Doa Santri
Berdoalah Setiap Usai Mengaji
Ada satu hal yang tak pernah kulewatkan setiap usai mengaji bersama para santri saat ini, yakni berdoa bersama-sama. Mulutku komat kamit berdoa, mereka kompak mengamini. Aku juga selalu meyakinkan mereka bahwa doa setelah melakukan amal saleh akan dikabulkan Allah alias mustajabah. Karena mengaji adalah amal saleh, berarti doa setelah mengaji pun mustajabah.
Aku meyakini hal ini sejak masa kecil dulu. Aku pun telah mempraktekkannya sejak lama. Ada sebongkah kenikmatan dan optimisme yang kurasakan saat bermunajat kepada Tuhan, usai mengikuti pengajian.
***
Doa-doaku usai mengaji, rasanya telah dikabulkan Allah semua. Sekitar tahun 2003-2004, hampir setiap pagi aku mengikuti pengajian halaqah kitab kuning di Masjid Al Azhar yang diasuh oleh Syekh Ali Jumah, Mufti Negara Mesir saat ini. Sekitar jam 09-an usai mengaji, aku selalu menyempatkan diri shalat dhuha dan shalat hajat di pojok-pojok Masjid Al Azhar. Usai shalat, aku berdoa agar mendapat kemudahan studi yang sedang kujalani. Menjadi mahasiswa S2 di Mesir tanpa beasiswa dan tanpa subsidi dari keluarga sungguh terasa berat bagiku kala itu. Konsentrasi terbagi-bagi. Aku curhat kepada Allah setiap usai mengaji. Alhamdulillah, tahun berikutnya aku mendapat panggilan belajar di Universitas Zaitunah Tunis.
Selama tinggal di kota Tunis (2005-2007), aku sering mengikuti pengajian Tahfidz di Masjid Agung Zaitunah. Waktunya setiap Kamis sore. Biasanya, aku terus berada di Masjid mengikuti pengajian tafsir setiap bakda magrib yang diasuh oleh seorang syekh. Usai pengajian tahfidz dan pengajian tafsir itu, aku selalu memanfaatkan waktu meski sesaat untuk berdoa. Di antara doa yang tak pernah terlewat adalah kemudahan dalam studi. Aku ingin segera selesai kuliah dan pulang ke Tanah air bertemu orang tua. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doaku itu. Selama dua tahun di Tunis, jalan studiku laksana jalan tol yang mulus, nyaris tanpa kesulitan yang berarti. Akhir 2007 kuliahku selesai, tercepat di antara sesama mahasiswa seangkatan.
***
Di Tanah Air, tradisi ini terus kulanjutkan. Kebetulan aku mengampu beberapa sesi pengajian di pesantren yang dikelola keluarga. Di antaranya adalah pengajian Kitab Kuning setiap Sabtu pagi dan Ahad malam. Setiap usai menyampaikan materi pengajian, aku selalu menyempatkan diri berdoa, seraya minta diamini oleh para santri. Aku yakin betul, berdoa usai melakukan amal saleh adalah mustajabah.
Selama masa kehamilan isteri (2009-2010), aku selalu menyebutkan doa keselamatan untuknya setiap sesi doa usai mengaji. Saat peci dan sorban masih menempel, kitab masih berada di genggaman. Alhamdulillah, April 2010 ia melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu.
Awal tahun 2011, aku juga menghadapi sebuah persoalan yang cukup serius terkait status kepegawaianku di kantor tempatku bekerja. Aku pun segera mengurusnya. Aku terus berkoordinasi dengan Bagian Kepegawaian, bahkan aku juga pernah datang ke Badan Kepegawaian Negara di Jakarta. Pada saat yang sama, aku mem-back up upaya itu dengan doa usai mengaji bersama santri. Alhamdulillah, sekitar Oktober 2011 urusanku selesai sesuai harapan.
***
Salah satu hal yang dapat menghalangi dikabulkannya doa adalah dosa. Demikian disebutkan oleh Nabi dalam sebuah haditsnya. Imam Syafii ( w 150 H) juga pernah membuat syair yang menyebutkan bahwa dosa-dosa (ma’ashi) dapat menyebabkan seorang santri sulit menghafal pelajaran.
