Sunday, January 20, 2013

Zawiya Hasan Syadzili


Berziarah ke Zawiya Abu Hasan Syadzili


Ziarah ke zawiya (padepokan) Syekh Abu Hasan Syadzili yang kucita-citakan sejak lama, Alhamdulillah terlaksana pada hari Jumat (18/1) lalu. Syekh Abu Hasan Syadzili (591 H-656 H / 1197 M-1258 M) adalah salah seorang ulama sufi yang terkenal, pendiri tarekat Syadziliyah yang memiliki banyak pengikut, termasuk di Indonesia.

Zawiya bukanlah makam, melainkan semacam padepokan, tempat sang sufi bersemedi (khalwat, tahannuts), menjalankan ritual ibadah dan menyampaikan pelajaran kepada para murid. Makam Syekh Syadzili berada di pinggir kota Kairo, sering aku ziarahi dulu saat aku tinggal di Mesir (2002-2005).

Bagiku, ziarah ke makam dan zawiya para ulama saleh dapat menjadi momentum untuk menyegarkan kesadaran akan pentingnya teladan akhlak dan ilmu, sebagaimana yang mereka wariskan.

Atas Bukit
Aku berangkat usai shalat Jumat. Dari halaman kampus Universitas Zitouna, aku naik taksi. Jaraknya sebenarnya dekat, sekitar 3 km, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tetapi siang itu, langit kota Tunis diliputi awan tebal.  Aku khawatir keburu turun hujan. Selain itu, yang kutahu, lokasi zawiya berada di atas bukit. Aku enggan berjalan kaki menanjak. Biar nanti saja jalan kaki mah saat pulang, begitu pikirku.

“Sidi Belhasan”, tuturku kepada sopir taksi saat membuka pintu. Ia mengangguk. Sidi Belhasan adalah nama tenar Abu Hasan Syadzili di Tunis. Sidi berasal dari kata “Sayid”, sedangkan Belhasan berasal dari kata “Abu al Hasan”. Semua orang Tunis – apalagi sopir taksi – mengetahui lokasi zawiya Sidi Belhasan.

Zawiya Abu Hasan Syadzili berada di Zalaj, sebuah komplek pemakaman terbesar dan terluas di kota Tunis. Pemakaman ini menyelimuti kaki bukit hingga ke bagian permukaan atas bukit. Dan zawiya itu berada di puncaknya. Dari Habib Borguiba Avenue, alun-alun utama kota Tunis, lokasi zawiya ini hanya terpaut jarak 5 km.

Karena posisinya yang berada di puncak bukit itulah, zawiya Abu Hasan Syadzili terlihat dari kejauhan. Bangunannya putih, dengan kubah biru di atasnya.

Dalam Masjid
Sekitar 10 menit kemudian, taksi yang kutumpangi memasuki komplek pemakaman. Jalan aspal mulus selebar 3 meter dan mulai menanjak. Kiri-kanan jalan, kulihat banyak orang Tunis yang sedang berziarah. Umat Islam di Tunis memang biasa berziarah ke pemakaman pada Jumat siang hingga sore menjelang Ashar.

Tak lama kemudian, aku tiba di puncak bukit. Aku lihat, ada bangunan putih yang ada kubah birunya itu. Alhamdulillah, berarti aku telah tiba di lokasi yang kutuju. Tarif taksi sebesar 1,9 Dinar – sekitar 12 ribu rupiah – segera kubayar.

Angin dingin berdesir yang menusuk pori-pori, menyambut kedatanganku. Rambutku yang tak rapi pun menjadi semakin tak karuan. Pada ketinggian, angin memang akan semakin kencang dan suhu musim dingin juga terasa semakin dingin lagi. Kucoba kutahan.

