Saturday, October 06, 2007

Tunisia Pamitan

Selamat Tinggal Tunisia

Tarawih di Mesjid Zaituna semalam, semoga bukan tarawih terakhirku di mesjid tua ini. Karena aku masih ingin salat di sini, di mesjid kebanggaan muslim Tunis, mesjid yang kini berusia 1275 tahun.

“Ya Allah, aku akan terus merindukan untuk bisa salat di tempat ini, seperti halnya aku selalu merindukan untuk salat di Mesjid al Haram, di Mesjid Nabawi, dan di Mesjid al Azhar..”.

Demikian salah satu bait doaku, semalam. Doa yang kubisikkan lirih, dalam sujud panjang, di salah satu pojok ruangan Mesjid Zaituna al Ma’mur, di jantung Medina, Old Tunis yang antik.
* * *
Usai tarawih, kuayunkan langkah perlahan, kutelusuri lorong-lorong kota tua. Jalanan sempit diantara deretan rumah antik dan pertokoan souvenir. Juga toko-toko maqroud, kue legit khas Kairouan yang manisnya minta ampun itu.

Lampu-lampu sepanjang Rue Zitouna yang membelah Medina juga telah menyala. Meski sinarnya redup. Seredup hati ini yang terus menerawang, sambil sesekali berdoa.

“Ya Allah, izinkanlah aku, agar suatu saat nanti, bisa kembali menelusuri lorong-lorong bersejarah ini. Gang-gang sempit yang pernah dilewati para sahabat Rasul-Mu kala berjuang menaklukkan Chartage ; jalanan kecil yang kulewati setiap pagi kala berangkat kuliah”.

Wahai Allah, perjalananku semalam, menelusuri lekuk dan liku Medina, semoga bukan perjalanan terakhirku di kota ini. Dan Ahad Tujuh Oktober besok, semoga bukan hari terakhirku di negeri Arab yang gaul ini. Melainkan ada rangkaian hari-hari lain, suatu saat nanti, yang aku lewatkan kembali, bernostalgia di negeri ini.

* * *
Tunisia adalah negeri kecil. Luasnya hanya sepertiga Sumatera, jumlah penduduknya kira-kira sama dengan jumlah warga Jakarta. Andai Tunisia tak jadi langganan peserta Piala Dunia, barangkali ia semakin tidak dikenal orang.

Tetapi, cerita dan hikmah kehidupan –manis dan pahit - yang kutemui selama 23 bulan berada di negeri ini, keindahannya tak mungkin terlukis dengan kata-kata. Pesonanya, akan selalu terpatri dalam sanubari, tersimpan dalam ingatan yang takkan pernah lepas.

Di negeri Arab yang berpenduduk 99 persen muslim ini, aku menemukan wajah Islam yang sangat khas. Amat berbeda dengan yang kualami di tanah airku sendiri, negeri tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Juga lain dengan yang kusaksikan di Mesir, negeri para Nabi, negeri tempat aku melewatkan masa transisi yang warna-warni selama lebih dari 40 bulan.

Tunisia adalah potret nyata dari wajah Islam yang nyaris terserabut dari keagungan tradisi yang mewarisinya. Kecuali sekedar ritual formal yang hampa, kaku dan penuh rekayasa. Sebaliknya, budaya dan gaya hidup Eropa nampak kentara dalam kehidupan harian, terutama di kalangan anak-anak muda.

Sebagian orang mengatakan bahwa Tunisia mewakili tipologi negeri muslim yang moderat. Moderat dalam arti amat terbuka dengan dunia luar, ramah dengan non muslim, meski terkesan terlalu longgar dalam memegang prinsip-prinsip utama agama.

Hingga di Tunisia ini, pengamalan atas ajaran agama serasa begitu mudah, sarat dengan apa yang dinamakan sebagai ‘toleransi’. Atas dasar prinsip keluwesan syariat, tafsir-tafsir modern atas ajaran begitu populer di negeri bekas jajahan Perancis ini. Tengoklah di negeri ini, jilbab diyakini sebagian besar orang sebagai bukan kewajiban agama, salat Jumat tak mesti dilakukan awal waktu dzuhur (bisa juga seperempat jam sebelum adzan Ashar). Dan sebagainya.

Dan aku, sempat menyaksikan gaya hidup dan pola beragama muslim Tunisia itu, serta mengintipnya dari balik jendela-jendela ruang kuliah. Lalu membicarakannya dengan para mahasiswa asing lainnya, mengkritisinya dengan seribu satu idealisme. Maklum, seperti kata orang, kampus adalah dunia mimpi. Setiap orang menatap dengan mata terpejam. Begitu terbangun dari mimpi, ia akan mendapatkan dirinya terdampar pada realita kepahitan demi kepahitan.

