Wednesday, January 04, 2017

Guruku di Tunis

Para Guru Besar yang Bersahaja




Salah satu teladan para guruku di Tunis yang sangat menginspirasi adalah keluhuran akhlak mereka, dibuktikan dengan kesahajaan dan kesederhanaan.

Sejumlah dosen senior yang bergelar guru besar (profesor), dikenal sangat ramah dan rendah hati. Mereka tak merasa gengsi mengajar di jenjang s1. Adik-adik kelasku yang kuliah s1 di Univ Zitouna, tiap hari menikmati perkuliahan berbobot yang disampaikan para profesor. Tanpa asisten-asistenan.
Di Fakultas Peradaban, ada Prof Zu'airi (ahli hadits), Prof Hentati (Sejarah), Prof Allusy (tafsir), Prof Fethi Abidi (Ulumul Quran / Qiraat), juga Prof Nefati (Ushup Fiqh). Bahkan rektor pun, Prof Hisham Grissa, rajin masuk kelas pada jenjang S1. Di Fak Ushuludin, ada Prof Munjia (tafsir), Prof Bozguiba (Fiqh) dan Prof al Majdi (filsafat). Prof Nurdin Khadimi dan Prof Mounir Tlili - keduanya guru besar & mantan Menteri Agama - juga rajin ngajar, lalu shalat di musholla kampus bersama para mahasiswa.

Aku cukup sering mendampingi tamu dari tanah air, bertemu rektor. Hampir selalu dijadwalkan jam 17.00 sore, karena "Pak Rektornya ngajar dulu", kata Bu Saidah, sang sekpri. Pernah suatu saat, jelang jam 17.00, aku berdiri depan Gd Rektorat. Dari arah gedung perkuliahan S1, aku melihat beliau datang.

Para guru besar itu rajin hadir ke kelas dan selalu tepat waktu. (Ini sebenarnya tipe umum orang Tunis : tepat waktu). Kalo sekali-kali mereka berhalangan, para mahasiswa jangan senang dulu.. Kelak mereka akan menjadwalkan hissoh ta'widhiyah (jam pengganti) pada akhir semester.

Mereka juga berpenampilan sederhana. Mobil mereka umumnya tua dan lusuh, bukan mobil mewah. Banyak juga yang berangkat ke kampus naik angkutan umum. Entah karena tidak punya kendaraan atau memang mereka tdk mau membawanya ke kampus. Ini pengamatanku ya.

Prof Nefati - supervisor disertasiku - biasa naik taxi. (Taxi di Tunis ini jarang yang bagus, semua tanpa AC. Ongkosnya memang murah). Beberapa kali aku menemuinya saat beliau berdiri di halte, nunggu taxi. Pernah suatu ketika, aku menemaninya ngobrol di halte, hingga aku diajak ikut naik taxi menuju rumahnya. Sepanjang jalan, kami melanjutkan diskusi yang tadi tertunda.

Beberapa di antara mereka berangkat dari rumah naik trem ke stasiun Barcelona, di pusat kota Tunis. Dari situ mereka jalan kaki menuju kampus. Jaraknya sekitar 1,5 km, melewati pasar Sidi Basyir yang padat itu. Jarak ini biasa ditempuh dengan 20 menit. Mengapa tidak naik taxi? Untuk ukuran orang Tunis, jarak ini terhitung dekat. Sopir taxi akan bilang, "jarak segitu mah jalan kaki saja". Di kota Tunis ini, berjalan kaki - terutama di kwsn kota tua - memang hal biasa. Karena itulah, aku sering berpapasan dengan Prof Allusy, Prof Fethi Abidi, atau Prof Ali Oulwi, atau beberapa dosen lain. Mereka berjalan menjinjing tas, dalam perjalanan menuju kampus atau sebaliknya.

Oya mereka juga rajin ke perpustakaan, membaca buku, tak segan duduk berdampingan dengan para mahasiswanya. Seperti suatu ketika aku bertemu Prof Ali Oulwi di perpus kampus. "Bpk sedang cari data utk riset yah?", tanyaku menerka-nerka. "Oh tidak", jawabnya, "Saya ke sini sedang mengecek akurasi bbrp referensi seorang mahasisawa bimbinganku dalam thesisnya", kata beliau. Wow, subhanalloh. Beliau sangat khawatir mahasiswanya menulis thesis secara copas..

Yang sempat mengagetkanku, umumnya mereka menolak hadiah dari mahasiswanya. Apalagi berupa uang. Kisah ini sering aku dengar, bahkan kualami sendiri, seingatku dua kali. Salah satunya, ketika seorang teman menitipkan oleh-oleh untuk dosen pembimbingnya, berupa aneka souvenir. Di sela souvenir itu rupanya ada amplop tebal, berisi uang. Siang hari, kuserahkan titipan itu. Malam hari, sang dosen menelponku, mengapa harus ada uang di souvenir itu? Tahukah kalian, kami tdk pernah mengambil hadiah berupa uang dari mahasiswa? Aku sangat terhina dengan pemberian ini...bla bla bla.. Aku hanya terdiam. Dan keesokan harinya, dengan kepala tertunduk, aku menerima pengembalian amplop itu..

Aku kadang bertanya-tanya, apakah mereka tidak butuh uang? Ah, masa sih. Dosen juga manusia, pikirku.

Aku juga penasaran, mengapa mereka memilih jalan kaki atau naik kereta? Mengapa mereka tidak membeli kendaraan? Padahal gaji mereka besar. Aku tau banget berapa angka-angka gaji guru di Tunis. Di negeri berpenduduk 12 juta jiwa ini, guru dan dosen adalah profesi favorit, karena gajinya tinggi. Buah dari alokasi 26 persen APBN untuk pendidikan. (Pada zaman Habib Borguiba 1956-1987 malah 33 %).

Menurut sebuah buku yang kubaca, orang Tunis lebih menilai status sosial didasarkan pada strata akademis. Semakin tinggi ijazah, ilmu atau prestasi akademik seseorang, ia akan semakin dihormati. Jadi, penghormatan didasarkan atas ilmu, bukan kekayaan.

Oh ini ternyata rahasianya. Pemerintah menganggarkan dana besar untuk pendidikan, rakyatnya menghormati ilmu dan memuliakan ulama.

Pantas jika Tunisia - setidaknya pada masa lalu - menempati posisi negeri termakmur kedua di Afrika. Pantas jika Tunisia juga adalah negeri dengan infrastruktur paling bagus, untuk ukuran "benua hitam" Afrika. Sekali lagi : untuk ukuran Afrika.. Karena ilmu dan ulama dijunjung tinggi.
Ilmu didukung, para guru berakhlak luhur, rakyat juga pandai menghormati ulamanya. Makanya di negeri ini tidak ada cerita anak muda yang berani menghina ulama, sebagaimana belakangan terjadi di negeriku tercinta nun jauh di sana 😢

*Salam hormat dan doa tulus, untuk para guru yang pernah mengajarku, di mana pun berada
** Fotoku bersama Syeikh Ali Bousyalaghim, salah satu guruku di bidang ilmu tajwid/ qiraat di Tunis.

Tunis al Khadra, 29 Nopember 2016

Santri di Tunis

Syekh Saptono dan Transmisi Intelektual
Tunisia-Indonesia


Pengembaraan intelektual sahabat kami, Saptono Bin Sabon di Tunisia, berakhir hari ini. Nanti siang, ia akan pulang ke tanah air. Selama 10 tahun di Tunis, Tono – panggilan akrabnya – tekun mengaji pada para ulama di negeri Zaitunah ini, hingga meraih sejumlah ijazah sanad dalam ilmu-ilmu keagamaan.

***
Dari Syekh Farid al Baji – ulama ahli hadits terkemuka / pimpinan pondok Dar al Hadits az Zaituniyyah– Tono mengaji hadits hingga memperoleh ijazah sanad kitab Adab al Mufrad (karya Imam Bukhari) dan kitab al Muwatha (karya Imam Malik).

Dari Syekh Husni bin al Burni al Ayasyi al Azhari, ia mendapatkan ijazah sanad kitab as Syamail al Muhamadiyah (karya Imam Turmudzi), kitab hadits al Arba'in an Nawawiyah, kitab Dalail al Khairat (karya Imam Jazuli), serta beberapa bab dari kitab Sunan Nasai. Dari Syekh Husni pula, Tono belajar fikih Maliki melalui kitab Mursyid al Mu’in fi Mayyarah Sughra (karya ibn Asyir), serta meraih ijazah sanad beberapa musalsal hadits seperti Musalsal fi Qiraah Surat as Shaf, Musalsal bin Nidaaini Yaumal Jumah, Musalsal bil Fuqaha, dan Musalsal fi al Qabdhi ‘ala al Lihyah.

