Sunday, December 30, 2012

Tunis Zaitun



Memetik Zaitun di Bukit Qarbus


Di kota Qarbus, aku menyaksikan pantai yang elok, kemudian mengunjungi perkebunan zaitun yang menghijaukan Tunis, negeri seluas sepertiga pulau Sumatera ini. Berbeda dengan negeri-negeri Arab lain yang diselimuti padang pasir; Tunis justru hijau karena 1,7 juta hektar kebun zaitun terhampar di atas tanahnya. 

Antara Tunis-Qarbus
Sabtu terakhir di tahun 2012, aku berkesempatan mengunjungi rumah Rido, seorang teman berkewarganegaraan Tunis. Rumahnya di Qarbus, kota pantai, sekitar 63 km tenggara kota Tunis. Aku berangkat jam 11.30, melewati ring road yang tembus ke tol arah kota Souse di pesisir Mediterania.

Begitu melewati batas kota Tunis, pemandangan kiri kanan jalan berubah total. Dari semula pemukiman padat dan lalu lintas yang macet, menjadi alam terbuka yang luas dan hijau. Padang rumput menghampar, diselingi pepohonan pinus dan perkebunan zaitun. Rumah-rumah penduduk yang umumnya berwarna putih, nampak kontras dengan suasana sekitarnya.

Setengah jam kemudian, aku melewati kota kecil bernama Hamam Lif. Di kota ini terdapat asrama mahasiswa, tempat para mahasiswa Indonesia pada tahun 90-an tinggal. Saat ini, para mahasiswa kita – termasuk aku - lebih memilih menyewa flat di kota Tunis, agar dekat ke kampus.

Setelah Hamam Lif, ada kota bernama Soleman. Tulisan Arabnya سليمان. Dalam ejaan bahasa Indonesia, dibaca Sulaiman, yang diambil dari nama Nabi. Aku juga ingat sebuah kota di Jogjakarta, bernama Sleman. Adakah kaitan antara Sleman-nya Jogja dengan Soleman-nya Tunis?

Air Panas Qarbus
Menjelang pukul 13.00, jalan mulai menanjak dan berkelok-kelok, menaiki bebukitan. Mirip dengan suasana jalan menanjak di Puncak. Bedanya, jalan menuju Puncak melewati perkebunan teh, sedangkan di Qarbus melewati perkebunan zaitun.

Setelah tiba di puncak bukit, nampak di depanku hamparan luas lautan yang biru. Air laut yang nampak tenang dan diam. Subhanallah. Meski ini bukan kunjunganku yang pertama ke Qarbus, tetapi kali ini kembali aku berdecak kagum atas keindahan laut lepas, dipandang dari ketinggian.

Qarbus hanyalah sebuah kota kecil. Jalan rayanya juga sempit, berkelok-kelok mengikuti lekukan dinding gunung yang berdampingan dengan bibir pantai. Beberapa penginapan kecil dan restoran berjajar di tepi jalan. Di dekat pasar Qarbus dan di samping masjid, ada sebuah bangunan putih, tempat mendiang Presiden Habib Borguiba – memerintah tahun 1957-1987 – biasa singgah jika beristirahat ke Qarbus.

Objek utama yang biasa dikunjungi para turis di Qarbus adalah mata air panas yang menggelontor deras ke lautan lepas. Air itu keluar dari lubang berdiameter kira-kira 30 sentimeter. Mata airnya, dari bebukitan yang tadi kulewati itu. Sebelum jatuh ke laut, air itu melewati dinding bebatuan dan kemudian memencar menjadi butir-butir air yang kecil. Nah, tepat di bawah bebatuan itu para turis biasa mandi. “Airnya tidak pernah kering. Sejak dulu zaman nenek moyang saya di sini, air ini sudah seperti ini”, tutur Rido menjelaskan.

Sabtu siang itu, tidak ada yang berani mandi di sana. Maklum, Desember ini masih musim dingin. Kendati di tepi pantai, udara terasa dingin menusuk. Saat kunjunganku ke Qarbus dulu pada musim panas tahun 2006, aku sempat mandi di sini.