Apakah saat ini, detik ini, aku juga telah terbangun dari mimpi-mimpi itu?!

* * *
Usai tarawih semalam, aku terus berjalan. Menelusuri Habib Borguiba Avenue di jantung kota. Melewati gedung kuno al Masrah al Qaumi, tempatku sesekali menyaksikan teater rakyat Barbar, cerita-cerita dari Sahara, atau juga pentas Sulaimiyah, qasidah Arab Magribi khusus lagu-lagu salawat itu.

Aku terus berjalan, di tengah keramaian orang-orang, muda-mudi yang berdandan rupawan, melewatkan malam-malam Ramadhan di kafe dan taman-taman hiburan. Beberapa malam terakhir, alun-alun selalu ramai, dipadati kawula muda Tunis yang hendak menghibur diri di acara Festival Medina, pentas kesenian yang digelar setiap akhir Ramadhan. Ya beginilah, gaya mereka menghidupkan sepuluh malam terakhir dari bulan suci.

Aku terus berjalan, hingga tiba di Sidi Basyir, lokasi pasar tradisional, dengan deretan restoran kuskus, serta kios-kios kecil penjual malawi.

* * *
Siang ini, aku juga akan terus berjalan. Menelusuri tempat-tempat kenangan. Tak peduli saran para rekan, agar aku beristirahat saja, memulihkan energi sebelum terbang ke tanah air.

Biarlah kawan, siang ini aku akan berlagak seperti seorang petualang, yang jiwanya tidak bisa dimiliki, karena dia butuh inspirasi. Karena kalau jiwanya sudah diikat, berarti dia akan beku dan mati.

Biarkanlah kawan, aku terus berjalan, sebelum tiba esok siang, ketika aku harus menaiki tangga-tangga pesawat, lalu melambaikan tangan sambil berbisik lirih, “Selamat Tinggal Tunisia”.

Tunis al Khadra, 6 Oktober 2007

Monday, October 01, 2007

Sidang Tesis

Ujian Lulus, Kami Pesta Kuskus



Suasana saat ujian tesisku di Universitas Zaituna, Tunis

Barangkali, akulah manusia yang paling berbahagia di dunia pada hari Senin 24 September 2007 lalu. Bagaimana tidak. Siang Senin itu, aku dinyatakan lulus dalam ujian akhir (munaqasyah) magister setelah mempertahankan tesis bertema ‘Nadzariyatul Maqasid min Khilali Fatawa Izzudin ibn Abdis Salam’ di kampus Universitas Zaituna, Tunis.

Inilah puncak dari perjalanan panjangku selama hampir enam tahun berkelana di negeri orang. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan, sarat dengan suka, duka, tawa, canda dan bahkan airmata. Maklum, hampir selama masa itu, aku harus membiayai perjalanan dan studiku sendiri, tanpa beasiswa atau kiriman orang tua.

Sidang Tanpa Kue
Sidang tesisku berlangsung selama hampir tiga jam, dimulai pada pukul 10.00 waktu Tunisia, atau 15.00 WIB. Dewan Sidang terdiri dari tiga orang ; Prof Sodik al Khuni (Ketua, merangkap penguji metodologi), Prof Hisham Krisha (Anggota, Guru Besar Ushul Fiqh,penguji materi) dan Prof. Abdullatif Bouazizi (Anggota, Guru Besar Ushul Fiqh, pembimbing).

Tak banyak tamu yang hadir, hanya 30-an orang. Terdiri dari keluarga besar KBRI Tunis –termasuk Duta Besar sekeluarga, para dosen serta rekan-rekan mahasiswa seangkatan. Hari-hari ini, awal tahun ajaran baru, aktfitas belajar di kampus belum berjalan stabil. Sebagian besar mahasiswa Tunisia masih malas-malasan berangkat kuliah.

Kebetulan pula, sidang tesisku ini digelar pada hari ke-12 di bulan suci Ramadhan. Maka, tak ada hidangan kue khas Indonesia yang disajikan kepada para tamu. Beberapa rekan mahasiswa Tunisia berkomentar dengan nada agak kecewa, "kenapa ujianmu jatuh pada hari Ramadhan?".

Sebagian kalangan di kampus memang sudah faham, bahwa setiap ada ujian mahasiswa Indonesia, mesti ada kue-kue manis khas bumi pertiwi, yang disiapkan oleh ibu-ibu Dharma Wanita KBRI.

