Buku Blog
"Berkelana ke Timur Tengah" ; dari Blog menjadi Buku

Usai lebaran ini, aku mendapat khabar gembira. Buku perdanaku, “Berkelana ke Timur Tengah” (selanjutnya disingkat BKTT) terbit di Erlangga, Jakarta. Mulai awal Oktober 2009, buku setebal 416 halaman ini insya Allah beredar di toko buku Gramedia, Walisongo, Gunung Agung, Kharisma dan perwakilan-perwakilan Penerbit Erlangga di seluruh pelosok tanah air.
Bagi pembaca setia blog www.dedepermana.blogspot.com, isi buku BKTT bukanlah hal baru. BKTT adalah kumpulan catatan harianku sebagaimana yang tertuang di blog. Hanya saja, bahasanya sedikit dipoles, biar agak pantas jadi bahasa buku.

Tentang isi BKTT, Penerbit Erlangga menulis di sampul belakang :
“Sekilas, Mesir, Tunisia dan Maroko, tak ubahnya negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Indonesia. Benarkah?
Dede Permana Nugraha dengan rapi mencatat setiap detail perjalanannya ke ketiga negara ini. Selama menempuh studi di sana, ia cermat menggali unsur-unsur budaya, seni, pendidikan, gaya hidup, pola beragama masyarakat Muslim Arab, hingga wisata ziarah Timur Tengah yang sangat terkenal. Tari perut, piramida, Al Azhar, Ummi Kulsum, darah perawan, aborsi legal, pelarangan jilbab, Habib Borguiba, Casablanca dan kota Marakesh, menjadi keseharian yang tak terelakkan”.BKTT adalah buku ringan, bukan buku ilmiah yang mengajak pembaca untuk berfikir atau bahkan mengernyitkan dahi. BKTT hanyalah penuturan monologku tentang beberapa potret kehidupan di Tanah Arab sana.
Lewat BKTT, aku ingin berbagi pengalaman dengan pembaca. Di sela-sela perjalanan studiku selama hampir enam tahun yang melelahkan - tanpa pernah pulang ke Tanah Air - dengan segudang cerita suka, duka dan derita, ternyata masih banyak keindahan dan pengalaman mengesankan yang kutemukan.
Harapanku, semoga kehadiran BKTT dapat memberikan manfaat positif untuk umat. Salam hangat.
Serang, 1 Oktober 2009
Gajah Sri Lanka
Menonton Gajah Mandi di Pinnewala
Aku di Pinnewala Elephant Orphanage, 80 km dari ColomboDalam sebuah perjalanan dari Colombo menuju kota Kandy, aku mampir ke Pinnewala Elephant Orphanage (Taman Pengasuhan Gajah), 80 km dari kota Colombo. Aku ingin lihat gajah dari dekat. Dulu di Tanah Air, beberapa kali diajak kawan kuliah yang orang Lampung, untuk melihat gajah di Way Kambas. Tapi tak pernah kesampaian. Nah, kesempatan itu ternyata malah datang saat aku di luar negeri. Kesempatan takkan datang dua kali..!
Maka, setelah melewati kota Kegalle, 77 km dari Colombo, Sunil – sopir yang mengantar perjalannku - membelokkan kendaraan ke arah kiri, menuju Rambukkana. Pinnewala Elephant Orphanage ada di jalur itu, jaraknya sekitar 5 km dari pertigaan. Pertigaan itu sendiri dikenal dengan nama Karandupona Junction, sekitar 25 km sebelum Kandy.
* * *
Jalan menuju Pinnewala agak sempit, aspalnya juga rusak. Pemandangan kiri kanan jalan adalah pepohonan rindang dan hutan kecil. Jarang sekali ada pemukiman penduduk. Sesekali ada bis umum bernomor 681, jurusan Kegalle-Rambukkana.