Aku berdiri membelakangi bangunan putih itu, seraya mengamati suasana sekitar. Jauh di depan bawah sana, nampak kota Tunis yang terhampar. Beberapa bangunan utama kota Tunis, bisa kuidentifikasi jelas. Ada Hotel Afrika yang menjulang tinggi, Rumah Sakit Militer di dekat halte Bab Alioua, juga menara Masjid Zitouna. Kemudian kulayangkan pandangan ke kanan bawah, nampak laut Mediterania, airnya yang biru nan tenang meneduhkan pandangan. Di sebelah kiri, sejauh mata memandang, hanyalah bebukitan yang diliputi pemakaman luas, diselingi pepohonan hijau.

Aku berbalik arah. Bismillah, aku memasuki zawiya. Sebuah bangunan yang kini berfungsi sebagai masjid sekaligus majelis dzikir. Luas masjidnya sekitar 200 meter persegi. Berdinding keramik warna-warni dan beralaskan karpet merah. Di samping masjid, ada pelataran luas tanpa atap, terbuka ke langit. Sebagaimana lazimnya kebanyakan masjid di Timur Tengah. Di pojok pelataran itu, ada tempat wudhu. Meski berada di ketinggian, sumber air ini tak pernah kering.

Aku memasuki masjid itu, kemudian shalat dua raka’at Tahiyyatul Masjid. Meski ada beberapa pengunjung lain, suasana saat itu terasa hening.

Usai shalat, aku mendekati mihrab. Mihrab yang dinamakan dengan Magarah ‘Uluwiyyah, tempat biasa Syekh Syadzili duduk beri’tikaf, berdzikir dan menyampaikan pelajaran kepada para muridnya.

Saat ini, para anggota tarekat Syadziliyah di Tunis biasa berkumpul di sini. Mereka menggelar majelis dzikir, setiap Sabtu pagi (musim dingin) dan Ahad malam (musim panas). Menurut informasi seorang rekan, isteri mantan Presiden Ben Ali, Laila Ali, sering berkunjung ke zawiya ini dan menghadiri majelis-majelis dzikirnya.

Dalam Gua
Tempat khalwat Syekh Abu Hasan di zawiya ini ada dua. Pertama Magarah ‘Uluwiyyah yang di dalam masjid tadi. Satu lagi dinamakan Magarah Shufiyah. Lokasinya di dalam sebuah gua kecil, sekitar 20 meter dari pada arah belakang masjid.

Kedalaman gua sekitar 5 meter, diameter lorongnya sekitar 1 meter. Sehingga saat masuk, pengunjung harus berjalan membungkuk. Dinding gua ditembok rapi dan di-cat warna putih bersih. Untuk menerangi suasana dalam gua, ada lilin-lilin yang menyala.  Aku berkesempatan memasuki gua itu. Tentu setelah meminta izin kepada penjaga gua, yang kutemui tadi di luar.

Di ujung dalam gua, ada ruangan kecil, kira-kira seukuran 1x2 meter. Tingginya 2 meter. Pas untuk posisi berdiri seorang pria dewasa. Inilah Magarah Shufiyah itu, tempat Syekh Abu Hasan biasa bersemedi.

Bismillah, aku menunaikan shalat 2 raka’at, kemudian berdoa, semoga bisa mewarisi teladan akhlak dan ilmu sebagaimana beliau yang dulu di sini. Beliau yang dulu pernah berkhalwat hingga 80 hari di ruang sempit ini, hingga kemudian mencapai derajat Wali Allah.

Saat asyik bermunajat, terdengar ada suara memanggil-manggil. Menggema, maklum dalam gua. Wah, suara ghaibkah? Aku bertanya-tanya. Aku melihat ke atas, bawah, kanan dan kiri. Eh ternyata, sang penjaga gua di ujung sebelah sana, hehe. Ia memanggilku seraya memberi isyarat agar aku segera keluar dari Magarah. Ya sudah, aku pun beranjak keluar. Rupanya ada rombongan keluarga orang Tunis yang antri mau masuk gua.
 Jalan menuju zawiya

Dalam Kenangan
Abu al Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar as Syadzili al Magribi al Hasani al Idrisi. Itulah nama lengkap Syekh Abu Hasan Syadzili, sebagaimana ditulis para ahli sejarah. Beliau lahir di Sebta, Maroko, tahun 591 H/1197 M. Beliau berasal dari keluarga terhormat, masih memiliki garis keturunan dari Rasulullah saw, silsilah ke-22.