Kyai-ku di Sukabumi dulu sering mengatakan bahwa dosa-dosa seseorang akan berjatuhan ketika ia berjalan menuju tempat pengajian atau ketika sedang memeras pikirannya di majelis pengajian. Maka semakin sering ia belajar, semakin sedikitlah dosanya. Pantas jika doanya di majelis pengajian akan diijabah oleh Allah, karena tirai yang menghalangi dirinya dengan Allah, sudah semakin tipis, atau hilang sama sekali. Subhanallah.
Komentar Buku BKT
Mereka Bicara tentang buku "Berkelana ke Timur Tengah"
Sejak buku "Berkelana ke Timur Tengah" beredar di pasaran, aku menerima beragam catatan, komentar, saran dan juga kritik dari para pembacanya. Baik yang disampaikan melalui email, Face Book, juga blog. Satu di antaranya ditulis oleh Hajir Mutawakkil, seorang blogger muda lulusan S2 UIN Yogya yang nampaknya penggemar buku juga. Melalui sebuah tulisannya di blog www.hajirmutawakkil.wordpress.com, Hajir mencoba memetakan jalan pikiran dan metodologi yang kupakai dalam menulis buku yang mulanya hanya catatan harian itu. Berikut tulisan Hajir, sebagaimana adanya di blognya.
Ketika membaca buku Berkelana ke Timur Tengah karya Dede Permana Nugraha, aku seolah benar-benar merasa berada di Timur Tengah yang dikunjungi Dede. Tujuanku memilih buku ini untuk kupinjam di perpustakaan, adalah ingin mencontoh cara Dede Permana bagaimana ia mengamati realitas sosial masyarakat dan menulisnya di dalam blog. Kemudian aku bisa “meniru”nya. Dan hasilnya, menurutku, dalam menulis pengalamannya, cara yang Dede Permana lakukan adalah sebagai berikut. Pertama, menjelaskan fenomena sosilal-budaya yang dialaminya. Kedua, fenomena itu kemudian digali dan dicari akar sejarahnya dari berbagai informasi, baik bertanya kepada orang atau dari bahan tulisan. Ketiga, memasukkan pendapat-pendapatnya, entah itu menganalisisnya, mengadakan perbandingan dengan sosial budaya yang lain yang diketahuinya. Keempat, melakukan kesimpulan.
Catatan harian Dede yang ditulis di blog yang kemudian dibukukan ini telah menginspirasikanku untuk belajar membaca fenomena sosial setelah selama ini aku hanya membaca buku. Setelah membaca tulisan Dede, aku berpikir ternyata mengamati fenomena sosial-budaya dan menulisnya tak kalah menarik juga dengan membaca buku dan meresensinya. Metode Dede dapat aku terapkan dan hal itu tidak sulit kupikir. Akhirnya, mulai hari ini dan kedepannya, aku akan berusaha untuk menjadi pengamat sosial-budaya sekitarku, disamping tetap aktif membaca buku tentunya. Tulisan Dede tidak formal, memakai subjek personal “saya”, bahasanya ringan, empati dan enak dibaca.
Dalam bukunya, Dede Permana mengunjungi tiga negara Timur Tengah; Mesir, Tunisia dan Maroko. Mesir, bagi Dede yang pernah kuliah di sana, adalah negara di mana Islam berkembang. Al-Qur’an memang turu di Mekkah-Madinah, tapi di Mesirlah kitab itu hidup, dihapal, dipelihara dan dikaji. Pemerintah Mesir sangat besar perhatiannya terhadap para penghafal al-Qur’an. Setiap jenjang pendidikan, pekerjaan di pemerintahan, terdapat tes hafalan al-Qur’annya. Pemerintah juga sering mengadakan perlombaan hafalan al-Qur’an pada acara-acara besar. Di bandingkan dengan tilawah al-Qur’an, hafalan al-Qur’an lebih populer. Bahkan, Dede Permana pengatakan, kegagalan para misionaris di Mesir adalah karena perhatian orang Mesir terhadap al-Qur’an. Tutur Dede ketika menjelaskan fenomena memabaca al-Qur’an di Mesir; “Jika anda berkesempatan naik bus di kota Kairo, jangan kaget jika banyak penumpang membaca al-Qur’an. Kendati dalam suasana penuh sesak, para pegawai kantor biasa mengisi waktu senggang dengan membaca al-Qur’an. Bahkan tak jarang, polisi-polisi penjaga keamanan pun memegang mushaf al-Qur’an, membacanya di saat santai”.