Ijazah sanad kitab as Syamail al Muhammadiyah juga ia dapatkan dari Syekh Ali Gharbal, putera ulama kharismatik Tunis pada masa lalu : Syekh Muhammad Gharbal. Sedangkan dari Syekh Mushtafa Ma’tuq, ulama sepuh asal kota Sfax, Tono mengaji kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyid al Mursalin (karya Syekh Muhamad Khudari).

Di bidang akidah- akhlak, pria lajang berusia 30 tahun ini belajar pada Syekh Nizar Hammadi, ulama Zaitunah yang dikenal produktif menulis dan mentahqiq / pimpinan Markaz ibn Arfah lit Takwin al ‘Ulum al Insaniyah. Dari ulama muda ini, ia mempelajari bab Akidah dalam kitab Mursyidul Mu’in fi Mayyarah Sughra (karya ibn Asyir), kitab al Yaqut al Faridah fi Nadhmi Lubab al Aqidah, kitab Mukhtashar al Iji(bidang akhlak), serta kitab ad Dalil al Qaid li Dirasat Ilm al Aqaid. Kitab yang disebutkan terakhir adalah karya Syekh Nizar sendiri.

Sedangkan kitab tasawuf terkenal, ar Risalah al Qusyairiyah, ia pelajari dari Syekh Mounir Kamantar, ulama Tunis lulusan Damaskus dan Kairo yang pernah menjadi salah seorang syekh di Masjid Al Azhar.

Dari Syekh Abdul Mun’im Bisyr, pria yang bercita-cita mendirikan pesantren ini menamatkan kitab Ushul Fiqh terkenal : Waraqat (karya Imam al Juwaini), kitab Sullam al Munauraq di bidang Mantiq, serta kitab Syarh al Muqaddimah al Ajrumiyah fi Ilm Ushul al Arabiyah di bidang tata Bahasa Arab (karya Syekh Khalid al Azhari). Dari Syekh Burhan Nefati, ia belajar Ushul Fiqh Maliki, melalui kitab Syarh Tanqih al Fushul (karya al Qurafi). Syekh Nefati ini tiada lain pembimbing thesis Tono di Universitas Zaitunah.

Selain kuliah dan mengaji, Tono juga mengikuti program tahfidz di kawasan Bardo dan Zahra. Kini, ia telah menghafal 20 juz sekaligus memegang sanad beberapa qiraat mu’tabarah. Salah satunya qiraat Qalun 4 wajah, yang ia dapatkan dari Syekh Ali Bou Syalaghim. Ulama ahli Qiraat al Asyrah al Kubra ini juga mengajarkan syarah Matan Jazariyah (bidang tajwid) kepadanya. Tono juga pandai menulis khat /kaligrafi. Bersama guru kaligrafinya, Syekh Muhamad Yasin Mathir, ia menulis kaligrafi di sejumlah Masjid di kota Tunis.

Oya satu lagi yang tak kalah keren : Tono bisa bahasa Turki, buah dari persahabatannya dengan para mahasiswa Turki di Tunis. Tak heran jika kemudian ia dipercaya sebagai pengajar les bahasa Arab mereka, serta menjadi guru agama di Sekolah Internasional Turki di kota Tunis. Ia juga pernah berkunjung ke negeri Turki atas undangan sahabat-sahabat Turki-nya.

Masih banyak gurunya yang lain yang belum disebut, seperti Syekh Kamal Sa’adah, Syekh Shalahudin el Mistaoui, serta sejumlah syekh di Masjid Zitouna, tempat ia mengaji talaqqi di Ta’lim Zitouni beberapa waktu lalu.

Berkat bimbingan mereka, Tono puas mereguk segarnya samudera ilmu pengetahuan, lalu menyerap wawasan spiritual yang kelak akan ia kucurkan lagi kepada murid-murid sebangsanya di tanah air. Dengan demikian, proses transmisi intelektual Islam dari Magrib Arabi (khususnya Tunisia) ke Indonesia terjadi. Di antaranya melalui Tono.

***
Hari ini, guru para mahasiswa Indonesia di Tunis ini akan kembali ke kampung halamannya di Cirebon, membawa selembar ijazah S1, selembar ijazah S2 (bidang Ushul Fiqh), serta belasan lembar ijazah sanad beragam ilmu, dari para gurunya.

Lembaran-lembaran ijazah itu hanyalah kertas yang suatu saat akan usang ditelan masa. Akan tetapi warna-warni pengalaman yang terekam dalam memori, buah pengembaraannya selama 10 tahun di Tunis, itulah yang abadi. Dan semua itu akan memperkaya cerita-cerita Syekh Saptono kepada murid-muridnya di tanah air nanti, Insya Allah.

Selamat jalan sahabatku. Negerimu nun jauh di sana, menanti kiprahmu.

Tunis al Khadra, 29 September 2016

Thursday, April 28, 2016

Tunisia Al Quran

Pro Kontra Hafalan Al Quran di Tunisia

Menteri Agama Tunisia di TV Aljazeera 

Kementerian Pendidikan Tunisia menggagas program Tahfidz Al Quran bagi siswa/i di sekolah-sekolah. Tujuannya untuk membendung radikalisme agama. Kalangan sekuler menolak keras rencana ini, dengan alasan sebaliknya: hafalan Al Quran justru akan mendorong anak-anak jadi radikal.

ISU panas yang menggelinding di tengah masyarakat Tunisia dalam sebulan terakhir ini adalah polemic seputar program hafalan (tahfidz) Al Quran. Antara pro dan kontra, setuju dan tidak setuju.

Polemic ini bermula dari rencana Kementerian Pendidikan Tunisia menggelar program hafalan Al Quran bagi para siswa sekolah (SD-SMA) selama liburan musim panas tahun 2016, tepatnya mulai pertengahan Juni hingga pertengahan September. Lokasinya adalah gedung-gedung sekolah umum.
Program ini merupakan kerjasama tiga lembaga : Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, dan Rabithah al Jam’iyyat al Quraniyah – semacam LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawat al Quran) di Indonesia. Jika sukses, program ini akan berlanjut. “Tiga tahun ke depan, kita punya target 100 ribu hafidz di Tunisia”, tutur Menteri Agama, Dr Muhammad Kholil, 19 April lalu, kepada Kantor Berita Tunisia.

Kholil memandang bahwa minimnya pengetahuan umat tentang Al Quran mengakibatkan tumbuh suburnya pemahaman-pemahaman keliru tentang ajaran Islam. Konsep jihad misalnya, yang sering disalahfahami sebagai bermakna perang atau membunuh non Muslim. Karena itulah, “Program tahfidz ini salah satu upaya kami dalam menumbuhkan pemahaman yang benar akan ajaran Al Quran sekaligus strategi kami dalam memerangi terorisme”, tutur Kholil.

Program ini disambut baik banyak pihak. Syekh Syihabudin Telisy, ketua Ikatan Imam Masjid Tunisia mengamini argument Menteri Agama bahwa program tahfidz adalah cara efektif untuk menangkal radikalisme agama. “Kaum radikalis memahami ayat-ayat Al Quran sesuai hawa nafsu mereka, tanpa ilmu. Dan mereka umumnya bukan penghafal Al Quran”, tutur sang Syekh. Selain dapat menumbuhkan ghirah keislaman, masih kata Syekh Telisy, hafalan Al Quran juga diyakini akan menjadi dasar bagi anak-anak muda untuk memiliki kecakapan Bahasa dan Sastra Arab.

Sekelompok kalangan sekuler menolak keras program ini dengan beragam alasan. Di antaranya (1) program tahfidz Al Quran akan menumbuhkan benih-benih Islam radikal, (2) menghafal Al Quran adalah bentuk kemunduran berfikir, dan (3) program ini bernuansa politis, yakni sebagai manuver Partai Nida – partai penguasa saat ini - dengan Parta Nahdah yang berhaluan Islam.