Rumah Antik Orang Magribi
Setelah puas menikmati panorama pantai Qarbus, perjalanan dilanjutkan. Kami menuju kediaman Rido, sekitar 10 km dari pantai, di tengah-tengah perkebunan zaitun. Dari jalan raya, kami melewati jalan kecil yang tidak diaspal. Mobil pun berguncang-guncang.

Setelah 500an meter, tibalah kami di sebuah rumah besar berwarna putih, dikelilingi pagar tembok yang juga putih. Sebuah rumah tua yang antik. Seekor anjing putih yang diikat rantai menyalak-nyalak menyambut kedatangan kami.

Aku tidak kaget dengan adanya anjing di rumah seorang Muslim di sini. Orang Tunis banyak yang memelihara anjing, meski tidak masuk rumah. Dalam pendapat mazhab Maliki yang dipegang oleh hampir semua Muslim di Arab Magrib ini, bulu anjing tidak termasuk najis. Yang najis adalah air liurnya.

Aku menengok ke segala arah, tak ada rumah yang lain. Di semua arah hanya ada perkebunan zaitun, diselingi pepohonan pinus yang menjulang tinggi. “Saya memang tidak punya tetangga dekat”, kata Rido seraya tersenyum. Melihat posisi rumah seperti ini, aku jadi ingat film-film Barat klasik, yang menceritakan keluarga-keluarga tua yang tinggal di tengah hutan tanpa tetangga.

Aku bersantai sejenak di rumah yang antik itu. Aku diajak masuk melihat-lihat beberapa ruangan di dalam rumahnya. Sebuah rumah Arab Magrib yang khas dengan ruang tengah yang luas, dikelilingi kamar-kamar, dapur dan toilet. Ukiran khas bercorak Andalusia nampak menghiasi beberapa sudut dinding dan langit-langit.

Keluarga Rido menyambut dengan senyuman ramah. Bahkan menyiapkan sajian makan siang plus jus jeruk segar yang baru dipetik dari kebun. Wow segarnya.


Saatnya Memetik Zaitun
Perut sudah kenyang, istirahat sudah cukup. “Saatnya berkeliling ke kebun zaitun dan kebun jeruk !”, ajak Rido.

Aku tak melewatkan kesempatan ini. Segera aku menuju kebun zaitun di samping rumah. Aku berjalan di sela-sela pohon yang tingginya 3 meteran itu. Beberapa pegawai nampak sedang memetiki buah zaitun. Sebagian lainnya memasukkannya ke karung putih.

Bulan Desember ini adalah saatnya panen zaitun. Menurut koran yang kubaca, Pemerintah Tunisia berusaha menawarkan pekerjaan memanen zaitun ini kepada para pemuda Tunis yang masih menganggur. Ini dilakukan sebagai solusi sementara dalam menekan tingginya angka pengangguran pasca revolusi ini. Upahnya spesial : 30 Dinar  - setara 200 ribu rupiah - per hari. Dikatakan spesial karena biasanya upah buruh pemetik zaitun yang direkrut dari warga Mesir hanyalah 10 Dinar. Tetapi, masih menurut koran itu juga, para pemuda Tunis ini masih enggan juga menerima tawaran menarik ini. Sebagian mereka berdalih, masa sarjana bekerja memetik zaitun?

Aku berjalan dari pohon ke pohon. Aku mencoba ikut memetiki buah zaitun. Wah, seru juga. Buahnya kecil-kecil seukuran anggur. Zaitun yang matang berwarna hitam.

Rido memiliki 70 hektar tanah yang sebagian besar ditanami zaitun. Selain buah-buahan lain seperti jeruk, dan aneka sayuran. Kebun Rido hanya secuil dari 1,7 juta hektar zaitun yang ada di bumi Tunisia ini. Ya, zaitun memang menjadi komoditas ekspor utama negeri kecil ini. Dengan hasil 200 ribu ton zaitun per tahun, Tunisia adalah penghasil zaitun terbesar kedua dunia setelah negara tetangganya, Italia.