Tesis Maqasid SyariahDalam risalah setebal 160 halaman ini, aku mengkaji fatwa-fatwa Syekh Izzudin ibn Abdis Salam -ulama besar Damaskus bermadzhab Syafii yang wafat di Mesir pada tahun 660 H - dalam bidang muamalah maliyah, yakni hukum-hukum fikih yang menyangkut harta benda seperti jual-beli, sewa menyewa dan utang-piutang. Dari setiap fatwa, aku berusaha mengkaji metode ijtihad sang syekh serta pertimbangan-pertimbangan maqasid yang melatarbelakanginya. Pada bagian akhir risalah, aku memaparkan teori-teori maqasid syariat yang digunakan oleh sang syekh dalam fatwa-fatwanya itu.

Maqasid artinya tujuan. Maka, maqasid syariat artinya tujuan-tujuan atau rahasia diturunkannya syariat. Menurut para ulama ushul, tujuan diturunkannya syariat adalah untuk menciptakan kemaslahatan (jalb al mashalih), yang dalam praktiknya dilakukan dengan memelihara 5 hal ; agama (hifdzu ad din), nyawa (hifdzu an nafs), akal (hifdzu al aql), keturunan (hifdzu an nasl), dan harta (hifdzu al mal).

Teori-teori maqasid syariat sangat penting digunakan dalam berijtihad guna melahirkan fikih yang hidup, tidak kaku, berpihak pada kemaslahatan manusia, tetapi tak lepas dari koridor wahyu. Contohnya seperti yang ditunjukkan oleh syekh Izzudin ketika ia melarang umat Islam di Damaskus menjual senjata kepada para tentara Salib. Kala itu, tentara Salib berkoalisi dengan raja Damaskus, Saleh Ismail, yang berseteru dengan raja Mesir, Najmudin Ayub. Padahal, kedua raja itu masih bersaudara. Syekh Izzudin berfatwa,"haram bagi kalian menjual senjata itu kepada para tentara Salib, karena kalian sudah tahu dan bisa memastikan, bahwa senjata itu akan mereka pakai untuk memerangi saudara-saudaramu yang sesama muslim (di Mesir)".

Jual beli adalah suatu kebolehan, selama dilakukan sesuai aturan agama. Jual beli merupakan sebuah cara bagi manusia dalam memperoleh keuntungan harta (mal). Akan tetapi, hukum jual beli bisa menjadi terlarang alias haram, jika ia berimbas pada kerusakan (mafsadat). Seperti dalam fatwa di atas, menjual senjata kepada musuh yang nyata-nyata berniat memerangi saudara kita seiman. Maka, menjaga nyawa (hifdzu an nafs) muslim, lebih utama dari pada sekedar memperoleh keuntungan harta (mal) dari jual beli.

Pengharaman menjual senjata kepada musuh, merupakan upaya menutup jalan kerusakan (mafsadat), yang dalam ilmu ushul fiqh dikenal dengan prinsip sad adzara’i.

Dalam kaitannya dengan fenomena kekinian, fatwa ini juga bisa menjadi dasar bagi keharaman membantu - atau bekerja sama dengan orang kafir yang jelas-jelas memerangi umat Islam. Misalnya, membantu Amerika atau Yahudi yang mengadudomba umat Islam di Palestina, memerangi saudara-saudara kita di Irak atau di Darfur, Sudan. Oya, bagaimana menurut pandangan pembaca?

Tanpa BeasiswaJika merunut sejarah dan kiprah mahasiswa Indonesia di Tunisia, aku adalah mahasiswa Indonesia kedelapan yang meraih gelar magister di kampus tua ini. Baru delapan orang, karena memang jumlaj mahasiswa kita yang belajar Islam di negeri berpenduduk 11 juta jiwa ini selalu sedikit setiap tahunnya. Tahun 2007 ini saja, jumlah mahasiswa dan pelajar kita hanya 15 orang.

Ada dua jalur yang dilalui para calon mahasiswa untuk bisa belajar di Tunisia. Pertama, lewat jalur Departemen Agama, kedua, lewat jalur mendaftar sendiri. Jalur pertama ditempuh dengan cara mengikuti seleksi di Departemen Agama Pusat. Para calon mahasiswa yang dinyatakan lulus biasanya akan mendapat beasiswa selama menempuh masa studi.

Menurut catatan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia, Departemen Agama RI pernah mengirim mahasiswa untuk belajar program S1 di Universitas Zaituna pada tahun 1993, 1994, 2001 dan 2006. Pengiriman yang tidak rutin per tahun. Barangkali karena iklim Tunisia dinilai kurang kondusif untuk lokasi belajar Islam.Terutama yang berkaitan dengan gaya hidup dan kebebasan masyarakatnya. Seorang rekan bertutur bahwa iklim sosio kultural kota Tunis, sulit membentuk pribadi muslim yang 'santri'.