Adalah Dr Nailah Salini, guru besar sejarah Islam yang kencang menolak program ini. Dalam wawancara di stasiun TV al Hiwar at Tunisi tanggal 20 April lalu, dosen senior di Fakultas Adab Universitas Sousse ini menuduh Menteri Agama Tunisia belum faham Al Quran. “Hai Tuan Menteri”, kata Dr Salini, “Nampaknya Anda belum membaca, menghafal, atau memahami isi Al Quran. Biarkanlah urusan pendidikan agama anak menjadi tanggungjawab kedua orangtuanya.  Negara kita menjamin kebebasan beragama”, kata dia.

Dalam dialog bertema “Pro Kontra Tahfidz di Sekolah” itu, Salini mempertanyakan, “Apakah kita akan mengajarkan ayat faqtuluhum haistu tsaqiftumuhum kepada anak-anak kita? Juga ayat wa a’iddu lahum mastatha’tum..?!” Kedua ayat ini terkait dengan seruan jihad.  

Menurut Dr Salini, sekolah adalah lembaga pendidikan umum, bukanlah kutab (pondok) yang memang khusus menghafal Al Quran. “Apakah Anda yakin kita akan mampu memberantas ISIS dengan program hafalan Quran? Maaf ya, justru anak-anak kita nanti akan menghafalkan ayat-ayat yang selama ini dipakai ISIS untuk melegitimasi perbuatan anarkisme mereka”, tutur dosen wanita yang rambutnya sudah memutih ini.

Abdunasir al Uwaini, aktivis al Jabhah as Sya’biyah,  sebuah koalisi partai-partai sekuler, mengatakan, “Seharusnya sekolah dijadikan sebagai pusat pembinaan generasi yang unggul, bukan malah untuk program yang membawa keterbelakangan (at takhalluf wa at taakkhur).

Usai acara dialog itu, saya lihat Salini, al Uwaini, para tokoh sekuler dan juga TV al Hiwar, dibully sejumlah kalangan Islamis di Tunis melalui media sosial.

Menteri Pendidikan Naji Jaloul menjawab sanggahan-sanggahan itu. Kata dia, “Tunisia adalah Negara Arab Muslim. Demikian ditegaskan dalam UU negara kita. Salah satu butir agenda reformasi pendidikan kita adalah menanamkan kesadaran murid akan kearaban dan keislaman mereka”.

Jaloul yang juga seorang akademisi ini meminta urusan tahfidz ini tidak dikaitkan dengan politik. “Adalah hak setiap siswa untuk mengenal agamanya, karena ini adalahh bagian dari kepribadian mereka”. Jaloul juga menolak anggapan sekolah-sekolah itu akan dijadikan kuttab. “Program ini nanti akan dibina oleh para ulama yang mumpuni dan terpercaya. Di akhir program, ada semacam penghargaan bagi siswa yang berprestasi”.

Penjelasan Menteri itu ditanggapi balik oleh Ibrahim Lathif, seorang sutradara Tunis. Lathif menulis di akun FB-nya, “Kalo begitu, izinkanlah saya juga mengajarkan teater, tari, film, di sekolah-sekolah selama musim liburan”.

Dalam beberapa pekan ini, saya lihat penolakan kaum sekuler justru membangkitkan semangat umat untuk secara terbuka mendukung program ini. Sejumlah ulama dan para imam menggelar aksi damai. Slogan “Anak-akan Kita Menghafal Al Quran” disuarakan baik lewat seminar, jumpa pers, pernyataan sikap, hingga di media social.

Hari kemaren, sebuah media lokal menggelar jajak pendapat online. Pertanyaannya sederhana, “Apakah Anda setuju dengan program tahfidz pada musim liburan musim panas nanti?” saat menulis catatan ini saya lihat ada 87 persen responden menyatakan setuju dan 13 persen lainnya menolak.


Tunisia adalah negeri tempat lahirnya Arab Spring (2011) yang menumbangkan sejumlah rezim otoriter di Dunia Arab. Sejak saat itu, kehidupan keagamaan dan pendidikan Islam bergairah kembali di negeri paling utara benua Afrika ini. Masjid-masjid dipenuhi Jemaah, madrasah-madrasah Al Quran tumbuh subur di mana-mana, jumlah muslimah pejilbab juga meningkat. Akan tetapi, fenomena meningkatnya semangat keagamaan ini justru mendapat tentangan dari kaum sekuler.  

Yang unik, para penentang itu justru mereka yang dikenal sebagai cendekiawan Muslim. Dr Nailah Salini sendiri adalah seorang guru besar sejarah Islam di Fakultas Adab Sousse. Sejumlah karya ia hasilkan, di antaranya yang terkenal adalah buku Tarikhiyyat at Tafsir al Qurani (2002).

Saya tinggal di Tunis sejak tahun 2012. Sejauh yang saya amati, kegiatan-kegiatan keagamaan ini awalnya baik-baik saja. Persoalan muncul ketika segelintir kaum Salafi tampil meramaikan program-program keagamaan di Tunis dengan cara mereka sendiri. Mereka turut mendatangkan sponsor dari luar negeri, lalu mendorong kaum wanita bercadar. Para ulama mereka tampil ceramah di TV, radio, juga mimbar-mimbar pengajian. Tuduhan-tuduhan bid’ah dan kafir begitu sering terdengar dari mereka.

Dari sinilah mulai muncul keresahan di kalangan umat. Apalagi terbukti bahwa hampir semua kasus kekerasan yang terjadi di Tunis, umumnya dilakukan oleh kelompok ini. Penghancuran 14 makam ulama sufi, serangan-serangan teroris, penembakan tokoh politisi sekuler, rekrutmen jihadis ke Suriah, hingga isu jihad sex.

Jadi baik kaum sekuler maupun salafi, sama-sama menggunakan aji mumpung. Salafi menggunakan iklim keterbukaan untuk propaganda ajaran mereka, dan sekuler memanfaatkan perilaku segelintir salafi itu untuk memukul dakwah Islam secara umum. Kena deh semuanya. Polemik tahfidz hanya kena getahnya saja. Wallahu A’lam.  


Tunis al Khadra, 28 April 2016 

Friday, July 24, 2015

Buka Puasa 2015

BERBUKA PUASA SAMPAI BODOH (2)



Sebuah kehormatan besar, diundang buka puasa oleh Dr Beya Sultoni, dosen filsafat pendidikan Univ Zitouna, Tunis.
Kediaman beliau berlokasi di Rades, sekitar 10 km arah timur ibukota, dapat dijangkau dengan kereta api atau taksi. Kemaren, aku datang bersama isteri dan kedua puteriku, Kaira dan Tanisa.
Di stasiun Rades, kami dijemput oleh suami bu dosen.
Menu berbuka sore itu, diawali dengan air putih dan kurma Tunis yang masih menempel di tangkainya itu. Syegar.. Dilanjut dengan syurbah (soup pembuka), plus roti baguet, salad segar dan brick (gorengan khas Tunis, bahan utamanya telur).
Usai diselingi shalat Magrib, babak utama dimulai. Sajiannya adalah kuskusi, makanan khas orang Magrib Arabi. Yakni gandum bubuk yg dikukus, ditaburi kuah kental nan pedas dan aneka sayuran rebus. Disajikan hangat dengan daging kambing. Juga ada ikan bakar, sbg alternatif bagi isteriku yg tidak suka kambing.
Kami makan dengan lahap, maklum usai puasa hampir 17 jam, di bawah terik matahari 35 derajat.
Menu besar yang dituangkan bu dosen ke piring, membuatku merasa perlu mengendorkan ikat pinggang hingga beberapa kali, smile emotikon
Selesai menu utama, kami pindah ke ruang tamu. Di sana, aneka buah-buahan telah menanti. Ada khukh, melon, semangka, 'awinah dan mismis. Buah-buahan khas musim panas. Juga halawiyat / kue-kue Arab yang manisnya minta ampun itu. Dua puteri bu dosen, Farah dan Heba, bergantian mengisi gelas minuman kami yang kosong.
Sebenarnya perut sudah terasa kenyang. Tapi tuan rumah tak henti menawari. Aku faham betul, orang Arab biasanya kurang senang jika tamunya irit makan. Dan aku tak mau mengecewakan tuan rumah yang tiada lain guru dari para mhswa Indonesia ini.
Kami terus menikmati makanan, hingga lewat adzan isya. Sebagai sajian akhir, ada teh hangat ditaburi louz (kacang) dan na'na' (daun segar rasa mint).
Beginilah standar menu berbuka orang Arab. Bikin perut kekenyangan, hingga kebingungan seperti orang bodoh, tak tau apa lagi yang harus dilakukan. Persis seperti pengalaman berbuka dulu di rumah Prof Bouazizi, pembimbing thesisku, yang kuabadikan dlm tulisan berjudul 'Berbuka Puasa Sampai Bodoh'. Salam Ramadhan dari Tunis.