Banyaknya pohon zaitun – atau 79% dari total pohon di negeri ini – yang menghampar di hampir seantero negeri, menjadikan Tunis sebagai negara Arab yang hijau. Sebagaimana orang Tunis menyebut negerinya dengan Tunis al Khadra, Tunis yang hijau (karena zaitun). Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, Ahad 30 Desember 2012

Sunday, December 16, 2012

Kuliah Murah


Di Tunis, Pendidikan Bisa Murah

Suasana sidang disertasi Dr Tamyiz Mukharram, 10 Des 2012 di Tunis

Alokasi 26% APBN untuk sektor pendidikan, terbukti mampu mendorong kualitas pendidikan di Tunisia. Berkahnya dinikmati oleh para penuntut ilmu, termasuk para mahasiswa Indonesia yang belajar di Tunis saat ini.

Pekan ini, dua mahasiswa Indonesia menyelesaikan studinya di Universitas Zitouna, Tunis. Senin (10/12) lalu, Tamyiez Mukharram, 40 tahun, menyelesaikan studi S3-nya setelah sukses menjalani ujian disertasi secara terbuka di hadapan dewan penguji. Sehari berikutnya, Syahrul Ramadhan,  32 tahun, juga sukses mempertahankan tesisnya.

Dalam catatan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia, Tamyiez adalah WNI kedua yang meraih doktor di Tunis. Doktor pertama adalah Yusri Arsyad, yang menyelesaikan studi pada tahun 2008 lalu. Sedangkan Syahrul Ramadhan,  adalah WNI ke 18 yang meraih gelar magister. Pada semester genap 2012-2013 yang akan datang, insya Allah ada 4 orang mahasiswa kita yang akan menyelesaikan studi magisternya.

Kuliah Tepat Waktu
Saat ini, terdapat 40 mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Universitas Zitouna Tunis. Selain Tamyiez dan Syahrul. Ke-40 orang ini terbagi dalam berbagai jenjang studi. Ada 3 orang di tingkat S3, 15 orang di S2, dan 22 lagi masih di S1.

Dari tahun ke tahun, jumlah mahasiswa Indonesia di Tunis selalu berkisar antara 30-40an orang. Jumlah mahasiswa baru dan mahasiswa yang selesai studi setiap tahunnya, relatif seimbang. Hal ini terjadi karena umumnya para mahasiswa Indonesia belajar tepat waktu. Di sisi lain, Pemerintah Tunis juga membatasi jumlah kedatangan mahasiswa asing. Indonesia hanya diberi jatah sekitar 10 orang per tahun.

Dalam sistem pendidikan pasca reformasi di Tunis,  jenjang S1 dapat ditempuh selama 6 semester atau 3 tahun. Khusus mahasiswa asing, biasanya diarahkan masuk kelas bahasa lebih dahulu selama 1 tahun. Jadi, total 4 tahun

Jenjang S2 (magister) dapat diselesaikan selama 4-5 semester. Tiga semester pertama adalah perkuliahan – diakhiri dengan ujian semester, kemudian pada semester 4 dan 5 adalah penulisan tesis. Jenjang S3 (doktor) juga dapat diselesaikan dalam waktu 6 semester (3 tahun). Semester pertama adalah perkuliahan, sedangkan 5 semester berikutnya adalah masa penulisan disertasi

Para mahasiswa bebas menentukan program studi yang akan diambil. Para jenjang S1, terdapat prodi Peradaban Islam, Syariah dan Ushuluddin. Pada jenjang S2, ada 5 pilihan prodi, yaitu Syariah wal Qanun, Ekonomi Islam, Tafsir/Hadits, Akidah dan Perbandingan Agama, serta prodi Peradaban/Budaya Islam.  Sedangkan pada jenjang S3, prodinya hanya satu, yakni ‘Ulum Islamiyyah (Islamic Studies). Konsentrasi studi ditentukan dalam pilihan tema penelitian disertasi.

Kuliah Murah Meriah
Untuk studi Islam, kuliah di Universitas Zitouna terbilang menyenangkan. Sistem studinya SKS, sehingga target penyelesaian studi dapat terukur jelas. Dosen-dosennya mumpuni di bidangnya, sangat ramah terhadap mahasiswa asing, serta umumnya memiliki waktu relatif luas untuk melakukan bimbingan dan interaksi dengan para mahasiswa. Dukungan administrasi akademik juga bagus ; berbasis IT dan para petugasnya pun kooperatif. Urusan-urusan administrasi pun lancar dan jarang ada masalah. Fasilitas perpustakaan juga sangat memadai.