Jalur kedua adalah mendaftar sendiri, atau – dalam istilah rekan-rekan mahasiswa Kairo – dikenal dengan sebutan ‘terjun bebas’. Caranya, mengirimkan berkas via pos, lalu proses pendaftarannya dilakukan oleh Perwakilan RI di Tunisia. Biasanya berkas diajukan ke Kementrian Pendidikan Tinggi Tunisia pada bulan Mei. Pengumuman nama-nama mahasiswa yang diterima biasanya pada bulan Agustus.

Nah, aku masuk Tunisia lewat jalur kedua ini. Mengajukan berkas sendiri, lalu menjalani hari-hari studi dengan resiko biaya sendiri. Karena memang jalur kedua ini tanpa beasiswa.

Untung saja, semua jenjang pendidikan di negeri termakmur ketiga di Afrika ini disediakan secara gratis. Tak ada kewajiban membayar SPP atau biaya apapun. Kecuali untuk buku, diktat kuliah dan asuransi.

Berat memang, menjalani hari-hari studi tanpa beasiswa seperti ini. Memaksaku untuk sesekali bekerja, melakukan aktifitas yang bisa menghasilkan uang. Tentu dengan cara-cara yang halal. Diantaranya adalah menulis artikel, menerjemah buku, menjadi guide tamu, atau membantu acara-acara di KBRI. Lalu, jalani semua itu dengan ikhlas, doa yang terus menerus serta keyakinan yang kuat kepada Allah. Dan Alhamdulillah, semuanya bisa aku jalani dengan lancar.


Usai doa bersama kami makan kuskus, makanan khas Tunisia

Syukuran Lulus Dengan KuskusSore Senin (24/9) itu, aku berkumpul bersama kawan-kawan. Berbuka puasa bersama, di rumah kediaman kami. Menu utamanya adalah kuskus, makanan khas Tunisia. (Tulisan khusus tentang kuskus : ‘Menikmati Kuskus di Kota Tunis’ ada di arsip blog ini, edisi Desember 2005). Sedangkan menu pembukanya adalah syurbah, brick, salatah, zaitun dan kurma. Yakni menu khas berbuka muslim Tunisia. (Tulisan khusus tentang gaya berbuka puasa orang Tunisia : ‘Berbuka Puasa Sampai Bodoh’, edisi Oktober 2006).

Di acara sore itu, turut hadir pula beberapa keluarga staf KBRI Tunis. Mereka datang membawa aneka kue dan buah-buahan. Menu berbuka kami senja itu pun semakin seru...!

Di acara itu, aku mengungkapkan syukur kepada Allah, seraya memohon doa dari para rekan, semoga Allah mencurahkan ilmu yang bermanfaat kepada kami semua yang belajar Islam di Tunisia khususnya, juga kepada semua pelajar dan mahasiswa kita, dimanapun berada. Ya Allah, kabulkanlah doa kami..! Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, 1 Oktober 2007

Tolak Puasa

Penguasa Menolak Puasa


Ngabuburit di depan Mesjid Agung al Marsa, tepian kota Tunis

Di bulan suci Ramadhan ini, tiba-tiba saya teringat kampanye anti puasa yang pernah dilakukan oleh Habib Borguiba, presiden Tunisia yang berideologi sekuler, pada awal dekade 1960-an. Alasan utama sang presiden, puasa melemahkan ethos kerja orang Islam. Sebuah kampanye yang mengagetkan publik dan memicu reaksi keras dari dunia Islam saat itu. Sang presiden dicaci maki, dikutuk, hingga sebagian ulama menjatuhkan vonis murtad, bahkan kafir kepadanya.

Apa dan bagaimana sebenarnya isi kampanye sang presiden? Apa konteks yang melatarbelakanginya? Benarkah kampanye menolak puasa itu merupakan salah satu bentuk sekulerisasi di Tunisia? Lalu, berhasilkah kampanye sang presiden?!

Kampanye Struktural
Borguiba duduk di kursi kepresidenan selama rentang 1957 hingga 1987. Dan kampanye anti puasa ini gencar ia lakukan pada tahun 1960, melalui pidato-pidato resmi kenegaraan. Diantaranya adalah pidato tanggal 18 Februari, tanggal 17 Maret dan tanggal 3 September 1960.

Yang ironis, pidato pada tanggal yang disebutkan terakhir adalah saat momen peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di Kairouan, sebuah kota sejarah Islam terpenting di Tunisia, bahkan di kawasan al Maghrib al Arabi. Kota yang memiliki mesjid-mesjid tua, zawiyah para wali dan makam beberapa sahabat Nabi saw. Kini, Kairouan adalah kota pusat kegiatan keagamaan Tunisia.