Tuesday, April 14, 2015

Tunis Halaqah

Mereguk Makrifah di Negeri Zaitunah

Suasana pengajian kitab Fiqh Maliki di Masjid Hamouda Pasha, Old Tunis, Maret 2015

Sabtu sore usai shalat Ashar. Puluhan pria duduk rapi dekat mihrab di dalam sebuah masjid. Sebagian besar mereka memegang buku. Seorang pria berusia setengah baya duduk di kursi, berhadapan dengan mereka. Sang pria yang berpeci merah khas Arab Magribi itu berbicara, sambil sesekali membaca buku yang dipegangnya. Sesekali pula ia mempersilahkan orang-orang di hadapannya itu mengajukan pertanyaan atau komentar.

Di pojok belakang kanan ruangan Masjid itu, beberapa orang wanita duduk berbaris. Di balik tirai tipis, mereka juga nampak khusyu menyimak pembicaraan sang pria.

Begitulah suasana pengajian (halaqah) kitab Tanqih al Fushul setiap Sabtu sore di Masjid ad Diwan, sekitar 250 meter dari Masjid Agung Zitouna, Tunis. Tanqih al Fushul fi Ikhtishar al Mahsul fi al Ushul adalah kitab ushul fiqh karya Imam al Qurafi, seorang ulama besar Malikiyah yang wafat pada tahun 684 H. Puluhan pria dan wanita yang duduk di Masjid itu adalah para jema’ah halaqah. Dan pria setengah baya itu tak lain adalah Syekh Prof Dr Burhan Nefati, penyampai materi pengajian.

Sabtu sore itu, syekh membahas lafadz-lafadz al musytarak, al mutawathi, al murtajal, dan al mutaradifah, yang merupakan isi pasal enam dari bab pertama kitab Tanqih itu. Dengan fasih, sang syekh menjelaskan lafadz-lafadz itu disertai contoh-contohnya dalam Al Quran atau hadits, serta ragam pendapat ulama dalam memahaminya. Sang syekh menjelaskannya dengan Bahasa Arab fushah, seolah tahu bahwa audiensnya banyak orang non Arab. Pembahasan kebahasaan (al mabahis al lafdziyah) yang rumit pun menjadi mudah.

Pengajian berakhir sesaat sebelum adzan Magrib berkumandang.

***
Halaqah kitab Ushul Fiqh di Masjid Diwan, adalah satu di antara sekian banyak majelis halaqah yang saat ini tumbuh subur di kota Tunis. Bak cendawan di musim hujan, halaqah-halaqah itu bermunculan seiring dengan keran kebebasan yang dirasakan umat Islam pasca revolusi 2011. Revolusi yang berhasil menumbangkan rezim penguasa sekuler, kemudian menggantikannya dengan kekuatan baru yang lebih bersahabat dengan Islam.

Tak jauh dari Masjid Diwan tadi, ada Masjid Hamouda Pasha. Di masjid yang dibangun pada tahun 1655 M ini, setiap hari Minggu siang ada pengajian Fiqh Maliki. Pengajian ini disampaikan oleh Syekh Habib ben Tahir, seorang ulama ahli fiqh terkemuka di Tunis saat ini. Kitab yang dibaca adalah al Fiqh al Maliki wa Adillatuhu yang beliau karang sendiri. Kitab setebal 7 jilid ini dicetak berulang-ulang oleh sebuah penerbit di Beirut. 

Di Masjid Agung Zitouna, pengajian halaqah ini bahkan digelar setiap hari, yang dikemas dalam program Ta’lim Zitouni. Peserta belajar tiap hari, dengan jadwal yang tetap. Menurut catatan sejarah, Ta’lim Zitouni ini telah ada sejak masjid ini dibangun, yakni pada tahun 732 Masehi. Tak heran jika Ta’lim Zitouni – yang merupakan cikal bakal Universitas Zitouna di era modern - dinilai sebagai lembaga pendidikan keagamaan tertua di dunia Islam.

Selain Ta’lim Zitouni, Masjid Zitouna juga menggelar beberapa pengajian mingguan untuk umum. Di antaranya adalah kajian Tafsir Tahrir wa Tanwir karya ibn Asyur, yang diasuh oleh Syekh Hasan al Mana’i, guru besar tafsir di Universitas Zitouna. Pengajian ini digelar setiap Sabtu bakda Magrib. Juga ada pengajian yang disampaikan oleh Syekh Nizar Hamadi, ulama muda yang dikenal produktif menulis dan mentahqiq kitab.

Ta’lim Zitouni, dengan segala warna-warni persoalan yang dihadapinya, hingga kini masih masih dianggap sebagai lembaga pendidikan keislaman yang ‘orsinil’, orientasi murni turats, serta para pengajarnya memiliki sanad keilmuan yang tersambung hingga para ulama madzhab.

***
Masih banyak majelis ilmu lainnya yang ada di negeri Zaitunah ini. Di Masjid al Busyra yang berlokasi di Jalan Carthage - masih kawasan Old Tunis - ada pengajian setiap Senin, Selasa, dan Rabu bakda Magrib. Hari Senin adalah kajian kitab al Muwatha karya Imam Malik, diasuh oleh Syekh Kamil Sa’adah. Hari Selasa adalah ilmu qiraat, diasuh oleh Syekh Muhamed Musyfir, dan Rabu adalah kajian kitab Tafsir Tahrir wa Tanwir karya ibn Asyur, bersama Syekh Ali Gharbal.

Di luar kawasan Old Tunis, pengajian juga tak kalah ramai. Di kawasan el Menzah, ada majelis Syekh Munir Kamantar. Ulama muda yang menyerap aneka warisan ilmu di negeri Syam dan Mesir ini menggelar pengajian setiap Senin, Rabu, Kamis dan Sabtu bakda Magrib. Kyai bergelar doktor Ushul Fiqh Al Azhar Mesir ini, mengajar kitab fiqh Maliki, yakni as Syarh as Shagir li Aqrab al Masalik ala Madzhab al Imam Malik.

Di kawasan Zahrouni, ada Syekh Farid al Baji, ulama muhaddits yang cukup terkenal di Tunis saat ini, karena keberaniannya mengkritik kaum Salafi-Wahabi yang belakangan melanda negeri  Maliki ini. Di majelisnya, Syekh al Baji biasa menggelar pengajian kitab-kitab hadits, sesuai keahliannya. Sejumlah mahasiswa Indonesia telah mendapatkan ijazah kitab hadits dari beliau, seperti ijazah kitab al Muwatha (Imam Malik), al Musnad (Syafi’i) dan al Mustadrak (Naisaburi).

Di kawasan Bardo, ada Syekh Ali Bouslagem, ulama ahli  qiraat yang memperoleh aneka sanad qiraat dari para ulama besar di Syria. Setiap bakda Subuh beliau mengajarkan ilmu qiraat kepada para santrinya, termasuk sejumlah mahasiswa Indonesia.

Masih banyak yang lainnya. Perlu survai serius untuk bisa menyebutkannya satu per satu.

Semua yang dipaparkan di atas, adalah halaqah-halaqah yang digelar oleh individu sang ulama. Semuanya digelar secara terbuka untuk umum,dan tentu saja tidak dipungut biaya. Modal mau berangkat saja. Masjid Zitouna, Masjid Diwan, dan Masjid Hamuda Pasha, berlokasi di kawasan  kota tua, yang tidak jauh dari pemukiman mahasiswa Indonesia. Bisa ditempuh dengan jalan kaki santai sekitar 15 menit. Tidak bisa naik kendaraan seperti bis atau taksi, karena masjid-masjid ini berada di tengah-tengah kawasan Medina, pasar tradisional nan antic yang berusia ratusan tahun.