Satu lagi yang penting. Di negeri berpenduduk 11 juta jiwa ini, pendidikan diselenggarakan secara murah meriah, nyaris gratis. Dari jenjang paling dasar hingga S3, baik bagi warga pribumi maupun orang asing. Tidak ada istilah tution fee alias biaya kuliah yang melangit hingga ribuan bahkan puluhan ribu dolar, seperti yang sering kita dengar di sejumlah negara lain. Semua mahasiswa – baik orang Tunis maupun orang asing – hanya dikenai biaya partisipasi setiap awal tahun ajaran, yang masuk ke kas negara. Untuk S1 sebesar 38 Dinar (setara 240 ribu rupiah), S2 dan S3 sebesar 108 Dinar (setara 650 ribu rupiah). Tidak ada biaya atau iuran apapun lagi. Bahkan, para mahasiswa bisa saja mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Tunis.

Murahnya pendidikan di Tunis, adalah buah dari alokasi APBN sebanyak 26 persen untuk sektor pendidikan, yang telah diterapkan sejak zaman mendiang Presiden Habib Borguiba (memerintah selama tahun 1957-1987). Tak heran jika di negeri ini, wajib belajar 12 tahun telah berjalan lama. Umumnya warga Tunis mengenyam perguruan tinggi, serta hampir tidak ada yang tidak selesai SMA. Pada saat yang sama, guru/dosen menjadi profesi favorit publik dan direbutkan banyak orang.

Dalam buku “Berkelana ke Timur Tengah” yang terbit pada tahun 2009 lalu, aku katakan bahwa Tunis adalah negeri yang sebenarnya miskin Sumber Daya Alam, tetapi kaya dengan Sumber Daya Manusia. Tunis bukan negara penghasil minyak, serta tidak memiliki banyak hasil bumi, kecuali zaitun. Objek-objek wisatanya juga tidak setenar Mesir atau China. Tunis hanya punya objek wisata pantai, beberapa situs sejarah Islam, situs-situs Romawi Kuno, dan Gurun Sahara di selatan. Tetapi karena sektor pendidikannya digarap serius, masyarakatnya bisa sekolah hingga minimal S1, hampir semua mereka fasih berbahasa Perancis dan karena itu mereka mudah mencari penghidupan.

Dengan pendapatan per kapita sebesar 9.400 USD (tahun 2011), Tunisia menempatkan diri sebagai negara termakmur ke-3 di benua Afrika, atau ke-15 di antara negara-negara muslim. Aku yakin, itu adalah berkah dari pendidikan. Salam manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, Ahad 16 Desember 2012


Sunday, December 09, 2012

Tunis Reformasi



Tunisia "Kembali" ke Islam
Revolusi Jasmin (Arab Spring), Tunis, awal 2011

Revolusi Jasmin yang melanda Tunisia pada awal 2011 lalu benar-benar mengubah total wajah negeri berpenduduk 99% Muslim ini. Hampir seluruh sektor kehidupan mengalami reformasi, tak terkecuali bidang keagamaan dan pendidikan Islam. Islam di Tunis, kini menemukan titik cerah, lepas dari bayang-bayang sekulerisme yang membelenggu selama 50 tahun terakhir.

Kembali Berjilbab
Belum genap tiga minggu aku di Tunis, aku telah menyaksikan sederet perubahan besar di Tunis. Jauh berbeda dengan yang kusaksikan 5 tahun lalu, saat aku tinggal di di kota ini, Nop 2005- Okt 2007.

Hari ini, aku lihat sebagian besar wanita muslimah Tunis mengenakan jilbab. Bahkan banyak juga yang bercadar. Fenomena yang berbeda 180 derajat dengan yang kusaksikan pada tahun 2005, ketika pejilbab sangat sedikit. Bahkan mayoritas mahasiswi di Universitas Zitouna sendiri, waktu itu seolah lebih senang memamerkan rambut, tanpa tutup kepala.

