suci, dikelilingi suasana tak rapi. Tidak usah kaget dengan suasana pemakaman Mesir seperti itu. Kotor, atau disambut anjing galak. Dulu, aku sempat malas berziarah, ya karena anjing-anjing itu. Tapi kini, setelah sekian lama, aku baru faham, bahwa di balik semua itu terkandung hikmah yang besar. Sesuatu akan terasa lebih bermakna, ketika didapat dengan susah payah. Sebuah keindahan akan lebih mengesankan jika diawali oleh perjuangan.

Kenikmatan spritual, bermunajat kepada Allah di depan makam orang-orang suci, terasa sangat syahdu, setelah melewati jalan yang kumuh, debu-debu kotor, atau berjalan dalam bayang-bayang gonggongan anjing galak. Bisa Anda buktikan nanti kalo ke Mesir. Insya Allah.

Pinggiran Nil, awal Desember 2002

* Hanya sebuah catatan lama.. Kini, suasana mesjid dan makam Syafii, tak seseram cerita ini..

Monday, July 25, 2005

SSM 17 : Bakso di Kairo

Di Kairo Juga Ada Bakso

Kendati jauh dari tanah air, masyarakat Indonesia di Kairo tetap akrab dengan aneka makanan khas Indonesia. Bakso, tekwan, mie ayam, sate, pecel lele atau empe-empe, sangat mudah ditemui di warung-warung makanan Indonesia.

Di Nasr City, kawasan tinggal sebagian besar mahasiswa Indonesia, ada sekitar 10 Rumah Makan (RM) penyedia makanan khas Asia/Indonesia. Sebuah RM di kawasan Gamie malah khusus menyajikan masakan Padang. Diantara yang 10 itu, ada juga RM milik warga Malaysia dan Thailand yang menyajikan makanan khas mereka semisal tomyam atau berbagai jenis nasi goreng.

Acara bazaar yang menampilkan aneka makanan khas Indonesia juga kerap digelar, mengiringi sebuah acara resmi. Seperti bazaar makanan yang saya saksikan Jumat siang tadi. Tak kurang dari 10 stand makanan Indonesia menempati pojok-pojok lapangan belakang Mesjid Indonesia Kairo (MIK), di Dokki, sebuah kawasan elit Kairo. Setiap meja stand dipasangi merk nama makanan. Ada sate, bakso, pecel lele, batagor dan empe-empe. Juga ada stand yang menjual bumbu dapur atau obat-obatan buatan Indonesia.

Usai salat Jumat, kira-kira seratusan orang Indonesia mengerubuti stand-stand makanan itu. Tentu untuk membeli serta menikmati makanannya. Lapangan seluas 70an meter persegi itu pun menjadi sesak. Mereka terdiri dari keluarga pegawai KBRI dan mahasiswa.

Harga masing-masing menu makanan juga bervariasi. Satu porsi empe-empe, mie ayam atau bakso, rata-rata dijual seharga 4 – 5 Pound (Rp 6000 – Rp 7500). Sedangkan pecel lele dijual 8,5 Pound (Rp 12 ribu). Tentu ini sudah lengkap dengan nasi, sambal dan lalapannya.
Siapakah pembuat aneka makanan khas itu ?! Jawabannya, para mahasiswa, tentu. Kreatifitas kawan-kawan mahasiswa dalam hal yang satu ini memang layak dihargai. Saya mengenal beberapa kawan yang biasa membuat tahu-tempe atau ikan asin, lalu dijajakan dari rumah ke rumah atau ditampilkan di acara-acara bazaar tadi. Untuk konsumen orang satu negeri, tentu. Satu kantong kemasan kecil ikan asin biasanya dijual sekitar 3 Pound. Harga itu bisa lebih tinggi jika dijual kepada keluarga pegawai KBRI.

Musim panas tahun lalu saya juga pernah nyoba bikin ikan asin. Tidak banyak, karena hanya untuk konsumsi sendiri, not for sale, alias bukan untuk dijual. Caranya memang mudah. Ikan segar yang sudah dibersihkan, direndam satu malam, dicampuri garam agak banyak dan sedikit cuka. Lalu, ikan itu dijemur selama 3-4 hari hingga benar-benar kering.

