Wednesday, October 26, 2005

Mesir, Aku Pamit

Papyrus

di Khan Khalili
aku mencari sebentuk hadiah
sebagai kenangan bahwa aku pernah singgah di kotamu,
Musa

tapi tidak kutemui selain kerdip lampu Mesjid Husein yang menandai hari berangkat malam
bau syisya merebak diantara ahwaji di pinggir jalan
besok lusa aku meninggalkan tepian tempatmu berlabuh di pangkuan Ramsis

bayang-bayang itu masih lekat dalam ingatan
setelah aku menyaksikan fragmen masa lalumu di Ragab Pharaoh Nil
kemaren sore diantara jazirah dari perahu yang membelah sungai Nil
dan bungkusan mummi yang membuat aku mual setelah bertandang di museum Tahrir.

aku inginkan sebentuk kenangan
bukan sekeping nostalgia diantara imarah berdebu dari ringkikan keledai
dan kereta barang yang bergerak membelah kota bersama mobil yang berpacu membelah jalan
bukan
bukan pula wajah masam madam sabah yang menagih kontrakan sya’ah
setiap habis bulan

aku inginkan kenangan yang manis
semanis anggur banati atau anggur rubbi mandanillu ataupun asab
di pinggir hadikah dauliyah, tempatku biasa minum
atau seperti rasa bar’uq sukkari yang senantiasa kusuka meski asam ada manis-manisnya.

tapi apakah lagi kenangan itu
di benteng Shalahudin al Ayubi, ketika musim panas tiba aku lihat penjaja hummus.
di puncak muqattam pun aku temui, terasa waktu dalam kurun yang purba
dengan jagung bakar di tangan lebih membuat aku tertarik menikmati matahari tenggelam bersama hamparan pasir di lembah kota
suara deram turummoi membawaku sampai ke sayyidah zeinab, mesjid tua itu
senantiasa membuat aku ingin singgah setiap saat
keinginan yang tidak pernah kesampaian
menuju Manial melewati Imbaba, selokan air yang menggantung tinggi membatasi penglihatan dari sedikit kuburan penduduk yang tertutupi tengah kota, mengalah pada bangunan baru funduq penampung turis berbintang lima sepanjang cornice.
Kahirah yang usang di waktu siang berubah jelita di waktu malam,
bertabur lampu mercuri dan gemerlap bintang-bintang malam

kusinggahi Uyun Musa di tepi laut merah dan terusan Suez
airnya membuat aku menggigil dan gemetar
sementara tanpa pepohonan matahari bebas memanggang kulitku
dan hembusan angin yang liar sepanjang jalan ke Fayyum
ketika kudatangi tunggul ketamakan Qarun di danaunya
serasa kudengar gemerincing kunci gudang hartanya
dihela beberapa kuda

apalagikah kenangan itu
lorong kecil di dalam pyramid dengan sedikit oksigen
membuat aku sesak hanya unutk melihat tempat peristirahatan para Firaun
kenapa begitu jauh kau gali tanah untuk menaruh sekerat ragamu
apa karena kau ingin keangkuhanmu abadi
dan dikenang sepanjang zaman

katakan padaku,
apa yang dapat kubawa pulang selain kenangan silam dari kota tua,
kota seribu menara ini

lonceng dan adzan bergema bergantin kadang bersamaan
penggembala domba bebas memasuki jalan
berjalan bergerombolan pergi pagi hari dan pulang jika matahari terbenam ke sebelah sahara
jauh dari penglihatan pasha-pasha yang butuh air susunya

alir-alir Nil di sela-sela kota
tepian yang menyimpan bunga air dan rumput-rumput

papyrus yang merebak tanpa kata
kupikir, biar kukemas saja
pada satu catatan di kertas lama
seperti pada purbanya ingatan
yang terlukis pada zaman yang kau lalui,
Musa
Fatin Hamama, Papyrus, Cairo, 1995