Guru Besar Tafsir saat itu, Prof Munjiah Suwaihi, adalah seorang wanita muslimah yang tidak berjilbab. Beliau tidak segan masuk kelas hanya memakai rok selutut dan membiarkan rambut pirangnya terlihat oleh para mahasiswanya yang mayoritas adalah pria dewasa. Hingga kala itu, tepatnya 27 Nopember 2005, aku pernah menulis catatan harian bertajuk : Mana Jilbabmu, Bu Guru. (Dapat Anda baca di blog ini)
http://www.dedepermana.blogspot.com/2006/01/mana-jilbabmu.html

Kembali Berjenggot
Kali ini, aku juga melihat banyak pria Arab Tunis yang berjubah dan berjenggot. Baik di kampus, atau di luar kampus. Mungkin ini juga salah satu ekspresi kebebasan beragama, sebagai buah dari revolusi. (Meski jubah dan jenggot, sebenarnya tak selalu bisa diidentikkan dengan simbol kesalehan atau keagamaan seseorang).

Fenomena ini, jelas merupakan sesuatu yang jarang ditemukan pada masa lalu, ketika lelaki “pejubah” dan “pejenggot” masih diidentikan sebagai aktifis Muslim militan yang patut dicurigai.

Pemerintah rezim Ben Ali (1987-2010) dan rezim Borguiba (1957-1987) sangat alergi dengan kekuatan Islam Politik. Simbol-simbol keagamaan sebisa mungkin tidak dimunculkan di ruang publik. Umat Islam seperti dibuat malu untuk menunjukkan identitas formal keislaman mereka. Wanita muslimah malu – bahkan takut – untuk berjilbab, kaum prianya dibuat keder jika disebut sebagai Islamis. Kaum muslimah enggan bercadar karena akan sering ditanyai intel yang membayangi hampir di setiap jengkal tanah di negeri ini. Bacaan murattal al Quran jarang sekali diputar dengan suara nyaring.

Alhamdulillah, semua itu telah berubah. Semua itu hanya kenangan masa lalu.

Kembali Menjabat
Sudah menjadi hukum yang tidak tertulis, penguasa akan memprioritaskan orang-orang dekatnya duduk di kursi jabatan. Mereka yang anti pemerintah – atau setidaknya berani kritis kepada pemerintah, janganlah berharap manisnya kue kekuasaan.

Seperti itulah yang terjadi saat ini di Tunis. Rezim berganti, sosok-sosok pemegang kebijakan pun berubah. Moncef Marzuki – presiden sementara Tunisia saat ini – adalah tokoh oposisi dan aktifis HAM yang pada masa lalu terpinggirkan dan diasingkan ke Perancis selama puluhan tahun. Begitu juga Hammadi Jebali, Perdana Menteri saat ini, adalah Sekjen an Nahdha, partai oposisi yang selama ini kritis terhadap penguasa.

Di kampus Universitas Zitouna saat ini, unsur pimpinan diisi oleh para dosen yang pada masa lalu dikenal idealis, kritis dan bahkan berani berseberangan dengan pemerintah. Adalah Prof Hisyam Krisha, Guru Besar Ushul Fiqh yang dulu hanya dosen biasa dan tidak diberi peran – bahkan konon membimbing tesis mahasiswa pun dilarang, kini menjadi Pembantu Rektor. Prof Nurdin al Khadimi, mantan Direktur Pascasarjana yang dikenal sangat produktif menulis buku, kini menjadi Menteri Agama. Sebaliknya, para dosen yang dulu dekat dengan istana, kini semua tersingkir. Termasuk beberapa dosenku dulu yang saat ini tak lagi diaktifkan di kampus. Misalnya Prof Munjiah yang tidak berjilbab tadi, juga Prof Shadiq Kurshid dan beberapa dosen lain. Mereka tak lagi mengajar. Bahkan Prof Bou Bakar Akhzuri, mantan rektor yang kemudian jadi Menteri Agama era Ben Ali, khabarnya saat ini mendekam di penjara.

Kembali Mengaji.
Satu lagi fenomena menarik yang tak kalah penting ; ritual ibadah umat Islam kembali marak, dari yang mulanya “seperlunya”, bahkan terkesan malu-malu.