Dan sepuluh menitan kemudian, aku tiba di Taman Gajah yang kutuju. Lokasinya di sebelah kanan jalan. Kulihat ada pintu gerbang yang dijaga petugas. Beberapa pria lokal menghampiri mobil, lalu mereka berbicara dalam bahasa Sinhala dengan Sunil. Entah ngomong apa, aku tak faham. “Mereka itu para guide lokal yang menawarkan jasa guide”, kata Sunil beberapa saat kemudian. “Tapi saya bilang, kami tak perlu guide”, kata dia lagi tanpa menunggu komentarku. Aku mengangguk-angguk. “Bagus, Pak Sunil. Tak perlu guide, khan ada Bapak”, tuturku.
Sebelum masuk ke ke Taman Gajah, kami membeli karcis di loket. Di pintu, karcis diperiksa oleh polisi wisata yang berseragam lengkap. Tetapi ada juga polisi wisata dari kalangan wanita Sinhala yang berbusana Sari ; rok panjang, tetapi bagian perut terbuka sehingga pusarnya kelihatan. Mereka semua ramah dan fasih berbahasa Inggris.
Banyak juga turis bule yang kujumpai pagi itu. Mereka datang dengan mobil travel alias biro wisata. Untuk orang asing, tiketnya ternyata cukup mahal, yakni 1250 Rupees, atau setara dengan 125 ribu rupiah. Kalau untuk warga Sri Lanka, hanya 100 Rupees..!
* * *
Taman ini sebenarnya berupa hutan tempat gajah-gajah itu digembalakan. Taman ini mulai ada sejak tahun 1972. Waktu itu hanya ada 4 ekor anak gajah. Upaya perlindungan dilakukan karena dahulu gajah-gajah di Srilanka suka meninggalkan anaknya. Akibatnya, anak gajah itu stress dan mengamuk, merusak rumah dan tanaman penduduk. Penduduk pun terpaksa membunuh gajah-gajah itu. Saat ini, ada 70-an gajah di sini. Para pawang gajahnya dinamakan Mahout.
Menu wisata andalan di taman ini adalah kegiatan harian para gajah itu, baik berupa kegiatan makan (pukul 9.15, 13.15 dan 17.00), atau mandi (pukul 10.15 dan pukul 14.00).
Mula-mula para turis dibawa ke kandang besar. Di sana ada 2 ekor anak gajah yang sedang sarapan dedaunan, kemudian diberi susu oleh pawangnya dengan menggunakan botol susu besar. Kaki gajah itu dirantai. Gerakannya lucu juga. Kadang ia mengangkat-angkat kakinya, kadang juga memain-mainkan belalainya.
Kemudian para turis diajak ke lapangan luas, lokasi puluhan gajah berkumpul. Di tempat terbuka itulah, kami bebas mengambil gambar di antara sekumpulan gajah. Para turis diingatkan untuk tidak terlalu dekat ke gerombolan gajah. Beberapa papan peringatan bertuliskan “Don’t Go Beyond This Area”, nampak terpasang di sana.
* * *
Pukul 10.15, kami berjalan menuju ke pinggir sungai yang cukup lebar tapi dangkal. Airnya bersih karena dasar sungai itu adalah bebatuan. Lokasinya sekitar 200 meter dari lapangan.
Di sungai itulah para gajah itu dimandikan oleh para pawangnya. Sepertinya para gajah itu sudah terbiasa dimandikan. Buktinya mereka nampak enjoy bermain-main dengan air. Sesekali mereka bersuara. (Apa yach, suara gajah itu?!). Mereka diam saja saat tubuhnya yang besar itu disirami air oleh pawang-pawang itu. Bahkan beberapa di antara mereka duduk-duduk rebahan di sungai berair dangkal itu. Seolah sudah pasrah.
Dan para turis, duduk di tepi sungai, berjarak sekitar 30 meter dari gajah-gajah itu. Sebagian turis lain nampak duduk-duduk di pelataran belakang hotel Ralidawa, yang lokasinya tepat di tepi sungai. Bersama turis-turis bule itu, aku asyik menonton gajah-gajah itu membersihkan tubuhnya. Salam Ramadhan dari Colombo.
Colombo, 18 September 2009