Dua-tiga kawan yang tinggal di asrama, memanfaatkan lahan kosong depan asrama, untuk ditanami kangkung dan bayam. Sayang sekali, tumbuhan ini hanya hidup selama musim panas saja, yakni antara Juni hingga September. Seperti halnya tahu-tempe dan ikan asin, kangkung dan bayam ini juga dijajakan dari rumah ke rumah.

Hasil penjualan dari usaha sendiri ini lumayan, bisa menambah-nambah uang saku. Maklum, beasiswa yang diterima sangat minim. Ternyata, kreatifitas terbentuk secara sempurna tatkala seseorang dihadapkan pada tuntutan kebutuhan.
Beberapa tamu pejabat dari Jakarta yang pernah saya temani jalan-jalan, mengaku kaget karena ternyata di Kairo juga ada bakso. Safder Yusacc dan Mulyana Kusuma, dua orang fungsionaris KPU pernah kami suguhi bakso kala bersilaturahmi ke sekretariat mahasiswa Jawa Barat di Kairo. Kekagetan yang sama juga diungkapkan oleh Profesor Hidayat, Guru Besar Sastra Arab UIN Jakarta kala berkunjung kesekretariat yang sama, akhir 2003 lalu..

Jika para mahasiswa bikin acara semisal syukuran kelulusan ujian, selamatan/doa perpisahan mau pulang atau sekedar kumpul-kumpul dadakan, maka bakso atau mie ayam biasanya menjadi menu suguhan utama. Terkadang modalnya saweran, lalu bikinnya pun bareng-bareng..Makannya..?! Tentu bareng-bareng juga, donk....

Pinggiran Nil, 22 Juli 2005

Saturday, June 25, 2005

Gamelan Betawi

Gamelan Sunda Irama Betawi....?! Why Not...!


Grup gamelan kami sudah biasa membawakan lagu-lagu dangdut Melayu, Arab, Inggeris, bahkan pernah lagu Turki. Semuanya terasa mudah. Tetapi, di acara resepsi pernikahan sebuah keluarga KBRI Kairo Rabu sore 22 Juni 2005 lalu, kami merasa kesulitan ; membawakan lagu-lagu Betawi karya Benyamin Subur alias Bang Ben.

Kami punya kesempatan 3 kali latihan, dalam dua minggu. Maklum, para kru gamelan (nayagan) masih pada sibuk ujian. Permintaan panitia, kami membawakan lagu-lagu Benyamin, diantaranya berjudul 17 tahun, Ntu Siape yang punye, Gerimis dan Sang Bango.. Untunglah, beberapa lagu itu akrab di telingaku, karena sewaktu di Ciputat dulu, aku pendengar setia Ben’s Radio, sebuah radio swasta yang sangat konsisten dengan tradisi dan kebudayaan Betawi. Dan di panggung nanti, tentu kami harus pandai-pandai menyesuaikan nada gamelan yang pentatonis, untuk mengikuti lirik lagu-lagu Benyamin yang Betawi-nya kental banget itu.

Rabu sore itu, resepsi pernikahan digelar dengan tradisi Betawi. Pengantin diiringi musik marawis –grup musik tradisi yang menggunakan rebana, sambil bawa roti buaya, yang sengaja didatangkan dari Jakarta. Beberapa kawan mahasiswa Keluarga Pelajar Jakarta (KPJ) berpakaian adat, berjalan mengiringi pengantin. Sore itu, lapangan parkir KBRI seluas 400an meter persegi itu dihias sedemikian rupa. Ada bunga-bunga kertas, serta lampu warna-warni. Kebetulan malam itu langit cerah, udaranya ga terlalu panas. Romantis abis pokoknya. Ada dua panggung cantik, satu untuk pengantin dan keluarga, satu lagi panggung hiburan.

Grup gamelan kami tampil usai magrib hingga adzan isya. Lima lagu Bang Ben adalah suguhan utama kami. Lagu Betawi terkenal Jali-Jali kami mainkan secara kolaborasi Gamelan-Marawis. Alhamdulillah, lancar. Sepasang suami isteri asal Jakarta menjadi penyanyi. Sengaja kami pilih, biar pas mengucapkan komentar-komentar polos khas Benyamin. Tiga ratusan hadirin – kebanyakan mahasiswa Jakarta dan keluarga besar KBRI – dibikin ger-geran serta berdecak kagum. Malam itu, seolah telah disulap menjadi malam budaya Betawi. Kebetulan banget, bersamaan dengan HUT Kota Jakarta ke-478.