Sedangkan pidato tanggal 18 Februari dilakukan depan parlemen dan disiarkan Televisi. Hari itu, hari pertama Ramadhan. Dalam pidatonya, Borguiba mengajak umat Islam untuk tidak berpuasa. Dan yang mengagetkan orang, di sela-sela pidatonya, ia minum segelas jus. Sebuah ajakan yang tak hanya isapan jempol belaka, melainkan ajakan yang dibarengi contoh konkret.

Lebih dari itu, Borguiba menggunakan jalur struktural dan birokrasi untuk merealisasikan gagasannya itu. Ia mengeluarkan perintah agar para pejabat negara mengikuti ajakannya. Tak terkecuali kepada Menteri Pendidikan, yang saat itu langsung membuat edaran ke lembaga-lembaga pendidikan. Dalam buku Borguiba wal Masalah ad Diniyyah, Amel Moussa - seorang wartawati dan kolumnis wanita kawakan saat ini di Tunis – menuturkan pengakuan Fathia el Mazali, seorang kepala sekolah di era Borguiba seperti ini. "Pada bulan Ramadhan tahun 1961, saya menerima edaran dari Kementrian Pendidikan tentang dibolehkannya pengadaan makan siang di sekolah pada hari-hari Ramadhan. Alasannya adalah bahwa dalam hal ini, Ramadhan harus dianggap sama dengan bulan-bulan yang lain. Siang itu, saya melihat anak-anak di sekolah kebingungan dan bahkan menangis. Saya pun segera menelpon kementrian, untuk meminta peninjauan ulang atas edaran itu. Begitu juga yang dilakukan oleh para kepala sekolah di Tunis lainnya. Hingga setelah beberapa hari, edaran itu dicabut".

Fatwa Murtad
 Reaksi umat spontan mengemuka, baik dari dalam Tunisia sendiri, atau dari negara-negara Arab sekitar. Mufti Saudi Arabia kala itu, Syekh al Baz, mengeluarkan surat kecaman, sekaligus cap murtad kepada Borguiba. Dari dalam negeri, kecaman tak kalah keras. Baik dari kalangan ulama atau masyarakat umum. Hanya ada sebagian kecil ulama dan masyarakat yang mendukung ajakan sang presiden.

Untuk menanggapi protes-protes itu, Borguiba meminta bantuan para menteri dan ulama Tunisia. Tetapi sebagian mereka menolak, atau setidaknya memilih diam. Diantara pejabat yang nampak memberi dukungan kepada Borguiba adalah Menteri Pendidikan. Selain membuat edaran tadi, sang menteri juga membuatkan balasan atas surat kecaman dan vonis murtad yang dilayangkan oleh Mufti Saudi.

Pada bulan April 1960, Mufti Tunisia, Syekh Abdul Aziz Ju’aith, memilih mundur dari jabatannya, daripada ditekan terus agar mengeluarkan fatwa dukungan atas sikap sang presiden. Rupanya, mufti negara pun tidak setuju dengan sikap Borguiba. Kemudian, jabatan mufti negara pun tak ada yang mengisi alias kosong selama dua tahun. Baru pada tahun 1962, Syekh Fadhil ibn Asyur diangkat sebagai mufti berikutnya.

Untuk Ethos Kerja
Fenomena melemahnya ethos kerja umat Islam di bulan Ramadhan, nampaknya menjadi alasan utama Borguiba dalam berkampanye menolak puasa ini. Sementara, pada dekade 1960-an itu, Tunisia baru saja memasuki era pembangunan mengisi kemerdekaan. (Tunisia lepas penjajahan Perancis pada tahun 1956, lalu menyatakan diri sebagai negara republik pada tahun 1957).

Borguiba ingin agar muslim Tunisia memiliki semangat kerja yang tinggi untuk membangun negeri, mengejar ketertinggalan, meraih kemajuan, sebagaimana kemajuan yang diraih oleh bangsa-bangsa Eropa. Borguiba yang lulusan Fakultas Hukum di Paris, memang nampak silau dan amat mengagumi kemajuan peradaban Barat kala itu. Maka, dalam rangka mewujudkan ethos kerja itu, segala hambatan harus disingkirkan jauh-jauh. Nah, rupanya dalam konteks inilah puasa dinilai sebagai penghalang stabilitas ethos kerja dan prestasi.

Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa Borguiba juga merujuk kepada sebuah peristiwa kala Rasulullah saw beserta para sahabat memasuki kota Mekah di bulan Ramadhan. Sesaat sebelum masuk Mekah, Rasul berkata kepada para sahabat, "berbukalah kalian, agar kita masuk kota Mekah dalam keadaan segar dan mampu meraih kemenangan". Lalu, Rasul pun minum.