Halaqah-halaqah yang diselenggarakan oleh lembaga resmi semacam ma’had/pesantren, juga banyak. Di kawasan el Manar, ada Ma’had Imam Malik lil ‘Ulum as Syar’iyyah, tempat aku dulu pernah mengaji kitab fiqh Maliki berjudul Risalah ibn Abi Zaid al Qairawani kepada syekh Sami an Nabli. Di kawasan ibn Sina, ada Jam’iyyah Mushtafa. Di Monfluri, tak jauh dari pemukiman mahasiswa Indonesia, ada Jam’iyyah Husnul I’tidal. Banyak mahasiswa kita yang aktif mengaji di sini. Di kawasan Hay al Khadra, ada Jam’iyyah Tunisiyyah lil Ulum as Syar’iyyah. Dan lain sebagainya.  

Lembaga-lembaga ini menggelar kajian berbagai disiplin ilmu keislaman. Pengajian dilakukan secara klasikal dan berjenjang. Para pesertanya terdaftar resmi. Setiap akhir tahun ada ujian. Setelah tahun ketiga, ada ijazah.


***
Mengikuti pengajian-pengajian itu, kerap mengingatkanku pada suasana di pesantren, sekian tahun silam. Para santri duduk lesehan melingkar sambil memegang kitab, dalam kondisi berwudhu, dengan penuh adab. Sang kyai atau syekh menjelaskan isi kitab dengan bersahaja, penuh kesederhanaan, dan khidmat. Bedanya, kali ini sang kyainya orang Arab, penjelasannya pun berbahasa Arab. Khusus di Tunis, kitab-kitab fikihnya  adalah bermadzhab Maliki.

Inilah salah satu kelebihan belajar Islam di negara Arab seperti Tunis. Terlepas dari konflik politik atau ancaman terror dari kelompok garis keras seperti ISIS yang selalu membayangi, atau juga kritik metodologi yang kerap disampaikan oleh sejumlah kalangan di luar terhadap system studi di Timr Tengah, halaqah-halaqah ini adalah sebuah fenomena menarik yang khas.  

Ia laksana samudera makrifah yang menjadi obat bagi para pencari ilmu yang kehausan. Selagi masih di sini, reguklah sepuasnya. Untuk bahagiamu kelak, di dunia dan akhirat. Amin Ya Robb. Salam Mani dari Tunis.


Tunis al Khadra, Selasa dinihari 14 April 2015  

Saturday, March 28, 2015

Jumat 3 Gelombang

Menimbang Jumat Tiga Gelombang 

Karena ada kesibukan sejak pagi hingga siang, terpaksa kemaren aku shalat Jumat gelombang ketiga di Masjid al Halq yang berlokasi di Suq Ashr, Old Tunis.

Dikatakan gelombang ketiga, karena khatib naik mimbar sekitar 40 menit sebelum adzan Ashar. Khatib berkhutbah kira-kira 30 menit, kemudian shalat Jumat. Setelah rehat sejenak, dilanjut dengan adzan dan shalat Ashar berjama’ah.

Juga dikatakan ‘terpaksa’, karena aku biasanya shalat Jumat awal waktu. Shalat pada gelombang ketiga hanya kulakukan saat ada urusan yang tidak bisa ditunda.

***
Untunglah di Tunis ini ada beberapa pilihan waktu shalat Jumat : awal waktu (dimulai sekitar jam 12.30), pertengahan (dimulai pukul 14.00), dan akhir (dimulai jam 15an atau menjelang Ashar).

Pembagian jadwal ini ditetapkan oleh pemerintah. Artinya, pemerintah yang menunjuk masjid A Jumat pertama, masjid B Jumat kedua, masjid C Jumat ketiga, dan seterusnya. Pertimbangan utamanya adalah lokasi masjid. Masjid di kawasan keramaian atau pasar, umumnya Jumat kedua atau ketiga. Seperti di masjid al Halq tadi yang berlokasi di dekat pasar tradisional. Masjid Agung Zitouna, menggelar Jumat pada gelombang kedua. Masjid dekat kawasan perkantoran, umumnya Jumat pertama, mengingat jam istirahat kantor biasanya pukul 12.30-14.00. Di kawasan pedesaan, mayoritas masjid juga menggelar Jumat pada gelombang pertama.

Dengan pembagian seperti ini, maka sebuah urusan yang sangat penting (yang seandainya ditunda akan lebih repot) atau acara-acara resmi, tidak mesti “harus dihentikan” pada jam 12.30, melainkan dapat tetap dituntaskan hingga jam 14.00 atau 15.00, tanpa kekhawatiran “tidak kebagian Jumat”.

Kebijakan pemerintah ini memberikan banyak kemudahan bagi umat. Setiap orang dapat memilih waktu Jumat sesuai dengan aktifitasnya. Hal ini jelas sejalan dengan prinsip raf’ul harj (menghilangkan kesulitan), yang merupakan salah satu karakter sekaligus maqasid (tujuan) syariat Islam. Dalilnya sangat banyak, baik dalam Al Quran maupun Hadits.

Mungkin pembaca bertanya-tanya, bolehkah shalat Jumat pada akhir waktu? Dalam fikih Maliki yang dianut Muslim Tunisia, waktu shalat Jumat adalah sama dengan waktu shalat dzuhur. Artinya, dimulai sejak tengah hari, berakhir saat datang waktu Ashar.  Dalam kitab al Mudawwanah al Kubra – kitab fikih induk kaum Malikiyah, berisi pendapat-pendapat Imam Malik yang ditulis oleh murid-muridnya – disebutkan bahwa Sahnun bertanya kepada Abdurrahman, apa pendapatmu jika imam beserta makmumnya belum shalat Jumat hingga datang waktu Ashar? Abdurrahman menjawab, tunaikan saja shalat Jumat meskipun matahari sudah terbenam.

Keluasan waktu ini dimanfaatkan oleh pemerintah Tunisia untuk menerapkan sebuah kebijakan sesuai dengan kebutuhan atau kemaslahatan  masyarakat luas. Waktu pelaksanaan Jumat dibuat fleksibel, supaya aktfitas warga tetap berjalan baik. Warga yang memilih waktu-waktu itu, sesuai dengan kemaslahatan dirinya. Bukankah setiap kebijakan pemerintah itu harus didasarkan atas kemaslahatan (manutatun bil mashlahah)?

***
Di sisi lain, pembagian gelombang Jumat ini menyisakan beberapa persoalan. Di antaranya : pertama, seseorang tidak akan ketauan jika ia memang tidak shalat Jumat. Ketika diajak Jumat jam 13.00 siang, ia bisa saja menjawab, nanti mau ikut gelombang kedua. Maka tak heran jika saat shalat Jumat pertama berlangsung, kafe tetap penuh, pasar tetap rame, jalan raya tetap macet. Apakah mereka tidak shalat Jumat? Belum tentu. Khan nanti ada jumat kedua dan ketiga.

Dengan demikian, jika ada program razia pria Muslim yang tidak Jumatan - sebagaimana diterapkan di beberapa daerah di tanah air- tentu tidak akan berjalan efektif, karena setiap orang bisa berkilah.
Kedua, mungkin soal syiar. Jika Jumat digelar satu waktu alias serentak, terlihat berduyun-duyunnya jemaah menuju Masjid. Silaturahmi pun terbangun lebih optimal, karena hampir semua orang ada di Masjid pada saat yang bersamaan. Sisi ini tidak akan terjadi pada Jumat 3 gelombang seperti di Tunis.

Ketiga, tentang makna ayat, “fas’au ila dzikrillah wa dzarul bai’. Jika adzan Jumat telah berkumandang, maka akad jual beli atau transaksi bisnis lainnya hukumnya haram. Demikian pendapat Jumhur ulama, sebagaimana dipaparkan al Qurthubi dalam tafsir ahkamnya. Jika shalat Jumatnya tiga gelombang, apakah hukum ayat ini juga tetap berlaku? Perlu didiskusikan lebih lanjut oleh para ahli ilmu. Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, 28 Maret 2015    

Friday, December 05, 2014

Media Arab

Skandal Kemukus di Media Arab


Majalah Rouz el Yusuf edisi 29 Nop 2014, halaman 36 

Pemberitaan media-media Arab tentang Indonesia, sejauh yang pernah kusaksikan, lebih sering berita buruknya. Jarang sekali ada berita yang baik-baik. Kalo bukan tentang bencana alam, biasanya tentang kriminalitas, konflik minoritas, kasus korupsi pejabat, penderitaan kaum marginal, atau tentang skandal seks.

