Monday, November 24, 2014

Revolusi Damai

MENGAPA REVOLUSI TUNISIA BISA BERLANGSUNG DAMAI

Penghitungan suara Pilpres di Tunis, 23 Nop 2014. Sumber : as Sharq al Ausath

Tadinya saya mau menulis tentang hasil Pemilu Presiden di Tunisia yang baru berlangsung 23 Nopember 2014 kemaren. Mumpung masih hangat dan ramai dibicarakan orang. Dalam tulisan itu saya akan mengaitkan hasil Pemilu – yang dimenangkan oleh partai sekuler - dengan analisa ringan tentang masa depan kehidupan keagamaan dan pendidikan Islam di negeri berpenduduk 99 persen Muslim ini.

Akan tetapi, saat jemari ini mulai menari-nari di atas keyboard laptop, alam pikiran saya menerawang ke sejumlah persoalan yang saya amati jauh sebelum Pemilu, dan sebenarnya melandasi kesuksesan Pemilu itu sendiri, yakni tentang revolusi Tunis (Arab Spring) secara umum.

Mengapa masa transisi dari revolusi menuju demokrasi di Tunisia ini bisa berlangsung secara damai hingga hari ini? Mengapa agenda-agenda politik yang diamanatkan revolusi – termasuk Pemilu 2011 dan 2014 ini - juga berlangsung aman, tanpa banyak kendala besar yang menghalangi. Demikian di antara pertanyaan besar yang mengusik benak saya. Sekaligus juga pertanyaan yang pernah dilontarkan beberapa rekan di tanah air dan belum saya jawab secara tuntas.

***
Masa transisi di Tunisia memang relative stabil, minim – untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali - aksi-aksi kekacauan massa yang menimbulkan pertumpahan darah. Berbeda dengan yang kita saksikan di negeri-negeri revolusi lainnya di Tanah Arab seperti Libya, Mesir, Suriah, atau Yaman. Beberapa factor yang melandasinya adalah :

Pertama, tingkat pendidikan masyarakat yang baik. Sebagaimana pernah saya sampaikan beberapa waktu lalu, bahwa perhatian pemerintah Tunisia untuk sector pendidikan ini sangat luar biasa, 26 persen APBN digelontorkan untuk dunia pendidikan. Buahnya sekarang dinikmati oleh siapapun yang belajar di negeri berpenduduk 11 juta jiwa ini. Wajib belajar SMA sudah berlangsung sejak lama, biaya kuliah murah meriah, profesi guru dan dosen adalah pekerjaan favorit orang Tunis. Di negeri termakmur ketiga di Afrika ini, tidak ada keluhan rakyat soal biaya pendidikan atau biaya kesehatan yang tinggi.

Apa kaitan tingkat pendidikan dengan kemulusan revolusi? Oh, besar sekali. Pendidikan yang baik akan membentuk pola pikir yang lebih rasional dan dewasa. Orang yang berpendidikan baik – terlebih didukung ekonomi yang baik - tidak akan mudah terprovokasi alias dihasut, apalagi untuk ikut-ikutan demo bayaran.

Konstelasi politik di Tunisia sebenarnya terus memanas, sejak Pemilu Oktober 2011 hingga hari ini. Perseteruan antara parpol sekuler melawan parpol Islam nyaris tak henti. Tapi semua itu hanya berlangsung di ruang sidang parlemen, dan kemudian hanya jadi tontonan rakyat saja, tidak berimbas ke kehidupan rakyat. Menurut saya, itu karena rakyat yang berfikir dewasa.

Saya ingat sebuah anekdot obrolan antara mendiang Habib Borguiba – presiden Tunisia yang memerintah tahun 1957-1987 – dengan Muammar Kadafi, pemimpin Libya. Borguiba bertanya, “Mengapa uangmu yang melimpah itu kau habiskan untuk membeli senjata? Bukan untuk pendidikan rakyat?” Kadafi menjawab, “Agar militerku kuat, sehingga saya nanti tidak bisa dikudeta oleh rakyat”. Borguiba menjawab, “Dikudeta oleh rakyat yang berpendidikan, lebih terhormat daripada dikudeta oleh rakyat yang bodoh”.

Wallahu A’lam tentang keabsahan sanad cerita ini. akan tetapi, isi obrolan keduanya kini menjadi kenyataan. Keduanya dikudeta. Borguiba dikudeta militer tahun 1987, Kadafi dikudeta rakyat tahun 2011. Bedanya, Kadafi digulingkan secara tidak terhormat, bahkan ia dibunuh rakyatnya sendiri. Hingga hari ini, rakyat Libya terus berseteru, memperebutkan kursi kekuasaan. Sedangkan Borguiba digulingkan melalui proses politik, tanpa pertumpahan darah.

Kedua, para politisi di Tunisia tidak mau ngotot. Sebaliknya, mereka mudah mengalah untuk kepentingan bersama. Hal ini sebagaimana saya tulis dalam catatan berjudul : “Mau Mengalah, Kunci Kemulusan Revolusi Tunis”, beberapa waktu lalu.

Sikap mau mengalah ini, terutama ditunjukkan oleh pada politisi partai Nahdah, pemenang Pemilu Legislatif tahun 2011. Dalam Pemilu jurdil pertama di era revolusi itu, partai kembaran Ikhwanul Muslimin ini meraih 90 kursi, dari 217 kursi parlemen. Nahdah pun memegang tampuk kursi pemerintahan.