Menurut Borguiba, Rasulullah menganjurkan berbuka sebagai jalan menuju kemenangan dalam penaklukan kota Mekah. Maka, dalam konteks kekinian, tidak berpuasa demi mewujudkan fisik yang selalu siap bekerja untuk kemajuan dan kemakmuran negeri, merupakan hal yang dibolehkan. Dan sikap seorang presiden yang mengajak rakyatnya tidak berpuasa demi peningkatan ethos kerja, sama halnya dengan ajakan berbuka Rasulullah agar para sahabat tetap segar dan kuat kala menghadapi peperangan. Demikian beberapa pemikiran Borguiba, sebagaimana dikutip Amel Moussa.

Kampanye Tak Laku
Borguiba dikenal sebagai arsitek Tunisia modern. Ia ingin agar negeri yang berpenduduk 99 persen muslim ini mampu meraih kemajuan dan kemakmuran dalam bingkai modernitas dan sekuler. Untuk itu, ia memiliki beberapa gagasan, seperti larangan poligami, larangan jilbab dan identitas kegamaan lain di ruang publik, sekulerisasi dunia pendidikan, menggeser posisi bahasa Arab diganti dengan bahasa Perancis dalam hampir semua sektor kehidupan dan juga menolak puasa Ramadhan.

Sebagian besar dari program-program itu berhasil, dan imbasnya sangat nampak dalam kehidupan harian di Tunisia saat ini. Muslimah Tunisia banyak yang melepas jilbab, sekolah agama seolah kurang menarik, syiar dan identitas keagamaan tak begitu bebas bergerak di ruang publik.

Akan tetapi, khusus untuk program menolak puasa ini, nampaknya tak digubris oleh masyarakat muslim Tunisia. Sebaliknya, muslim Tunisia menentang ajakan sang presiden. Muslim Tunisia tak mau ‘dipaksa’ untuk tidak berpuasa Ramadhan, meski diancam dengan omong-omong, iming-iming dan bahkan amang-amang.

Ramadhan di Tunisia saat ini, selalu disambut dengan suka cita. Ucapan Ramadhankum Mabrouk terdengar di semua kesempatan. Acara-acara TV dan radio sarat dengan paket khusus Ramadhan. Mesjid-mesjid ramai dengan jemaah tarawih. Siang hari, semua warung makanan dan kafe tak ada yang buka. Orang dewasa yang ketahuan berbuka secara sengaja di depan umum bisa dikenai sanksi.

Ajakan sang presiden untuk meninggalkan puasa Ramadhan, ternyata tak laku. Tunisia, Ramadhankum Mabrouk. Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, 22 September 2007

Monday, June 25, 2007

Rumah Arab

Kami Tinggal di Rumah Arab
 
Sejak awal Juni 2007 ini, aku bersama rekan-rekan mahasiswa Indonesia, tinggal di sebuah rumah bercorak khas Arab Magribi. Yakni rumah tembok permanen, berbentuk persegi, di tengahnya terdapat pelataran terbuka yang dikelilingi ruangan-ruangan kamar tidur, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Warna cat temboknya putih, sedangkan jendela dan pintu berwarna biru.

Melewatkan malam-malam musim panas dalam suasana rumah seperti ini, dilengkapi iringan dangdut Arab, terasa semakin mendekatkanku pada kebudayaan dan tradisi masyarakat sekitar tempat tinggalku ; Tunisia.

Kota Tua, Biru dan Putih
Rumah bertipe seperti ini, memang telah menjadi ciri khas rumah tradisi orang Arab di kawasan al Maghrib al Arabi – terutama Tunisia, Aljazair dan Maroko.

Coba saja Anda telusuri Medina - kota tua Tunis - terutama di kawasan Halfaouine, Bab Souika, atau Sidi Basyir. Komplek perumahan warga, didominasi warna putih dan biru. Rumah-rumah tua yang umumnya berlantai dua, memiliki pelataran terbuka, sementara bagian atapnya biasa dijadikan lokasi pesta atau resepsi keluarga.

Medina adalah kawasan kota tua dengan komplek pemukiman yang padat. Hanya dibelah lorong-lorong gang atau jalanan yang sempit. Kita bisa berjalan dan meloncat diantara atap-atap rumah itu. Seperti kebiasaan seorang anak bengal yang kusaksikan dalam film produksi Tunisia, berjudul Halfaouine.