Seperti laporan yang dimuat majalah terbitan Kairo, Rouz el Yusuf (disingkat RY), edisi minggu ini, nomor 4511 tanggal 29 Nopember 2014. Pada halaman 35-39, RY menulis laporan khusus berjudul "Jabal al Jins fi Indonesia". Gunung Seks di Indonesia. Sebuah berita yang menghebohkan public di tanah air beberapa waktu lalu. Laporannya di RY kubaca tadi pagi. Guna mendukung kekuatan berita, RY memasang empat buah foto, semuanya menampilkan gambar wanita-wanita Indonesia berbaju minim.

Kendati berada di Tunis, aku biasa menikmati majalah RY di kios-kios koran di Tunis. Selama tinggal di Kairo (2002-2005), aku memang berlangganan majalah mingguan terbesar di Mesir ini. Seorang rekan di Mesir dulu mengatakan, RY adalah majalah Tempo-nya Mesir.

***
Tema tentang skandal seks di bukit Kemukus hanyalah ‘pintu masuk’ bagi majalah RY untuk menyampaikan pesan utamanya, yakni tentang betapa praktik perzinaan / prostitusi berlangsung marak di negeri berpenduduk Muslim terbesar ini.

Di halaman 36, RY menulis, “Meskipun Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia, tetapi Indonesia termasuk negara yang paling banyak praktik prostitusinya”. Di bidang keagamaan, lanjut RY pada halaman yang sama, umat Islam Indonesia memiliki sejumlah ritual tradisional yang aneh dan kontroversial (at thuqus al mutsiroh li al jidal). Karena itu, kata RY, Indonesia adalah salah satu negara di muka bumi ini yang paling banyak keanehannya. (Wahidatun min ad dual al aktsar ghurabatan fi al ‘alam)

Pada halaman 37, RY bercerita tentang lokalisasi Gang Dolly di Surabaya. “Meski Indonesia adalah negara Muslim, tetapi praktik transaksi seksual (tijarat al jins) masih tersebar luas. Salah satunya adalah kawasan Dolly di Surabaya, yang merupakan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara”. Kemudian, “Di kawasan Dolly saat ini, ada sekitar 2500 wanita PSK, yang umumnya berasal dari berbagai daerah pinggiran”. Upaya pembubaran lokalisasi Dolly yang dilakukan pemerintah, kata RY, mendapat tentangan keras dari berbagai kalangan.

Setiap tahunnya, masih kata RY, ada 80 ribu hingga 100 ribu wanita dan anak di bawah umur yang menjadi korban perdagangan manusia, untuk dijadikan budak seks (al istiglal al jinsi).

Keanehan lain, kata RY di halaman 38, partai-partai berhaluan Islam di negeri bependuduk mayoritas Muslim ini, kalah dari partai nasionalis-sekuler. Lebih aneh lagi, masih kata RY, para tokoh partai Islam itu malah terlibat kasus suap dan korupsi, juga perkawinan dengan anak di bawah umur (‘alaqat jinsiyah ma’a fatayat qashirat). Padahal partai-partai itu suka mengusung jargon sebagai penjaga akhlak (haris al akhlak) di negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini.     

Sedangkan yang terkait keanehan Jabal al Jins itu sendiri, RY menceritakan ritual seks yang dilakukan oleh para peziarah di Gunung Kemukus, Jawa Tengah, persis sebagaimana diberitakan oleh media-media di tanah air belum lama ini. (Apa yang dipaparkan RY di halaman 38-39 tentang ritual di Kemukus, rasanya tidak perlu kutulis ulang di sini. Pembaca mungkin umumnya sudah mengetahuinya J). Di ujung tulisan, RY mengatakan, “Anda takkan menjumpai ritual seperti ini di bagian dunia Islam manapun” Wa lan tajida ayya tuqusin mitsla hadza fi ayyi juz’in mi al ‘alam al Islami.  

***
Membaca pemberitaan RY tentang Kemukus, bikin ngeri-ngeri sedap juga. Maksudku, praktik ritual seks di bukit Kemukus memang merupakan kenyataan. (Dan sekarang pemerintah setempat berusaha menutupnya. Alhamdulillah). Beritanya dimuat di media Arab, itu juga tidak bisa kita cegah, karena keinginan untuk mengetahui sesuatu, adalah hak dasar setiap individu yang harus kita hormati.

Akan tetapi, model pemberitaan yang dilakukan oleh mingguan sekaliber RY, menurutku patut disayangkan. Jika ditilik dari cara RY bertutur, kelihatan sekali bahwa beritanya itu adalah hasil copas atau terjemahan dari media-media lain. Artinya, RY tidak punya peliput langsung dari Indonesia.

Kemudian, beberapa klaim atau kesimpulan yang diambil RY, tidak didasarkan pada data yang memadai. Melainkan disandarkan pada data-data umum yang belum tentu pas untuk dikaitkan. Qiyas ma’al Fariq, alias jauh panggang dari api. Aku ingat salah satu pelajaran jurnalistik yang kudapat saat menjadi koresponden di sebuah media nasional dulu, bahwa “Jika Anda data Anda bolong, berhentilah menulis, karena Anda akan berbohong”.  Andai saja RY mau melengkapi tulisannya dengan kutipan-kutipan hasil wawancara..

Berita-berita yang tidak menyenangkan seperti ini – terlebih ditulis secara tidak professional oleh medianya - akan semakin menjauhkan image positif orang lain tentang Indonesia. Para WNI di perantauan perlu menyiapkan jawaban yang positif jika sekali-kali nanti ada pertanyaan dari orang asing tentang skandal Kemukus, atau tentang keindonesiaan secara umum. Kita semua adalah duta bangsa, bukan?! Salam Manis dari Tunis.  


Tunis al Khadra, 04 Desember 2014

Wednesday, December 03, 2014

Tunis Pilpres 2014

Akankah Rezim Otoriter Kembali Berkuasa di Tunis


Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden (Tahap I) di Tunisia yang baru saja berlangsung, dimenangkan oleh partai nasionalis sekuler. Sejumlah pihak mengkhawatirkan rezim lama yang otoriter itu hidup lagi, sebagaimana yang telah terjadi di Mesir.

Suatu siang aku berjalan menyusuri gang sempit dekat kediamanku di kawasan Makal Zaim, Tunis. Terdengar obrolan rombongan ibu-ibu yang berjalan di belakangku.
“Kamu kemaren pilih Sibsi?”
“Ah tidak. Aku disuruh suamiku milih Marzuki”
“Terus, kamu pilih Marzuki?”
“Tidak juga. Aku pilih Riyahi saja, hahaha..”
Aku tengok ke belakang, ternyata tiga wanita separuh baya yang baru pulang dari pasar. Tangan mereka menenteng belanjaan.
Di persimpangan, aku belok kanan menuju kediaman. Ibu-ibu itu belok kiri. Obrolan mereka terus berlanjut, diselingi sesekali gelak tawa.

***
Marzuki, Sibsi, Riyahi, adalah nama-nama yang sedang jadi pembicaraan orang Tunis saat ini. Selain Hamah al Hamami, Mohamed al Hashimi al Hamidi dan lain-lain. Mereka semua adalah calon presiden yang baru saja berlaga di arena Pilpres yang diikuti oleh 23 kandidat (dari semula 28), Minggu 26 Nopember 2014 lalu.

Hasilnya sudah diumumkan. Al Baji Qaid as Sibsi yang diusung oleh Nida Tunis, meraih suara 39 persen suara, disusul oleh Dr Munsif Marzuki, sang presiden incumbent, dengan 33 persen. Di bawahnya lagi ada al Hashimi al Hamidi dari partai al Mahabbah, kemudian sang pengusaha muda Salim Riyahi yang diusung al Ittihad al Wathani al Hurr

Menurut aturan Pilpres di Tunis, jika tidak ada calon yang meraih 50 persen plus 1, maka diadakan pilpres putaran kedua, diikuti oleh 2 calon tertinggi. Maka, as Sibsi dan  Marzuki yang melenggang pada babak final, akhir Desember ini, insya Allah.  

***
Kemenangan Sibsi pada tahap pertama ini, melengkapi kemenangan partainya pada Pileg 23 Oktober 2014 lalu. Saat itu, Nida meraih 83 kursi (dari total kursi parlemen 217). Partai Islam Nahdah berada di peringkat kedua (68 kursi), kemudian al Ittihad al Wathani al Hurr (17 kursi) dan al Jabhah as Sya’biyah (12 kursi). Lainnya, hanya di kisaran 5 kursi.