Sejak usia 6 tahun, beliau tinggal di Tunis, mempelajarai beragam ilmu dari para ulama Tunis saat itu. Di antaranya adalah Syekh Abu Sa’id al Baji, salah seorang ulama sufi terkemuka, yang kini namanya diabadikan sebagai salah satu tempat tujuan wisata terkemuka di Tunis, Sidi Bou Said. Sedangkan “Syadzili” sebenarnya adalah nama desa di Tunis, tempat beliau tinggal dan beranjak dewasa.

Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat nama Syekh Syadzili dikenal orang. Tahun 625 H/1227 M, beliau membangun zawiya sebagai tempat beribadah sekaligus menyampaikan pelajaran kepada para muridnya.

Pada tahun 642 H beliau hijrah menuju Iskandariah, Mesir. Di negeri seribu menara itulah, beliau mengajarkan ilmunya kepada sejumlah murid yang kelak menjadi ulama terkemuka juga. Di antaranya ada ibn Daqiq el ‘Eid dan Abu Abbas al Mursi. Ulama Syafiiyyah Mesir terkemuka saat itu, Izzuddin bin Abdis Salam ( w 660 H), juga menganggap Syekh Syadzili sebagai gurunya.

Di antara warisan Syekh Syadzili yang populer di kalangan umat Islam – terutama kaum tarekat sufi – adalah wirid Hizb Nashr dan Hizb Bahr.  Menurut catatan sejarah, beliau menekuni dunia tasawuf setelah ilmu fiqihnya matang. Tak heran jika beliau dikenal mampu mengintegrasikan aktifitas keseharian ke dalam ajaran tasawuf secara khusyu dan cermat.

Pada suatu malam usai isya di tahun 656 H/1258 M, beliau berbaring di tempat tidur. Sambil terbaring, beliau berkali-kali mengucapkan kalimat, “Ilahi, Ilahi”, atau “Ya Ilahi, Mata Yakunul Liqo?” Wahai Tuhanku, kapan pertemuan (dengan-Mu) akan terjadi? Kalimat-kalimat itu beliau ucapkan hampir sepanjang malam, hingga para muridnya yang berada di luar kamar merasa khawatir dan bertanya-tanya.

Menjelang fajar, beliau terdiam tenang. Para muridnya menyangka beliau tertidur pulas. Padahal, beliau telah wafat, meninggalkan dunia yang fana, menuju keabadian, dalam usia 63 tahun. Allahummaftah Lana Futuhal ‘Arifin. Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, Ahad 20 Januari 2013 

Sunday, January 13, 2013

Kuskus Tunis


PERGI KE TUNIS, JANGAN LUPA MAKAN KUSKUS


Suatu sore pekan lalu, aku dan keluarga diundang makan oleh seorang kenalan warga Tunis. Rumahnya tak jauh dari kampus tempat kami belajar. Tentu ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Bismillah, kami berangkat membawa perut kosong.

Tuan rumah sudah menanti di ruang tamu. Kami disambut dengan senyum ramah. Pipi Firyal, puteriku yang berusia hampir tiga tahun, diciumi berkali-kali.

Kami dipersilahkan duduk di ruang tamu yang tidak terlalu luas, tetapi penuh dengan perkakas rumah. Satu set sofa, beberapa lemari, televisi, serta foto keluarga yang menempel di dinding. Tepat di dinding samping tempatku duduk, ada asli ijasah S1 dan ijasah SMA yang juga menggantung. Dibungkus bingkai kaca. “Itu adalah ijasah anak pertama kami”, tutur sang tuan rumah dengan senyum sumringah. Subhanallah. Tak bisa dibayangkan, betapa kebanggaan seorang ayah, ketika anaknya lulus kuliah, hingga ijazahnya pun harus dipasang di ruang tamu.