Monday, October 17, 2005

SSM 20 : Makanan Pedas

Orang Mesir Tak Suka Makanan Pedas
Pemandangan di salah satu restoran terapung di Sungai Nil
Setiap usai tarawih, pengurus Mesjid Indonesia Kairo menyediakan makanan khas Indonesia bagi para jemaah. Kadang berupa bakso, tekwan, mpe-mpe atau bahkan soto. Makanan ini dihidangkan di lapangan belakang mesjid.
Beberapa kali saya memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan makanan Indonesia kepada para murid kursus Bahasa Indonesia. Agar para murid juga bisa berbincang santai dengan para jemaah, untuk memperlancar kemampuan bahasa mereka.
Lokasi belajar kami masih satu gedung dengan mesjid Indonesia. Mesjid di lantai dasar, kelas kami di lantai atasnya. Sedangkan jadwal belajar selama Ramadan adalah usai salat Isya hingga menjelang jam 21. Jadi, kami selesai belajar kala para jemaah tarawih sedang bersiap-siap untuk menikmati hidangan.
Ahad malam pekan lalu, menu yang dihidangkan adalah bakso. Empat orang muridku nampak sangat lahap.Gurunya jadi ikut-ikutan, hehe.. “Bakso ini enak. Saya cinta bakso”, tutur Eyad, salah seorang murid yang sehari-harinya bekerja sebagai guru fitness dan bela diri. Eyad benar. Bakso malam itu memang terasa gurih dan nikmat.
Malam tadi, keempat muridku kembali kuajak turun ke lapangan. Usai belajar, tentu. Tareq, yang sejak di kelas sudah gelisah ingin segera ke lapangan, bertanya kepada saya. “Makan apa sekarang? Saya mau bakso lagi”. Saya hanya tersenyum simpul.
Dengan langkah pasti dan penuh semangat, kami berlima berjalan menuju lapangan belakang. Oh, rupanya menu kali ini adalah mpe-mpe, makanan favorit saya. “Apa ini?!” tanya Ibrahim, seorang murid bertubuh besar, kala ia menerima semangkok mpe-mpe dari tangan saya. Maka mulut saya pun nyerocos bercerita soal mpe-mpe kepada para murid. Beberapa orang jemaah yang ada di sekitar kami nampak tersenyum. “Silahkan makan. Ini sangat enak”, tuturku mantap, sambil mengacungkan jempol, mengakhiri ceritaku soal mpe-mpe. Spontan para murid melahap makanan khas Palembang itu.
Belum setengah menit kami mulai makan, Ibrahim tiba-tiba mengaduh. Mangkok mpe-mpe ia letakkan di meja. Lalu ia berdiri mencari minuman. “Pak Guru, makanan ini tidak bagus. Tidak bagus”, kata dia sambil nyengir. Matanya berkedip-kedip. Saya kaget. “Kamu kenapa Ibrahim?”. Belum sirna kekagetan saya, tiba-tiba ketiga murid yang lain melakukan hal yang sama. Beranjak dari kursi seraya meletakkan mangkok di meja. Muka mereka menyeringai. Mulut mereka terbuka. Hah, hah, hah. Ya salam, rupanya mereka kepedasan. Saya lupa, kuah mpe-mpe itu sedikit pedas. Dan orang Mesir itu memang tak suka rasa pedas. Kecuali dalam takaran yang sangat minim.
Keempat muridku sibuk minum air putih. Empat mangkok mpe-mpe itu dibiarkan di meja. Isinya masih utuh. Aku hanya tersenyum simpul. Dasar orang Mesir. Makanan senikmat ini diabaikan hanya karena sedikit pedas. Gimana kalau dikasih sambel goang ala Pasundan atau menu masakan Padang..?!
Saya jadi teringat kisah Vivian, seorang murid lain yang pernah tinggal di Bandung pada bulan Juli 2003. Usai kursus di KBRI Kairo, gadis Mesir berusia 27an tahun ini pergi ke Bandung, untuk memperlancar bahasa Indonesianya. Sekalian pelesiran di kota kembang. Kala berangkat meninggalkan Kairo, ia begitu mantap berencana tinggal setidaknya 3 bulan. Eh, ternyata, ia hanya sanggup bertahan 1 bulan. “Makanan di Bandung semua pedas.. huh hah, huh hah... Saya sakit perut setiap hari”, kata dia penuh ekspresi. Saya hanya tertawa terpingkal-pingkal.
Begitulah orang Mesir ; tidak bisa mengkonsumsi makanan pedas. Hingga bisa dipastikan, semua makanan khas Mesir tidak beraroma pedas. Tursi, jenis makanan pelengkap – terdiri dari bahan sayuran seperti wortel, mentimun - yang sangat populer di Mesir, memang ada cabenya. Tetapi aroma pedasnya hilang karena pengaruh cara memasak. Pun juga salatah, sambal-nya orang Mesir. Rasa cabenya nyaris tak ada. Di restoran internasional semisal KFC, Hardees atau Pizza, saus-nya juga tidak terasa pedas. Masih lebih dominan saus manis rasa tomat.
Kusyari dan makaruna, dua jenis makanan murah yang kerap saya konsumsi kadang dicampuri bumbu beraroma pedas. Bumbu cair itu memang berwarna merah, hingga nampak seperti sambal yang pedas, bikin mulut bersuara huh ha huh hah.. serta mata berair. Tapi ternyata, pedasnya tak ada apa-apanya jika dibanding dengan selera orang Indonesia kebanyakan.
Bumbu makanan orang Mesir lebih kentara aroma bawangnya. Irisan bawang mentah disertakan dengan sayuran segar lainnya, biasa kita jumpai dalam menu-menu masakan khas Mesir.
Daripada rasa pedas, orang Mesir lebih suka rasa asin. Jika mereka bikin kue, rasa manisnya sangat terasa. Giung, kalo kata orang Sunda. Makanan beraroma pahit juga dikonsumsi orang Mesir. Seperti buah zaytun. Ada juga makanan yang dimasak tanpa aroma apapun. Seperti daging, yang kerap dimasak tanpa bumbu. Direbus begitu saja. Maka rasanya pun tawar. Rupanya, bagi orang Mesir, daripada pedas mendingan tawar tanpa rasa apa-apa.

Pinggiran Nil, 17 Oktober 2005