Dari beberapa pengamatanku sementara ini, masjid-masjid kembali dipadati umat. Jemaah shalat Jumat membludak hingga ke halaman masjid. Materi khutbah Jumat lebih variatif, para khatib lebih berani bicara hingga ke wacana-wacana kekinian. Karena pengawasan sudah tak ada lagi. Beda dengan dulu – sebagaimana dituturkan Prof Abdullatif Bouazizi pembimbing tesisku yang menjadi khatib tetap di sebuah masjid, bahwa setiap Jumat pagi, ia selalu didatangi intel yang bertanya, “nanti saat khutbah, tema apa yang akan kau sampaikan?”

Oya, satu lagi yang penting : nama presiden tak lagi disebut dalam doa khutbah. Kalau dulu, setiap khatib ‘wajib’ menyebut nama Ben Ali dalam doa khutbah kedua.

Bacaan murattal Al Quran terdengar hampir di setiap jalan. Para muadzin mengumandangkan adzan dengan penuh percaya diri. Berbeda dengan pada masa lalu, ketika adzan diputar melalui kaset. Masjid-masjid tidak punya muadzin, tetapi memiliki tape yang siap memutar kumandang adzan pada setiap awal waktu shalat.

Pada saat yang sama, kegiatan pengajian-pengajian halaqah alias majelis taklim kembali ramai di sejumlah masjid. Di Masjid Al Maraksyi, dekat sekretariat PPI, pengajian halaqah kembali digelar. Begitu juga di Jam’iyah Mushtafa, sebuah majelis taklim di kawasan Monflury, kembali aktif pada tahun ini.

Di Masjid Agung Zitouna, kegiatan pengajian halaqah juga kembali dibuka, setelah selama 50 tahun ditutup oleh rezim penguasa. At Ta’lim az Zaituni, itulah namanya, yakni majelis-majelis pengajian kitab kuning dan tahfidz al Quran yang telah berjalan selama berabad-abad, bahkan sejak awal masjid ini dibangun, pada tahun 732 Masehi. Sebagaimana dituturkan Syekh Tahir Ibn Asyur dalam buku Alaisa Subhu bi Qarib, bahwa pengajian halaqah di Zitouna ini merupakan cikal bakal berdirinya Universitas Zitouna.

Pembukaan kembali at Ta’lim az Zaituni disambut hangat oleh umat. Seorang rekan mahasiswa Indonesia yang hadir pada acara pembukaan resmi pengajian ini pada awal Oktober 2012 lalu menuturkan, para masyayikh bergiliran berpidato dengan penuh semangat, bahkan beberapa di antara mereka meneteskan air mata.

Khatimah
Watilkal Ayyamu Nudawiluha Bainan Nas. Demikian kata Al Quran. Bahwa roda kehidupan itu akan berputar, manis dan pahit akan dialami secara bergiliran oleh manusia dari waktu ke waktu. Apa yang aku tuturkan di sini, hanyalah fakta-fakta lahir saja, sesuatu yang tersurat secara kasat mata, dan itupun baru hasil pengamatan sementara. Sebagaimana kusebut di awal tadi, aku baru 3 minggu di kota ini.

Jika memang ini pertanda awal bagi kebangkitan Islam di Tunisia, semoga semuanya berjalan secara baik, terarah dan membawa kemaslahatan. Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, Ahad 09 Desember 2012 

Sunday, December 02, 2012

Jakarta-Tunis


Antara Jakarta dan Tunis

Isteriku dan puteriku, di Habib Borguiba Avenue, salah satu jalan utama di kota Tunis

Memboyong isteri dan anak yang masih batita ke luar negeri untuk tujuan studi dengan beasiswa yang terbatas, memang bukan pilihan yang mudah. Tapi pilihan itu aku ambil, dengan Bismillah Tawakkaltu ‘alallah. Aku juga ingat ucapan Ippho Santosa, bahwa orang yang berotak kiri akan cari modal dulu baru bergerak, sedangkan orang yang berotak kanan akan bergerak dulu, baru cari modal. Aku setuju dengan Ippho. Bismillah, insya Allah ada jalan.