Kini, Sibsi sedang berhadapan face to face dengan Marzuki. Dr Munsif Marzuki adalah calon independen, alias tidak diusung oleh partai politik. Ia maju mengandalkan popularitas, yang saat ini tengah menjabat sebagai presiden, sejak 2011.

Pada Pilpres lalu, suara 33 persen yang dimiliki Marzuki nampaknya berasal dari kalangan Islamis, termasuk Nahdah. Meskipun Nahdah menegaskan bersikap netral, tidak mendukung kandidat manapun.

Marzuki sebenarnya seorang intelektual yang berhaluan sekuler. Tahun 2011, ia bisa menjadi presiden karena diusung oleh partai Takattul, yang berkoalisi dengan Nahdah dan Partai Muktamar. Kesepakatan koalisi 3 partai hasil Pemilu 2011 ini adalah : kursi presiden untuk Takattul, kursi ketua parlemen untuk Hizb al Muktamar, dan kursi Perdana Menteri untuk Nahdah. Nahdah selaku partai pemenang Pemilu waktu itu tidak tertarik mengambil kursi presiden, karena dalam system ketatanegaraan di Tunis, kursi Perdana Menteri lebih punya ‘power’.

Dan Sibsi, adalah tokoh 3 generasi. Sejak masa presiden Habib Borguiba (memerintah 1957-1987) dan masa Ben Ali (periode 1987-2011), beberapa kali ia menjadi menteri. Pantas jika kubu Marzuki menuduh Sibsi sebagai representasi rezim lama yang sekuler. Kemenangan Sibsi adalah ancaman bagi kebebasan yang tengah dinikmati warga Tunisia saat ini. Jika Sibsi menang, nanti Tunis akan seperti Mesir : kembali ke pangkuan rezim otoriter. Bukankah Sibsi dan Sisi dalam tulisan Arab hanya beda titik?! Sibsi titiknya satu (huruf ba), dan Sisi titiknya dua (huruf Ya). Revolusi Melati diperjuangkan oleh anak muda, mengapa kekuasaan kemudian harus diserahkan kepada orang tua? Demikian di antara poin yang disuarakan oleh kubu Marzuki dalam kampanye ‘hitam’nya. Sibsi dinamakan orang tua, karena memang usianya sudah tak muda lagi : 87 tahun !

***
Aku amati di media cetak dan elektronik, persaingan nampak sudah mulai memanas. Di tengah suasana kota Tunis yang mulai memasuki musim dingin. Seperti halnya Prabowo vs Jokowi di tanah air pada pilpres lalu. Jika calon hanya dua, persaingan akan meruncing, karena tidak ada kubu penyeimbang alias penggembira.

Sejak hasil Pileg diumumkan pada akhir Oktober lalu, kubu Sibsi langsung beraksi. Dalam sebuah konferensi pers, Sibsi mengeluarkan pernyataan yang kontroversial : nasionalisme orang-orang Tunisia selatan masih diragukan. Karena di kawasan selatan, Nahdah meraup jumlah kursi secara signifikan dan mengalahkan Nida, partainya Sibsi. Sedangkan Nida menang di propinsi-propinsi utara.

Usai pengumuman hasil pilpres kemaren, Sibsi juga langsung menuduh orang-orang yang memilih Marzuki sebagai kelompok garis keras yang anti demokrasi. Kata Sibsi, Pilpres Desember ini adalah pertarungan antara kubu nasionalis versus Islam radikal.

Media local, baik cetak maupun elektronik juga mulai memuat berita-berita kampanye, serta serangan antarkubu. Kadang capek juga membacanya. Tapi aku amati, kampanye sehitam apapun, tidak menjelek-jelekkan lawannya secara personal. Tak seperti segelintir kelompok yang bermental picik di tanah air, yang ‘menggugat’ privasi sosok Jokowi atau sosok Prabowo.  Anak China lah, keislamannya diragukan lah, dan aneka tuduhan lain yang lebih banyak bohongnya itu.

Salah satu acara kampanye yang menarik adalah malam tadi, alias Selasa (02/12) malam. Yakni acara yang ditayangkan stasiun TV al Jazeera secara live : al Ittijah al Muakis, Pro Kontra. Dua nara sumber dari kedua kubu. Dari kubu Sibsi, ada Hasan ben Usman. Sedangkan dari kubu Marzuki, ada Salim Bouhudzair. Aku menonton acara ini. dari awal sampai akhir, kedua kubu berdebat panas. Khas orang Arab : tak ada yang mau mengalah.

Rabu dini hari ini, aku lihat sejumlah media online di Tunis ramai membicarakan acara andalan al Jazera ini. Beberapa menuding Dr. Faishal al Qasim – sang presenter acara - yang tidak adil, lebih condong ke Marzuki. Bahkan, kalimat pengantar yang disampaikan al Qasim pun dinilai provokatif. Ya maklum, al Jazera khan lebih dekat ke ikhwan. Pantas jika ia lebih memberikan ruang ke Marzuki, yang nampaknya akan didukung Nahdah, “adik kandung” ikhwanul muslimin.

*** 
Siapakah yang nanti akan terpilih sebagai presiden keempat di negeri di ujung utara benua Afrika ini? Jika Marzuki yang terpilih, apakah dapat dikatakan sebagai kemenangan kembali Islam politik di Tunisia? Jika as Sibsi yang menang, apakah ia juga akan seperti as Sisi di Mesir : menjadi symbol kembalinya rezim lama? Jika as Sisi membebaskan Mubarak dari segala tuduhan, apakah as Sibsi juga akan membebaskan Ben Ali? Kita lihat saja nanti ya. Kalo dijawab sekarang, terlalu dini untuk berspekulasi.

Siapapun yang menang, semoga kebebasan tetap dijamin. Agar ibu-ibu di perkampungan tetap bisa ngobrol tentang politik, seraya menenteng sayuran, seperti yang kusaksikan itu. Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, 03 Desember 2014   

Tuesday, November 25, 2014

Revolusi Damai

MENGAPA REVOLUSI TUNISIA BISA BERLANGSUNG DAMAI

Penghitungan suara Pilpres di Tunis, 23 Nop 2014. Sumber : as Sharq al Ausath

Tadinya saya mau menulis tentang hasil Pemilu Presiden di Tunisia yang baru berlangsung 23 Nopember 2014 kemaren. Mumpung masih hangat dan ramai dibicarakan orang. Dalam tulisan itu saya akan mengaitkan hasil Pemilu – yang dimenangkan oleh partai sekuler - dengan analisa ringan tentang masa depan kehidupan keagamaan dan pendidikan Islam di negeri berpenduduk 99 persen Muslim ini.

Akan tetapi, saat jemari ini mulai menari-nari di atas keyboard laptop, alam pikiran saya menerawang ke sejumlah persoalan yang saya amati jauh sebelum Pemilu, dan sebenarnya melandasi kesuksesan Pemilu itu sendiri, yakni tentang revolusi Tunis (Arab Spring) secara umum.

Mengapa masa transisi dari revolusi menuju demokrasi di Tunisia ini bisa berlangsung secara damai hingga hari ini? Mengapa agenda-agenda politik yang diamanatkan revolusi – termasuk Pemilu 2011 dan 2014 ini - juga berlangsung aman, tanpa banyak kendala besar yang menghalangi. Demikian di antara pertanyaan besar yang mengusik benak saya. Sekaligus juga pertanyaan yang pernah dilontarkan beberapa rekan di tanah air dan belum saya jawab secara tuntas.

***
Masa transisi di Tunisia memang relative stabil, minim – untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali - aksi-aksi kekacauan massa yang menimbulkan pertumpahan darah. Berbeda dengan yang kita saksikan di negeri-negeri revolusi lainnya di Tanah Arab seperti Libya, Mesir, Suriah, atau Yaman. Beberapa factor yang melandasinya adalah :

Pertama, tingkat pendidikan masyarakat yang baik. Sebagaimana pernah saya sampaikan beberapa waktu lalu, bahwa perhatian pemerintah Tunisia untuk sector pendidikan ini sangat luar biasa, 26 persen APBN digelontorkan untuk dunia pendidikan. Buahnya sekarang dinikmati oleh siapapun yang belajar di negeri berpenduduk 11 juta jiwa ini. Wajib belajar SMA sudah berlangsung sejak lama, biaya kuliah murah meriah, profesi guru dan dosen adalah pekerjaan favorit orang Tunis. Di negeri termakmur ketiga di Afrika ini, tidak ada keluhan rakyat soal biaya pendidikan atau biaya kesehatan yang tinggi.