Beberapa lagu dangdut melayu juga kami suguhkan. Seperti biasanya, para hadirin dipersilahkan melantai. Pada pentas yang ke-27 ini, grup kami mendapat tepukan tangan yang meriah dari penonton. Sewaktu lagu dangdut lawas Memori Daun Pisang kami mainkan, beberapa tamu orang Mesir ikut berjoged dangdut.. Tapi tentu ngga ngebor, hehehe..

Dalam mengiringi lagu-lagu Betawi, melodi tak lagi menjadi tugas saron, alat musik gamelan yang biasa kupegang. Kebetulan, suaranya ga pas. Sebagai gantinya, kami memakai bonang, alat musik gamelan lain yang suaranya sedikit adem. Untunglah, Uyan, pemain bonang jempolan asal Sumedang, dengan mudah menghafalkan irama lagu-lagu itu.

Kedua mempelai yang duduk menghadap hadirin , kerap tersenyum malu, atau bahkan ketawa terpingkal-pingkal, akibat sindiran konyol syair-syair grup marawis, atau lagu-lagu yang kami bawakan. Tetapi, rasa haru dan kebanggaan yang tak terkira, mungkin sangat mereka rasakan saat itu. Tatkala suasana Betawi – ritual adat, pakaian serta iringan musik tradisional - dapat dihadirkan dalam prosesi pernikahan mereka, kendati berlangsung di Kairo, nun jauh di sana.

Kala malam semakin larut, hadirin pun ikut terlarut dalam dendang lagu-lagu Betawi yang kami suguhkan. Eh hujan gerimis aje, ikan teri diasinin.... e jangan menangis aje, yang pergi jangan ditangisin...

Pinggiran Nil, 23 Juni 2005




Sunday, May 22, 2005

SSM 16 : Qari Bersuara Merdu

Laki-Laki Bersuara Merdu

Pukul setengah satu tepat, kala aku memasuki gerbang mesjid Husein, Kairo, Jumat (13/5) pekan lalu. “..Lumayan, masih setengah jam lagi ke adzan..”, pikirku. Ruangan dalam mesjid nampak sudah padat jemaah. Mereka yang duduk dekat mihrab, rata-rata tunduk terpekur. Sebagian lagi kayaknya ngantuk. Tetapi, lantunan merdu ayat Al Quran yang dikumandangkan secara live oleh seorang qari berjubah hitam di dekat mihrab itu, tak mungkin lolos dari pendengaran. Kecuali mereka yang tuli, hehe...

Siang itu aku sengaja cari tempat duduk agak dekat ke imam. Biar bisa menikmati lantunan ayat suci itu lebih jelas lagi. Biar bisa meresapi makna ayat-ayat yang dikumandangkan. Karena memang sebenarnya ini yang kucari dari Jumat siang ini. Aku ingin menikmati indahnya tilawah, beberapa saat sebelum Jumat. Aku rindu bacaan Al Quran secara langsung dari seorang qari bersuara merdu.

Lantunan ayat suci sebelum shalat Jumat, bagiku, menjadi salah satu daya tarik shalat Jumat di mesjid-mesjid kota Kairo. Terutama di mesjid-mesjid tua peninggalan dinasti Fathimiyah, penguasa Mesir abad 10 Masehi. Seperti mesjid Husein, Al Azhar, Sayedah Zenab, Sayeda Nafisah, Amr bin Ash atau yang lainnya. Jika jumatan di sana, aku selalu berusaha datang lebih awal, agar bisa duduk terpekur selama kira-kira 30 menitan, menikmati lantunan ayat suci Al Quran itu. Dalam diam, aku terlena dengan lengking indah lagu qiraat yang terdengar menggema, menembus setiap relung sanubari para pendengarnya. Serasa menonton acara MTQ atau haflah tilawah. Hingga aku terlena, terhanyut dalam nikmatnya bacaan ayat.