Arab Tunis
Aku memilih Univ Zitouna Tunis untuk lokasi studi, juga bukan pilihan dadakan. Telah kupikirkan cukup lama, dengan mempertimbangkan berbagai hal, baik factor internal kampus, maupun factor eksternalnya. Yang kumaksud dengan faktor internal kampus adalah yang terkait system belajar, dukungan fasilitas, kapabilitas dosen, serta system administrasi kampus. Sedangkam factor eksternal adalah faktor social dan budaya masyaraka setempat, iklim politik – maklum suhu politik di beberapa Negara Arab saat ini masih memanas, factor  ekonomi negara tersebut, juga factor WNI-nya.

Selain factor-faktor itu, aku juga telah memastikan, bahwa pasca revolusi (Arab Spring) tahun 2011 lalu, Tunisia memasuki era baru. Yakni era reformasi politik dan demokratisasi, yang berimbas ke seluruh aspek kehidupan termasuk bidang keagamaan. Kehidupan keberagamaan dan pendidikan Islam di Tunis saat ini, jauh lebih baik dari masa-masa yang lalu, lebih terbuka, dan insya Allah lebih kondusif.

Satu lagi yang tak kalah penting ; Ahad 18 Nop 2012 sebagai jadwal keberangkatan, juga kupilih dengan pertimbangan matang. Tanggal itu, adalah tanggal pernikahanku. Artinya, keberangkatanku ke Tunis bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan yang ke-5. Kebetulan juga 18 Nop 2007 dan 18 Nop 2012 harinya sama ; Ahad. Anggap saja ini sebagai kado ulang tahun pernikahan untuk isteri.

Jakarta-Doha-Tunis
Penerbangan antara Jakarta-Doha selama 8,5 jam dan Doha-Tunis selama 6,5 jam kami lalui dengan lancar. Jadwalnya tepat waktu, dan anakku Firyal yang baru berusia 2,5 tahun juga nampak nyaman dan menikmati perjalanan. Tidak rewel. Justeru ia kelihatan enjoy, sekali-kali tidur, sekali-kali juga sibuk mewarnai buku-buku gambar kartun Sponge Bob yang sengaja disediakan maskapai khusus untuk anak kecil.

Jauh-jauh hari sebelum berangkat, saya dan isteri sudah mengantisipasi apa saja kebutuhan selama perjalanan jarak jauh bersama anak kecil. Sejumlah informasi dan pengalaman orang lain, kami browsing di internet. Kami siapkan beberapa kebutuhan anak, seperti mainan dan earphone kids.

Episode Kedua
Senin (19/11) pagi, kami tiba di bandara internasional Chartage, Tunis. Kami disambut oleh Bpk Mahfudz, staf konsuler KBRI Tunis, serta beberapa rekan mahasiswa pengurus PPI Tunisia.

Alhamdulillah, kehadiran Bpk Mahfudz di bandara sangat berarti bagi kami. Bagasi kami yang berisi beragam bekal dan oleh-oleh, berlalu begitu saja di hadapan petugas bandara, tanpa ada pemeriksaan apalagi razia.

Inilah kunjungan keduaku di negeri kecil berpenduduk 11 juta jiwa ini. Kunjungan pertama, selama rentang 2005-2007 lalu, ketika aku menyelesaikan studi magister. Kala itu aku sendiri, masih single.

Kunjungan kedua kali ini, aku datang ke Tunis bertiga ; aku, isteri dan anak. Isteriku juga telah mendaftar untuk program S2 pada universitas yang sama. Sedangkan anakku, ia ikut untuk mendampingi kami, menghiasi hari-hari kami agar tetap ceria dan penuh optimisme. Bersama hadirnya, yang sulit terasa mudah, yang jauh terasa dekat, yang berat terasa ringan.

Semoga episode kedua perjalananku di Tunis ini, penuh keberkahan. Salam manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, Ahad 02 Desember 2012

Thursday, February 09, 2012

Doa Santri

Berdoalah Setiap Usai Mengaji

 Aku sangat menikmati aktifitas mengaji kitab kuning bersama para santri

Ada satu hal yang tak pernah kulewatkan setiap usai mengaji bersama para santri saat ini, yakni berdoa bersama-sama. Mulutku komat kamit berdoa, mereka kompak mengamini. Aku juga selalu meyakinkan mereka bahwa doa setelah melakukan amal saleh akan dikabulkan Allah alias mustajabah. Karena mengaji adalah amal saleh, berarti doa setelah mengaji pun mustajabah.