Tetapi di Sidi Bou Said, kawasan bebukitan hijau di tepian barat kota Tunis, rumah-rumah bercorak biru putih itu dirawat lebih bersih dan rapi. Maklum, Sidi Bou Said adalah salah satu lokasi wisata utama Tunis. Setiap harinya –terutama pada musim panas –ribuan turis asing berjalan menelusuri kawasan biru-putih ini, mengunjungi pasar souvenirnya, serta duduk di kafe yang menghadap laut.

Bandul Pintu Tangan Fatimah
Seperti halnya rumah-rumah lainnya, bandul pintu rumah kami pun berupa tangan Fatimah. Yakni telapak tangan buatan dari besi, yang digantungkan dekat kunci pintu. Fungsinya, membantu tamu saat mengetuk pintu. Tamu tak usah mengetuk pintu dengan tangannya, tetapi cukup dengan mengetuk-ngetukkan telapak tangan buatan itu pada pintu.

Fatimah yang dimaksud adalah Fatimah az Zahra, puteri Rasulullah saw yang menikah dengan Sayidina Ali ra. Tak jelas asal-usulnya, mengapa dalam kepercayaan tradisional orang Tunis, telapak besi itu dinamai dengan tangan Fatimah.

Yang jelas, pintu biru plus telapaknya itu kini telah menjadi salah satu ciri khas, bahkan identik dengan Tunisia. Banyak sekali souvenir khas Tunis yang menggunakan simbol tangan Fatimah. Diantaranya gantungan kunci, jam dinding, lukisan atau bros jilbab. Bahkan ada juga liontin emas dan perhiasan lain yang berbentuk tangan Fatimah ini.

Rumah Polisi di Sarang Preman
Rumah kami tergolong tua. Bangunannya lama, serta berada di tengah-tengah komplek pemukiman padat kaum miskin kota. Tak banyak tetangga yang punya mobil. Satu hal lagi, daerah tempat tinggal kami dikenal sebagai lokasi persembunyian para preman.

Tetapi kami selalu merasa aman. Alhamdulillah. Salah satu faktornya, karena bapak kost kami adalah seorang yang dihormati di sana. Maklum, beliau adalah seorang purnawirawan polisi. Dari sekian orang anaknya, empat diantaranya juga berprofesi sebagai polisi. Ada polisi lalu lintas, polisi buru sergap serta intel. Dan mereka semua tinggal di sekitar rumah kami.

Harga sewa rumah kami adalah 250 USD per bulan. Rumah besar berkamar 3, dapur, kamar mandi, serta pelataran seluas kira-kira 40 meter persegi. Terhitung murah untuk ukuran Tunis. Berkah dari kebaikan bapak kost yang mencintai pendidikan, serta kebaikan hubungan yang kami bina selama ini. “Sejak tahun 2000, harga sewa rumah kita tetap”, tutur seorang rekan senior.

Rumah Suka, Rumah Duka
Banyak suka duka yang khas, dari pengalaman tinggal di rumah dengan pelataran terbuka seperti ini. Hari-hari ini, ketika suhu siang di atas 40 derajat Celcius, udara sangat terasa panas. Hingga di dalam kamar sekalipun. Kipas angin nyaris tak henti berputar.

Saat malam tiba, udara mulai adem. Kami biasa duduk-duduk santai, lesehan di pelataran. Makan malam bersama, sambil ngobrol ngalor ngidul, bertukar pengalaman masing-masing, usai seharian berinteraksi dengan orang Tunisia. Atau sesekali kami menggelar rapat, diskusi rutin atau salat magrib berjamaah di pelataran terbuka ini.

Aku belum bisa membayangkan, bagaimana suasana pada musim dingin nanti, kala suhu udara mencapai 0 derajat, atau lebih rendah. Tentu malam-malam akan menjadi sepi, karena semua orang berada di dalam kamar. Atau saat hujan turun dengan lebat, tentu untuk pergi ke dapur atau kamar mandi saja, kami harus memakai payung. Salam Manis dari Tunis.

Tunis, 24 Juni 2007

Friday, May 18, 2007

Tunis Motor Gede

Perjalanan Kang Jeje di Tunisia*


Aku bersama Kang Jeje, saat sarapan pagi di Tunis

Senang rasanya bisa ketemu dan ngobrol lama dengan petualang dunia asal Bandung, Jeffrey Ronny Polnaja alias Kang Jeje, yang tiba di Tunis awal Mei lalu. Ragam informasi seputar warna-warni dunia serta kisah petualangan yang mendebarkan kudengar langsung dari pria yang keliling dunia naik motor gede ini.