Sang qari, biasanya duduk di kursi menghadap jemaah. Seperti yang kusaksikan siang itu. Seorang lelaki setengah baya, berjubah hitam, berpeci khas Al Azhar. Yang atapnya merah itu, tanda yang bersangkutan seorang hafidz. Wajahnya kalem, tetapi menyiratkan rasa PD tinggi. Ya, watak orang Mesir kebanyakan memang begitu. Senyum sumringahnya selalu tersungging, sambil sesekali menyeka keringat dan ludahnya dengan tisu yang kayaknya tak ganti-ganti. Sebuah botol air mineral tergeletak di samping kursi, penawar haus dahaganya. Maklum, ia bertugas sebagai pembaca ayat-ayat Al Quran sambil menanti waktu adzan Jumat tiba.


Sebagai bentuk pujian, biasanya, para jemaah, menimpali sela-sela bacaannya dengan ucapan "Ällah yiftah álaik.." "Allahu yuzid umrak.." “Allah yunawwir qalbak..” atau sekedar “..Állah.." saja. Tergantung ayat yang dibaca juga. Jika ayatnya tentang keindahan syurga, atau pahala, maka para jemaah berkomentar “Ya Rabb..” “Subhanallah..” dan seterusnya. Jika ayatnya tentang neraka, mereka terdiam. Atau malah berdesah. Ada juga yang histeris Allahu Akbar. Atau bacaan shalawat. Semakin rame komentar, suara sang qari pun semakin mantap menggema.


Sayang sekali, aku bukan seorang qari. Suaraku tidak mengizinkan, hehe. Untuk bidang yang satu ini, kurasakan, bakatku terpendam terus, hehehe...Kebanyakan nyanyi dangdut kali. Dulu di Ciputat aku pernah belajar lagu-lagu qiraat. Secara singkat, karena tujuannya untuk bekal pertandingan Musabaqah Fahmil Quran (MFQ). Bukan untuk jangka panjang, hehe.. Tak heran, jika sekarang semuanya itu sudah terlupakan. Aku hanya masih ingat, lagu bayati, karena biasanya dilantunkan di awal. Atau lagu hijaz yang berirama sedih itu, hingga kerap menghanyutkan perasaan.


Ah, andai aku seorang lelaki bersuara merdu, tentu aku mendapat lebih banyak pelajaran dari Jumat macam begini. Aku bisa menambah koleksi lagu-lagu qiraat yang terkini, melalui qari-qari Jumat itu. Karena konon, lagu tilawah itu selalu terus berkembang. Dosen tahfidz di IAIN-ku dulu, Ibu Maria Ulfa, pernah absen mengajar selama beberapa minggu, karena berangkat ke Mesir guna mempelajari trend-trend baru lagu qiraat. Dua bulan lalu, aku juga pernah ketemu seorang ustad muda dari tanah air di Mesjid Indonesia Kairo, yang katanya sedang tinggal 3 bulanan di Kairo, sekedar untuk menambah koleksi lagu qiraat terkini dari para qari Mesir. Subhanallah.


Untuk urusan lagu qiraat, Mesir memang nomor wahid. Di negeri ini, dikenal banyak syekh bersuara merdu. Kasetnya beredar luas, bacaannya diputar dimana-mana. Tetapi yang unik, di negeri ini tak ada pembaca Al Quran perempuan alias qariah, yang tampil ke publik. Peserta musabaqah cabang tilawah (MTQ) pun, semuanya kaum Adam. Entah kenapa. Apakah karena ada fatwa suara perempuan adalah aurat..?! Ah, aku tak tahu.. Beda dengan di tanah air. Kita mengenal ibu Maria Ulfa, yang kusebut tadi. Juga ibu Nur Asiah Jamil dan lainnya. Sebaliknya, di negeri ratu kleopatra ini, penyanyi perempuan bersuara emas malah yang bejibun dan populer di publik. Dengan gaya tariannya yang menggetar-getarkan tubuh. Cantik-cantik, lagi. Andai mereka mau banting stir, menggunakan suara emasnya untuk baca Al Quran dengan lagu qiraat –kayak penyanyi kita Mel Shandy itu – tentu akan sangat mengagumkan.