Aku meyakini hal ini sejak masa kecil dulu. Aku pun telah mempraktekkannya sejak lama. Ada sebongkah kenikmatan dan optimisme yang kurasakan saat bermunajat kepada Tuhan, usai mengikuti pengajian.

***
Doa-doaku usai mengaji, rasanya telah dikabulkan Allah semua. Sekitar tahun 2003-2004, hampir setiap pagi aku mengikuti pengajian halaqah kitab kuning di Masjid Al Azhar yang diasuh oleh Syekh Ali Jumah, Mufti Negara Mesir saat ini. Sekitar jam 09-an usai mengaji, aku selalu menyempatkan diri shalat dhuha dan shalat hajat di pojok-pojok Masjid Al Azhar. Usai shalat, aku berdoa agar mendapat kemudahan studi yang sedang kujalani. Menjadi mahasiswa S2 di Mesir tanpa beasiswa dan tanpa subsidi dari keluarga sungguh terasa berat bagiku kala itu. Konsentrasi terbagi-bagi. Aku curhat kepada Allah setiap usai mengaji. Alhamdulillah, tahun berikutnya aku mendapat panggilan belajar di Universitas Zaitunah Tunis.

Selama tinggal di kota Tunis (2005-2007), aku sering mengikuti pengajian Tahfidz di Masjid Agung Zaitunah. Waktunya setiap Kamis sore. Biasanya, aku terus berada di Masjid mengikuti pengajian tafsir setiap bakda magrib yang diasuh oleh seorang syekh. Usai pengajian tahfidz dan pengajian tafsir itu, aku selalu memanfaatkan waktu meski sesaat untuk berdoa. Di antara doa yang tak pernah terlewat adalah kemudahan dalam studi. Aku ingin segera selesai kuliah dan pulang ke Tanah air bertemu orang tua. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doaku itu. Selama dua tahun di Tunis, jalan studiku laksana jalan tol yang mulus, nyaris tanpa kesulitan yang berarti. Akhir 2007 kuliahku selesai, tercepat di antara sesama mahasiswa seangkatan.

***
Di Tanah Air, tradisi ini terus kulanjutkan. Kebetulan aku mengampu beberapa sesi pengajian di pesantren yang dikelola keluarga. Di antaranya adalah pengajian Kitab Kuning setiap Sabtu pagi dan Ahad malam. Setiap usai menyampaikan materi pengajian, aku selalu menyempatkan diri berdoa, seraya minta diamini oleh para santri. Aku yakin betul, berdoa usai melakukan amal saleh adalah mustajabah.

Selama masa kehamilan isteri (2009-2010), aku selalu menyebutkan doa keselamatan untuknya setiap sesi doa usai mengaji. Saat peci dan sorban masih menempel, kitab masih berada di genggaman. Alhamdulillah, April 2010 ia melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu.

Awal tahun 2011, aku juga menghadapi sebuah persoalan yang cukup serius terkait status kepegawaianku di kantor tempatku bekerja. Aku pun segera mengurusnya. Aku terus berkoordinasi dengan Bagian Kepegawaian, bahkan aku juga pernah datang ke Badan Kepegawaian Negara di Jakarta. Pada saat yang sama, aku mem-back up upaya itu dengan doa usai mengaji bersama santri. Alhamdulillah, sekitar Oktober 2011 urusanku selesai sesuai harapan.

***
Salah satu hal yang dapat menghalangi dikabulkannya doa adalah dosa. Demikian disebutkan oleh Nabi dalam sebuah haditsnya. Imam Syafii ( w 150 H) juga pernah membuat syair yang menyebutkan bahwa dosa-dosa (ma’ashi) dapat menyebabkan seorang santri sulit menghafal pelajaran.

Kyai-ku di Sukabumi dulu sering mengatakan bahwa dosa-dosa seseorang akan berjatuhan ketika ia berjalan menuju tempat pengajian atau ketika sedang memeras pikirannya di majelis pengajian. Maka semakin sering ia belajar, semakin sedikitlah dosanya. Pantas jika doanya di majelis pengajian akan diijabah oleh Allah, karena tirai yang menghalangi dirinya dengan Allah, sudah semakin tipis, atau hilang sama sekali. Subhanallah.