Kuskus Lezat
Tak sampai lima menit kemudian, meja ruang tamu telah dipenuhi hidangan, yang ternyata adalah kuskus. Wow, sajian khas Arab Tunis yang lezat !

Kuskus adalah makanan khas warga Arab Magribi, termasuk Tunis. Terbuat dari gandum bubuk yang dikukus, dicampur sayuran yang juga dikukus, seperti kentang, kol, tomat, cabe hijau besar, wortel, dan tentu saja buah zaitun. Kemudian disiram kuah berbumbu gurih, plus sepotong daging kambing rebus atau daging ayam rebus. Kuskus kambing dinamakan kuskus ‘alusy, sedangkan kuskus ayam adalah kuskus dajaj. Sebagai pelengkap kuskus sore itu, dihidangkan juga sepiring salad, aneka sayuran segar yang ditaburi mayones.

Bulan Desember 2005, aku pernah membuat tulisan berjudul Menikmati Kuskus di Kota Tunis, yang hingga saat ini pun masih tersimpan di blog-ku. Juga menjadi salah satu dari sekitar 90 judul tulisan dalam buku pertamaku, Berkelana ke Timur Tengah (Erlangga, 2009). Dalam tulisan itu, aku menceritakan pengalamanku menikmati kuskus di sebuah rumah makan tradisional di kota Tunis. Kala itu, kuskus ‘alusy dibandrol dengan harga 2,5 Dinar, atau setara 16 ribu rupiah.

Hampir setiap rumah makan di Tunis, memiliki pilihan menu kuskus. Biasa disajikan dalam mangkuk besar berwarna cokelat, bergaris-garis. Semakin menguatkan kesan kuskus sebagai hidangan tradisional.

Tradisi Kuskus
Kuskus telah menjadi makanan khas warga Arab Magrib, terutama di Tunis dan Maroko. Warga Tunis biasa menyediakan kuskus pada momen-momen tertentu, seperti peseta keluarga, jamuan tamu, dan juga pada hari-hari besar keagamaan seperti 17 Ramadhan, Maulid Nabi, atau Muharam.

Acara jamuan-jamuan resmi juga biasanya tak melewatkan kuskus. Saat aku menghadiri acara seminar mahasiswa Timur Tengah di Rabat Maroko pada tahun 2006 lalu, panitia mengadakan sajian makan malam bagi para tamu undangan dengan menun utama kuskus, dengan sajian potongan-potongan besar daging kambing.

Kenyang Kuskus
Sore itu, aku tak buang-buang waktu. Sepiring besar kuskus kunikmati dengan lahap. Suasana musim dingin bulan Januari yang menyebabkan perut cepat lapar, nampaknya semakin membuat hidangan kuskus sore itu semakin lezat. Alhamdulillah.

Saat asyik makan, tuan rumah datang lagi membawa sepiring brick, makanan khas warga Tunis yang biasanya disajikan pada bulan Ramadhan. Brick mirip  martabak telor. Bahannya terdiri dari sebutir telur, kentang rebus, ikan tuna, makdonis (daun penyedap mirip saledri) dan bumbu. Semua bahan itu diaduk rata dan dibungkus dengan adonan khusus terbuat dari gandum. Lalu, digoreng hingga kering. (Tentang brick, pernah kuceritakan dalam tulisan lama berjudul Berbuka Puasa Sampai Bodoh).

Wah wah, gimana nih, kuskus yang di piring ini saja masih banyak. Tetapi orang Arab biasanya akan kecewa jika suguhannya dicuekkan. Ya sudah, sebagai tamu yang baik, aku tak mau mengecewakan tuan rumah.  Aku sadari itu sepenuhnya. Satu per satu brick gurih itu pun kami habiskan. Yang tak sempat dimakan, kami bawa pulang.

Tunis al Khadra, Ahad 13 Januari 2013