Mesir adalah gudang ilmu. Kitab-kitab murah betebaran di sana, apalagi bila ada book fair. Kajian-kajian keislaman pun di mana-mana. Tidak hanya itu, banyak tarekat-tarekat tasawuf yang berkembang dan bisa dijumpai di Mesir. Semuanya bebas dan tak ada intervensi pemerintah dalam hal ini. Orang mesir juga bersahabat sama seperti orang-orang Indonesia. Kalau bertengkar, orang mesir tak suka pakai kekerasan, tapi adu mulut, barang siapa yang memukul walaupun dia benar, maka ia akan dianggap salah. Biaya pernikahan di Mesir mahal, ketika seorang laki-laki ingin menikah, maka ia harus siap dengan rumah dan peralatannya. Sementara ketika menikah, darah perawan perempuan Mesir pada malam pertamanya diberitahukan kepada orang-orang sekitar. Orang-orang Mesir tak suka pedas, bahkan sambal ala Mesir pun di lidah tak terasa pedasnya. Masih banyak hal lain dalam tentang dunia Mesir, di sini, aku hanya menceritakannya sedikit.
Sementara di Tunisia, negri 99% muslim ini memiliki sistem pemerintahan yang sekuler dan cenderung berhati-hati pada hal-hal simbol-simbol keagamaan. Jangan heran apabila di mesjid-mesjid menjumpai orang-orang yang ketika shalat hanya memakai kaos biasa, bahkan bercelana pendek. Tidak hanya itu, menjadi muslim dan jarang sholat merupakah hal biasa. Sebab, bukan karena apa, orang yang rajin ke masjid, berpakaian takwa, membawa mushaf al-Qur’an, berjenggot, akan dicurigai oleh pemerintah bahwa orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang fundamentalis yang diaggap melahirkan teroris. Kegiatan keagamaan diawasi. Jilbab dilarang. Bahkan, pemimpin Tunisia, presiden Borguiba pernah mengkampanyekan boleh tidak puasa di bulan Ramadhan dengan alasan bahwa puasa melemahkan etos kerja rakyatnya untuk membangun bangsa, dan karena itu dibolehkan. Kehidupan keagamaan di Tunisia tak jauh beda dengan kehidupan sekuler orang-orang di eropa terhadap agama.
Maroko, tempat yang hanya dikunjungi Dede enam hari itu, adalah sama sepertihalnya Mesir. Kajian keislaman berkembang meski pun perhatian terhadap al-Qur’an tidak begitu besar seperti hainya Mesir. Maroko adalah gudangnya para ulama, tempat lahirnya kiai dan intelektual muslim. Di sanalah pengarang kitab al-Jurumiyah Syeh Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Daud as-Shonhaji, pengarang Dalail al-Kairat Abu Abdullah Muhammad bi Sulaiman al-Jazuli, pengarang kitab Ahkam al-Qur’an Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Muhammad al Ma’rifi dan juga filsof Ibn Arabi lahir. Juga Ibnu Batutah, Qadhi ‘Iyadh, Shalih al-Makudy penulis pertama syarh alfiyah ibnu Malik. Di sini juga terdapat tempat-empat indah yang memiliki nilai sejarah seperti Benteng Kasbah, Kota Tua Oudaya yang berada di Rabat, kemudian Casablanca tempat bisnis yang gedung-gedungnya bercat putih mempunyai masjid Hassan II yang megah dan menjadi masjid ketiga termegah setelah masjid al-Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, selanjutnya Marakesh yang gedung-gedungnya berwarna merah dan juga Fez.
Demikian bacaanku terhadap buku Dede Permana Nugraha ini. Perjalananku kali ini memberiku banyak ilmu dan pengalaman spiritual.