Apa kaitan tingkat pendidikan dengan kemulusan revolusi? Oh, besar sekali. Pendidikan yang baik akan membentuk pola pikir yang lebih rasional dan dewasa. Orang yang berpendidikan baik – terlebih didukung ekonomi yang baik - tidak akan mudah terprovokasi alias dihasut, apalagi untuk ikut-ikutan demo bayaran.

Konstelasi politik di Tunisia sebenarnya terus memanas, sejak Pemilu Oktober 2011 hingga hari ini. Perseteruan antara parpol sekuler melawan parpol Islam nyaris tak henti. Tapi semua itu hanya berlangsung di ruang sidang parlemen, dan kemudian hanya jadi tontonan rakyat saja, tidak berimbas ke kehidupan rakyat. Menurut saya, itu karena rakyat yang berfikir dewasa.

Saya ingat sebuah anekdot obrolan antara mendiang Habib Borguiba – presiden Tunisia yang memerintah tahun 1957-1987 – dengan Muammar Kadafi, pemimpin Libya. Borguiba bertanya, “Mengapa uangmu yang melimpah itu kau habiskan untuk membeli senjata? Bukan untuk pendidikan rakyat?” Kadafi menjawab, “Agar militerku kuat, sehingga saya nanti tidak bisa dikudeta oleh rakyat”. Borguiba menjawab, “Dikudeta oleh rakyat yang berpendidikan, lebih terhormat daripada dikudeta oleh rakyat yang bodoh”.

Wallahu A’lam tentang keabsahan sanad cerita ini. akan tetapi, isi obrolan keduanya kini menjadi kenyataan. Keduanya dikudeta. Borguiba dikudeta militer tahun 1987, Kadafi dikudeta rakyat tahun 2011. Bedanya, Kadafi digulingkan secara tidak terhormat, bahkan ia dibunuh rakyatnya sendiri. Hingga hari ini, rakyat Libya terus berseteru, memperebutkan kursi kekuasaan. Sedangkan Borguiba digulingkan melalui proses politik, tanpa pertumpahan darah.

Kedua, para politisi di Tunisia tidak mau ngotot. Sebaliknya, mereka mudah mengalah untuk kepentingan bersama. Hal ini sebagaimana saya tulis dalam catatan berjudul : “Mau Mengalah, Kunci Kemulusan Revolusi Tunis”, beberapa waktu lalu.

Sikap mau mengalah ini, terutama ditunjukkan oleh pada politisi partai Nahdah, pemenang Pemilu Legislatif tahun 2011. Dalam Pemilu jurdil pertama di era revolusi itu, partai kembaran Ikhwanul Muslimin ini meraih 90 kursi, dari 217 kursi parlemen. Nahdah pun memegang tampuk kursi pemerintahan.

Seharusnya, pemerintahan hasil Pemilu 2011 itu berlangsung hingga Pemilu 2014 ini. Tapi apa yang terjadi? Selama 3 tahun berkuasa (2011-2014), pemerintahan Nahdah tak henti digoyang. Kaum oposisi yang berhaluan sekuler terus merongrong. Pemerintahan Islam diganggu dengan berbagai persoalan, dari kasus salafi hingga penembakan tokoh politik.  Imbasnya, pemerintahan Nahdah terusik, hingga 3 kali ganti cabinet.

Saya datang ke Tunis Nopember 2012. Hingga Nopember 2014 ini – atau tepat 2 tahun keberadaanku - total 3 kali pergantian Perdana Menteri dengan 3 paket kabinetnya. Nahdah mau saja mengikuti desakan-desakan mundur kaum oposisi, tiada lain demi kemaslahatan negara secara luas.

Salah satu kunci utama keluwesan sikap politik Nahdah ini tak lepas dari sosok Syekh Rashid Ghannushi, pemimpin spiritual sekaligus pemimpin partai Nahdah. Ghannushi, seorang intelektual-ulama yang dikenal moderat yang sangat berpengaruh kuat di Tunis. Di bawah kepemimpinannya, Nahdah sangat kompromistis dalam perundingan-perundingan, tidak ngotot mengusung formalisasi syariat, menuruti kemauan para pesaingnya untuk tidak mengusung capres sendiri pada Pilpres 2014 kemaren, mudah menerima tawaran koalisi, dan sebagainya. 

Ketiga, netralitas militer. Saya menyaksikan betapa rakyat Tunisia sangat membanggakan militernya. Bangga karena mereka tidak ikut-ikutan berpolitik. Mereka murni mengabdi demi kepentingan rakyat, selalu berada di pihak rakyat, tanpa tergoda oleh manisnya kue kekuasaan.

Sudah menjadi cerita popular di Tunis, ketika presiden Ben Ali digoyang demo besar-besaran pada penghujung tahun 2010 dan awal 2011. Ben Ali menginstruksikan panglima militer untuk mengambil tindakan mengamankan para pendemo yang sudah mulai radikal. Kalo perlu, para pendemo yang anarkis itu di-dor saja, demikian kira-kira titah sang Presiden. Apa yang terjadi? Apakah sang panglima mematuhinya? Ternyata tidak. Justru ia balik kanan, meninggalkan sang presiden, dan bergabung bersama rakyat.

Andai saja militer Tunis kala itu bisa disetir seperti di Mesir, mungkin lautan pendemo di alun-alun Habib Borguiba Avenue tanggal 14 Januari 2011 lalu dibabat habis. Tragedy Rab’ah bisa terjadi di Tunis. Tapi ternyata tidak. Karena militernya tidak mau menembaki rakyat.  

Pasca revolusi ini, militer kembali dielu-elukan rakyat, karena tak henti berjuang menumpas kaum teroris radikal yang belakangan ini mengusik ketenangan rakyat. Rakyat menyaksikan bagaimana militer melakukan penyerbuan ke bukit Sha’anbi, di Tunisia selatan, dekat perbatasan Aljazair. Di bukit ini, jaringan Al Qaeda cabang Mangrib Arabi bermarkas. Konon, mereka sedang menyiapkan proklamasi Negara Islam Magrib Arabi.  

Keempat, intervensi asing yang minim. Amerika tidak begitu tertarik untuk ikut-ikutan bermain dalam proses revolusi di Tunisia, apalagi mengendalikannya. Mungkin karena Tunisia adalah negara kecil, tidak punya apa-apa, dan bukan negara berpengaruh.

Coba lihat perjalanan  revolusi di negara tetangga sebelah : Libya. Amerika begitu sibuk terlibat, karena Libya memang negeri penghasil minyak. Ibarat pepatah, di mana ada gula, di situ ada semut. Irak nun jauh di sana juga sama ; diintervensi Amerika sehingga konflik berkepanjangan terus terjadi. Karena nampaknya Amerika juga tergiur dengan minyak yang melimpah di negeri Saddam Hussein ini.

Di Mesir, intervensi Amerika juga besar. Tetapi bukan karena factor minyak, karena Mesir bukan negara penghasil minyak. Mesir adalah negara Arab terbesar, dan pengaruhnya sangat kuat di Timur Tengah. Menguasai Mesir adalah salah satu kunci utama untuk menguasai Arab. Demikian kira-kira pikiran Amerika.  

Kalo ke Tunis, apa yang Amerika cari?! Negaranya kecil, penduduknya sedikit, tidak punya minyak, miskin sumber daya alam pula. Tunisia hanya memiliki zaitun (perkebunan) dan posphat (tambang). Selebihnya, devisa negara hanya mengandalkan sektor wisata yang dikemas bagus. Tunis hanya punya manusia 11 juta jiwa, sebagian besar mereka mengenyam pendidikan tinggi.  Atau istilah yang saya gunakan dalam tulisan lalu : miskin SDA, tetapi kaya SDM.
***
Sebenarnya masih banyak factor lain, selain empat yang saya sebutkan di atas. Tapi saya sudahi saja dulu sampai di sini. Kalau dilanjutkan, tulisan ini terlalu panjang untuk ukuran catatan di blog, hehe. Semoga kita semua bisa mengambil 'ibrah (pelajaran) dari setiap peristiwa yang kita alami, atau yang kita saksikan dalam kehidupan harian. Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, senja 24 Nopember 2014