Dan qari Jumat di Mesjid Husein siang itu, juga mengumandangkan lagu qiraat yang beragam. Saking banyaknya, hingga aku bingung, mana yang Hijaz, mana Ras, mana Jiharkah, dan mana yang selain ketiganya, hehehe.. Kuperhatikan dalam beberapa Jumat, qari-qari Mesjid Husein ini memang bersuara merdu dan sering bawa lagu-lagu syahdu. Mesjid yang lain juga begitu. Hanya qari di mesjid Syafii yang suaranya kurang merdu. Beberapa kali aku Jumat di sana, qarinya ngga ganti-ganti. Tajwid dan lagunya sih barangkali ok, tetapi suara sang qari yang berusia tua itu, kadang kurang stabil, hingga kerap menunda tetesan air mataku yang nyaris tertumpah. Ya, tetesan air mata. Karena aku sangat menikmati bacaan Al Quran di mesjid-mesjid itu. Terlebih jika ayatnya pas dengan suasana hati..Ah, aku kerap dibikin terbuai. Keindahannya, la tarsumuha al alfadz. Tak terlukiskan oleh kata-kata...Seperti halnya orang Mesir, aku hanya bisa menimpali bacaan sang qari dengan teriakan kagum “Allah Yunawwir Qalbak..” Sedangkan dalam hati, aku hanya merasa iri, dengan mereka, para lelaki bersuara merdu. Untung saja, rasa iri-ku biasanya tak lama. Karena aku sadar, bahwa iri adalah tanda tak mampu....hehehe..

Pinggiran Nil, dinihari 20 Mei 2005

Wednesday, May 11, 2005

SSM 15 : Terawat Lewat Tarekat

TERAWAT LEWAT TAREKAT 

Di tengah kerumuman peziarah makam Syekh Badawi "..Aku yang mana yach...?!.."

Hormat pada ahlul bait terpelihara melalui jaringan organisasi sufi. Keturunan jauh pun bergelimang sanjung

BUKAN hanya keturunan dekat Nabi Muhammad yang mendapat hormat. Anak-cucu ahlul bait yang cukup jauh pun disanjung kaum muslim Mesir. Tengoklah masjid dan makam Syekh Ahmad al-Badawi (1199-1276 M) di Thanta, 94 kilometer barat laut Kairo. Syekh Badawi kesohor seantero Mesir sebagai tokoh sufi, pendiri tarekat Ahmadiyah, dan keturunan Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Di Mesir, ekspresi cinta pada ahlul bait menyatu dalam tradisi tarekat (organisasi sufi). Dari 17-an kelompok tarekat di Mesir, hampir semua syekhnya punya garis keturunan ke Imam Husein, cucu Nabi. Zikir rutin berbagai tarekat banyak yang berisi pujian pada Nabi dan ahlul baitnya. Maka, makam sejumlah tokoh yangdiyakini keturunan Nabi selalu ramai diziarahi pengikut berbagai tarekat. Termasuk makam Syekh Badawi.

Usai salat Jumat, awal Maret lalu, saya menyaksikan aneka ritual tarekat berlangsung di Masjid Badawi. Mulai baca salawat bersama sambil duduk melingkar hingga tarian meliuk-liukkan badan. Di masjid ini, peziarah wanita berbaur dengan pria, duduk melingkar, membaca salawat, bertepuk tangan dan menari sambil berteriak histeris. Beberapa lainnya melakukan zagrudah, jeritan khas wanita Arab tanda suka-ria.

Setiap hari Jumat, masjid itu dipadati ribuan peziarah. Selain pengikut tarekat, juga para petani sekitar delta Nil. Thanta adalah kawasan subur, pusat pertanian kaya di delta Nil. "Saya selalu salat Jumat di sini," tutur Gabir Hussein Thantawi, petani asal Mahalla Kubra, kota kecil 24 kilometer dari Thanta. "Salat di masjid sini memang tamam (mantap)," kata Gabir seraya mengacungkan jempol.

Masjid Badawi terletak di tengah kota Thanta, tak jauh dari Stasiun Thanta. Makamnya berada di pojok kanan belakang masjid. Tak ada pembatas antara peziarah laki-laki dan perempuan seperti makam sufi lain di Mesir. Keruan saja, desak-desakan peziarah lelaki dan perempuan menjadi hal lumrah. Tanpa pembatas, para peziarah justru asyik tawaf, mengelilingi makam, mirip jamaah haji mengelilingi Ka'bah.

Di pojok ruang makam terdapat kotak kaca berukuran 0,5 x 0,75 meter, tempat menyimpan batu hitam persegi. Di atas batu terlihat dua jejak kaki yang diyakini sebagai kaki Nabi Muhammad. Asal-usul telapak ini memiliki ragam versi. Satu kisah menyebutkan, ia dibawa dari Madinah. Versi lain mengatakan, Rasulullah pernah berkunjung ke Mesir.