Seharusnya, pemerintahan hasil Pemilu 2011 itu berlangsung hingga Pemilu 2014 ini. Tapi apa yang terjadi? Selama 3 tahun berkuasa (2011-2014), pemerintahan Nahdah tak henti digoyang. Kaum oposisi yang berhaluan sekuler terus merongrong. Pemerintahan Islam diganggu dengan berbagai persoalan, dari kasus salafi hingga penembakan tokoh politik.  Imbasnya, pemerintahan Nahdah terusik, hingga 3 kali ganti cabinet.

Saya datang ke Tunis Nopember 2012. Hingga Nopember 2014 ini – atau tepat 2 tahun keberadaanku - total 3 kali pergantian Perdana Menteri dengan 3 paket kabinetnya. Nahdah mau saja mengikuti desakan-desakan mundur kaum oposisi, tiada lain demi kemaslahatan negara secara luas.

Salah satu kunci utama keluwesan sikap politik Nahdah ini tak lepas dari sosok Syekh Rashid Ghannushi, pemimpin spiritual sekaligus pemimpin partai Nahdah. Ghannushi, seorang intelektual-ulama yang dikenal moderat yang sangat berpengaruh kuat di Tunis. Di bawah kepemimpinannya, Nahdah sangat kompromistis dalam perundingan-perundingan, tidak ngotot mengusung formalisasi syariat, menuruti kemauan para pesaingnya untuk tidak mengusung capres sendiri pada Pilpres 2014 kemaren, mudah menerima tawaran koalisi, dan sebagainya. 

Ketiga, netralitas militer. Saya menyaksikan betapa rakyat Tunisia sangat membanggakan militernya. Bangga karena mereka tidak ikut-ikutan berpolitik. Mereka murni mengabdi demi kepentingan rakyat, selalu berada di pihak rakyat, tanpa tergoda oleh manisnya kue kekuasaan.

Sudah menjadi cerita popular di Tunis, ketika presiden Ben Ali digoyang demo besar-besaran pada penghujung tahun 2010 dan awal 2011. Ben Ali menginstruksikan panglima militer untuk mengambil tindakan mengamankan para pendemo yang sudah mulai radikal. Kalo perlu, para pendemo yang anarkis itu di-dor saja, demikian kira-kira titah sang Presiden. Apa yang terjadi? Apakah sang panglima mematuhinya? Ternyata tidak. Justru ia balik kanan, meninggalkan sang presiden, dan bergabung bersama rakyat.

Andai saja militer Tunis kala itu bisa disetir seperti di Mesir, mungkin lautan pendemo di alun-alun Habib Borguiba Avenue tanggal 14 Januari 2011 lalu dibabat habis. Tragedy Rab’ah bisa terjadi di Tunis. Tapi ternyata tidak. Karena militernya tidak mau menembaki rakyat.  

Pasca revolusi ini, militer kembali dielu-elukan rakyat, karena tak henti berjuang menumpas kaum teroris radikal yang belakangan ini mengusik ketenangan rakyat. Rakyat menyaksikan bagaimana militer melakukan penyerbuan ke bukit Sha’anbi, di Tunisia selatan, dekat perbatasan Aljazair. Di bukit ini, jaringan Al Qaeda cabang Mangrib Arabi bermarkas. Konon, mereka sedang menyiapkan proklamasi Negara Islam Magrib Arabi.  

Keempat, intervensi asing yang minim. Amerika tidak begitu tertarik untuk ikut-ikutan bermain dalam proses revolusi di Tunisia, apalagi mengendalikannya. Mungkin karena Tunisia adalah negara kecil, tidak punya apa-apa, dan bukan negara berpengaruh.

Coba lihat perjalanan  revolusi di negara tetangga sebelah : Libya. Amerika begitu sibuk terlibat, karena Libya memang negeri penghasil minyak. Ibarat pepatah, di mana ada gula, di situ ada semut. Irak nun jauh di sana juga sama ; diintervensi Amerika sehingga konflik berkepanjangan terus terjadi. Karena nampaknya Amerika juga tergiur dengan minyak yang melimpah di negeri Saddam Hussein ini.

Di Mesir, intervensi Amerika juga besar. Tetapi bukan karena factor minyak, karena Mesir bukan negara penghasil minyak. Mesir adalah negara Arab terbesar, dan pengaruhnya sangat kuat di Timur Tengah. Menguasai Mesir adalah salah satu kunci utama untuk menguasai Arab. Demikian kira-kira pikiran Amerika.  

Kalo ke Tunis, apa yang Amerika cari?! Negaranya kecil, penduduknya sedikit, tidak punya minyak, miskin sumber daya alam pula. Tunisia hanya memiliki zaitun (perkebunan) dan posphat (tambang). Selebihnya, devisa negara hanya mengandalkan sektor wisata yang dikemas bagus. Tunis hanya punya manusia 11 juta jiwa, sebagian besar mereka mengenyam pendidikan tinggi.  Atau istilah yang saya gunakan dalam tulisan lalu : miskin SDA, tetapi kaya SDM.
***
Sebenarnya masih banyak factor lain, selain empat yang saya sebutkan di atas. Tapi saya sudahi saja dulu sampai di sini. Kalau dilanjutkan, tulisan ini terlalu panjang untuk ukuran catatan di blog, hehe. Semoga kita semua bisa mengambil 'ibrah (pelajaran) dari setiap peristiwa yang kita alami, atau yang kita saksikan dalam kehidupan harian. Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, senja 24 Nopember 2014