Banyak peziarah, terutama petani delta Nil, berupaya keras menyentuh dan menciumi kotak kaca itu, seperti jamaah haji yang berebut mencium hajar aswad. Ada juga yang menggosokkan kain ke kaca. Mahmud, 40 tahun, pegawai masjid yang setia berdiri di sebelah kotak, selalu sigap menegur jamaah yang kelamaan mencium kotak kaca. Tapi bisa kompromi bila Mahmud dikasih "sedekah".

Masjid itu mengalami puncak keramaian pada hari maulid sang wali pada paruh kedua Oktober, saat para petani delta Nil tidak sibuk di ladang. Maulid digelar sepekan. "Kalau sedang ada haflah maulid, sekitar masjid ini menjadi lautan manusia selama delapan hari," kata Sayed Ibrahim, 50 tahun, pemilik toko kue di depan masjid.

Maulid diramaikan atraksi berbagai tarekat. Mereka berkumpul di masjid, membentuk barisan, lalu berjalan mengelilingi kota dan desa sambil berzikir. Pemerintah Mesir pernah menjadikan momentum ini untuk menggalang dana pengusiran Israel dari Sinai, 1973, karena pemerintah kesulitan mengumpulkan rakyat dalam jumlah besar.

Makam Syekh Badawi ramai peziarah karena ia dipercaya sebagai ahlul bait. Perlakuan serupa diterima Masjid Abu Abbas al-Mursi di Iskandariah. Di belakang masjid ini ada belasan makam yang dipercaya sebagai keturunan Nabi, meski bukan tokoh terkenal. Berbeda dengan makam dan masjid Imam Syafi'i di Kairo. Sepi dan kurang terawat. Padahal, ia imam mazhab fikih yang banyak dianut di Mesir dan Indonesia.

Pun makam Imam Lais, tak jauh dari makam Syafi'i. Ia ahli fikih kesohor yang disebut-sebut telah menyerap semua wawasan fikih generasi Tabiin. Begitu pula makam sahabat Nabi, Abu Dzar al-Ghifari, 300-an meter dari makam Syafi'i. Daerah sekitarnya kotor dan jadi kawasan lalu lalang anjing liar. Padahal, Abu Dzar dikenal sebagai teladan pelaku gaya hidup sufi pada zaman Nabi. Namun, karena mereka bukan keturunan Nabi, semarak peziarahnya berbeda dengan di makam anak-cucu ahlul bait, meskipun keturunan jauh.

Rubrik JEJAK, Gatra Nomor 20/XI, 02 April 2005

Monday, March 21, 2005

Nuansa Desa Tafahna

Nuansa Desa di Tafahna

Aku (bertopi hitam sambil naik keledai) bersama para mahasiswa dan petani desa Tafahna
Sekolah di luar negeri, rupanya tak selalu identik dengan suasana yang serba modern, beasiswa ratusan dolar, fasilitas belajar yang memadai serta lingkungan kehidupan yang mewah. Setidaknya, kesan ini terjadi pada 50-an mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di universitas Al Azhar cabang Tafahna, Mesir. Pola hidup sederhana, di tengah kehidupan desa berudara segar alami, menjadi suasana harian mereka.

"Di Tafahna ini saya malah menemukan suasana kampung halaman di Tanah Sunda sana", kata Fauzi, mahasiswa asal Bandung, yang kini sedang belajar di Tafahna. Remaja berusia 20 tahun ini memang tidak sedang berbasa-basi. Kawasan sekitar kampus Tafahna, benar-benar menyiratkan suasana alam desa. Komplek bangunan kampus berada di tengah-tengah perkampungan penduduk, dikelilingi pesawahan yang hijau menghampar, kebun palawija serta anak sungai Nile. Udara terasa segar, jauh dari suara-suara bising atau polusi.

Tafahna al Asyraf, desa terpencil di kawasan propinsi Daqahliyah Mesir ini berlokasi kira-kira 100 km utara Kairo. Ia dilewati sebuah jalan raya yang lumayan rame, menghubungkan kota Zaqaziq, ibukota propinsi Syarqiyah dengan Mait Ghamr, kota kabupaten yang membawahi Tafahna. Untuk menuju ke Tafahna, dari Kairo kita bisa naik kereta api, ditempuh selama hampir 2 jam perjalanan. Atau bisa juga dengan colt antar kota melalui Zaqaziq. Tafahna dianggap sebagai pintu gerbang timur propinsi Daqahliyah. Dulunya Tafahna hanya wilayah pertanian. Sejak 1983, pemerintah Mesir berinisiatif menjadikan Tafahna sebagai desa percontohan sekaligus komplek pendidikan terpadu.

Tafahna bukanlah komplek pemukiman yang modern dan padat. Hitungan kasar saya, rumah tinggal di kawasan ini hanya 100-an apartemen, yang rata-rata berlantai 3 atau 4. Dinding luar rumah-rumah itu dibiarkan begitu saja, berupa bata merah tanpa ditutup tembok atau hiasan warna lain. Jalanan kampung nan sempit diantara rumah-rumah itu juga tidak beraspal. Binatang piaraan orang kampung seperti ayam, itik hingga keledai, bebas berkeliaran kesana kemari. Dan jangan kaget, orang Tafahna biasa menyimpan kandang ayam, itik, dan bahkan keledai, di pelataran atap rumahnya.

Di tengah suasana yang serba sederhana ini, berdiri megah gedung kampus universitas Al Azhar, yang terdiri dari 4 Fakultas, masing-masing Syariah Islamiyah, Syariah wal Qanun, Tarbiyah, dan Dirasat al Insaniyah. Dilengkapi fasilitas pendukung seperti asrama mahasiswa/i, mesjid, perpustakaan, gedung pertemuan, rumah sakit dan fasilitas olah raga.

Saya berkesempatan menginap di rumah seorang kawan mahasiswa di Tafahna, Sabtu sore hingga Ahad siang pekan lalu. Usai memenuhi undangan sebuah acara diskusi di PPMI Cabang Zaqaziq. Rumah tinggal sang kawan, berada di komplek perkampungan itu. Terdiri dari 3 kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu dan dapur. Fasilitasnya lengkap, baik tempat tidur, lemari pakaian, kulkas hingga peralatan memasak. “Harga sewa rumah ini hanya 150 Pound (200 ribu rupiah) per bulan”, kata sang kawan yang tinggal di rumah itu bersama dua rekan lain. Sesaat aku mikir, jauh lebih murah dibanding Kairo, yang bisa empat kali lipatnya. Belum lagi biaya hidup. “Dengan beasiswa 160 Pound per bulan, kami bisa tinggal nyaman, makan enak dan beli buku”, lanjut sang kawan lagi.

Dini hari kala fajar menyingsing, saya mendengar suara binatang malam, lolongan anjing serta kokok ayam jantan. Menjelang hadir mentari, kicau burung serta suara khas keledai (himar) juga menyapa. Sesuatu yang jarang saya dengar selama di Kairo. Pikiran pun terasa segar.

Ahad pagi saya diajak jalan-jalan keliling kampung, melewati komplek universitas, rumah penduduk dan pesawahan. Beberapa warga setempat yang sempat kusapa assalamu'alaikum, selalu spontan menjawab salam dengan raut muka ramah sumringah. “Ahlan wa sahlan...”, berulang kali kalimat itu saya dengar dari mulut mereka. Beberapa dari mereka berbasa-basi mempersilahkan kami mampir. Dari gaya pakaian dan penampilan, saya menduga bahwa kebanyakan mereka berprofesi sebagai petani serta berpendidikan rendah.

Keramahan orang Tafahna, memang dirasakan benar oleh kawan-kawan mahasiwa disana. Setiap bulan para mahasiswa kita mendapat bantuan sembako ala kadarnya dari para dermawan setempat. Penghormatan mereka terhadap orang asing yang belajar di al Azhar, lebih terasa ketimbang orang Kairo. Mungkin salah satunya karena mereka masih jarang melihat orang asing. Seperti yang saya alami pagi itu. Sebuah dokar yang ditarik keledai mendadak berhenti di samping kami. Seorang bapak Mesir yang duduk diatas dokar menatapi kami. Matanya berbinar-binar, tak berkedip. Sepertinya mereka heran, kagum atau mungkin bangga bisa bertemu orang asing. Beberapa saat kemudian, si bapak itu bertanya tentang asal negara kami. “Saya sering ditanyakan oleh imam jika tidak pergi berjamaah ke mesjid”, kata Yamin, tokoh mahasiswa Indonesia di Tafahna.

Beberapa bagian jalanan kampung nampak becek berlumpur. "Dua hari lalu ada gerimis", kata seorang kawan yang lain. Kotoran keledai yang menyisakan aroma tak sedap juga bertebaran di beberapa bagian jalan yang tak beraspal itu. Terpaksa saya berjalan pelan. Waspada. Sekelompok anak kecil bermain bola, hingga kadang menghalangi jalanan yang sempit itu. “Izayyak..?” sapa mereka so’ akrab, seraya ngajak salaman. Sesekali saya berpapasan dengan rombongan gadis Mesir yang membawa buku. Rupanya mereka adalah para mahasiswi yang mau berangkat kuliah.

Semua mahasiswa Indonesia di Tafahna, belajar di fakultas Syariah. Lokasi kampus yang nyaris berdampingan dengan rumah tinggal, membuat mereka aktif kuliah setiap hari. Jelas, tanpa harus berdesakan di bis selama berjam-jam, sebagaimana yang dialami oleh kawan-kawan mahasiswa di Kairo. “Aktifitas utama kami, adalah kuliah. Di sini, kami terpacu untuk lebih rajin belajar, karena memang tidak ada aktifitas lain semacam kegiatan organisasi”, tutur seorang kawan. Berkunjung ke perpustakaan dan diskusi keliling, menjadi agenda utama mereka. Selain sekali-kali bermain bola di lapangan luas dekat kampus banat. Dibanding Kairo, prosentase kelulusan mahasiswa di Tafahna memang lebih tinggi, pelayanan administratif pihak kampus lebih baik, dan karena itu, studi relatif lebih lancar. Satu hal lagi, para mahasiswa Tafahna juga lebih cepat bisa bahasa Arab ‘amiyah.

Gedung fakultas Syariah Islamiyah berdampingan dengan fakultas Syariah wal Qanun. Masing-masing berlantai 4 dan berlokasi di tepi kampung, membelakangi pesawahan luas. Gedungnya nampak bersih dan kelihatan masih kokoh. Maklum, baru dibangun pada tahun 1992 lalu. Dua warung makanan milik orang Mesir nampak di sebelah kiri kampus. Bangunannya juga sederhana, dengan tempat duduk yang tidak begitu banyak. Barangkali tak jauh beda dengan kantin sekolah saya di Aliyah dulu.

Di belakang kampus, ada saluran irigasi anak sungai Nil yang membelah pesawahan. Pagi itu, airnya kecil dan berwarna pekat kotor. "Kalo musim panas, kami sering menjala ikan di selokan itu", kenang sang kawan. Oya?! Saya penasaran. Lalu kami menyusuri jalan setapak, diantara luasnya pesawahan gandum yang menghijau. Di musim dingin seperti ini, pesawahan itu ditanami gandum, sedangkan padi dan barsim (rumput ternak) di musim panas. Diselingi kebun sayuran semisal bawang daun, kubis atau sawi, serta pepohonan kurma dan pinus di tepian sawah. Sesekali kami berpapasan dengan serombongan mahasiswa Mesir yang berangkat kuliah. Ada yang tubuhnya berkeringat. Mungkin karena perjalanan yang jauh. Saya teringat pengalaman haiking pramuka kala di Aliyah dulu, menelusuri indahnya perkebunan teh di Salabintana, tepian kota Sukabumi.

Kami mampir ke sebuah kebon jeruk, lalu menghampiri sumber suara obrolan petani Mesir di tengah ladang. “Ahlan, ahlan”, tutur salah seorang dari ketiga petani yang sedang mengisap syisya. “Izayyak ya habibi...”.apa khabar kekasihku...ah, rupanya mereka sudah familiar dengan kawan-kawan. Usai berbasa-basi, kami duduk melingkar, di sela-sela rimbunnya kebun jeruk, sambil menikmati manisnya buah jeruk yang baru saja dipetik. Saya pun terlena, diantara canda tawa mereka, para mahasiswa dan petani desa Tafahna....

Pinggiran Nil, Jumat 18 Maret 2005