Juga ada rasa bangga yang tak terkira, ketika pada hari-hari itu, hampir semua koran lokal Tunis menulis kata “Indonesia” dengan image yang positif, buah dari perjalanan Jeje yang bermisi Ride for Peace. Selama ini, kalaupun muncul di koran-koran Tunisia, nama “Indonesia” biasanya terkait dengan wabah flu burung, gempa bumi atau banjir.

Cuci Motor Gede, Rebutan...!
Senja Selasa (1/5) Kang Jeje tiba di Wisma Duta KBRI Tunis. Pagi Rabu, aku bersama beberapa rekan telah siaga di sana, penasaran ingin ketemu petualang 100 negara itu. Juga ingin lihat, seperti apa sih, motor gede itu?!

Saat kami tiba, sepeda motor BMW R 1150 GS Adventure itu telah dikeluarkan dari garasi. Sesaat kuamati motor bernomor polisi D 5010 JJ itu. Serasa mimpi, melihat kendaraan bernomor polisi D (Bandung) di luar negeri.

Pada ujung belakang joknya ada tiga kotak besar, untuk menyimpan perangkat perjalanan. Dekat lampu depan ada stiker merah putih dan peta Nusantara.

Seorang pria tinggi besar dan berkumis berdiri di sampingnya. “Wah, ini tentu Kang Jeje”, pikirku. Lalu kusapa, dan ternyata benar. Dialah lelaki yang meninggalkan tanah air pada penghujung April 2006 itu, guna menelusuri liku-liku dunia, hanya dengan menaiki motor.

Tiba-tiba seorang staf Wisma meminta bantuan kami mencuci motor buatan Jerman itu. Tentu kami setuju, dan bahkan semangat. “Wah, ini kesempatan langka”, tutur seorang rekan. Maka, kami bertiga bekerja sama mencuci motor yang telah dipake untuk perjalanan 40 ribu km itu. Sambil sesekali kami bergiliran, duduk di jok, lalu diabadikan dengan jepretan kamera. Prinsip aji mumpung...! Melihat semua itu, Kang Jeje hanya tersenyum.

Jarang-jarang bisa nyuci motor segede ini

Keliling Kota TunisSelama empat hari berada di kota Tunis, jadwal Kang Jeje memang padat. Ada pertemuan dengan federasi motor gede Tunis, kunjungan ke lembaga pemerintah, konferensi pers, wawancara TV, keliling kota, dialog dengan masyarakat Indonesia dan lain-lain.

Jumat (4/5) sore, Kang Jeje melakukan karnaval di sekitar alun-alun Habib Borguiba, jantung kota Tunis yang eksotik itu. Diiringi oleh 20an motor gede Tunis, serta sambutan meriah warga kota yang umumnya telah mengetahui kedatangan Kang Jeje lewat siaran berita TV 7 milik pemerintah Tunis, dua hari sebelumnya.

Usai karnaval, Kang Jeje menggelar konferensi pers. Lokasinya di Hotel Afrika, sebuah hotel berbintang lima dan paling bergengsi di kota Tunis. Didampingi oleh beberapa pejabat KBRI dan perwakilan federasi motor gede Tunisia, Kang Jeje menjelaskan visi-misinya dalam petualangan ini. Terutama soal kampanye damai-nya itu.

Maka, Sabtu keesokan harinya, nama dan foto Kang Jeje – juga gambar motornya- menghiasi koran-koran Tunis, baik koran berbahasa Arab - seperti as Sabah, as Shuruq - maupun Perancis, seperti Le Renouveau dan Le Temps.

Tunisia, Arab Paling Rapi
Alhamdulillah, aku sempat ngobrol-ngobrol lama dengan Kang Jeje, baik saat acara pertemuan di KBRI, saat menemaninya jalan-jalan di sekitar Wisma, ataupun saat sarapan, Kamis dan Jumat pagi. Sarapan sambil berbincang santai selama masing-masing lebih dua jam.

Banyak cerita seru serta pengalaman menarik yang kudapat. Hingga aku spontan mengusulkan agar lelaki berusia 46 tahun itu mengabadikan memori perjalanannya dalam sebuah buku, seperti halnya Ibnu Batutah, petualang abad pertengahan asal Maroko itu. Petualangan Kang Jeje takkan kalah menarik dari perjalanan Ibnu Batutah, karena memiliki ragam dimensi ; kebudayaan, wisata, kampanye perdamaian, juga kemanusiaan.

Saat pertemuan dengan masyarakat Indonesia, Kang Jeje menunjukkan foto-foto perjalanannya di 23 negara yang telah dilalui, dari Singapura hingga Libya. Foto-foto nan antik, indah dan membuat orang iri.

Aku juga terpukau dengan beberapa cerita uniknya selama perjalanan. Baik cerita mendebarkan seperti pengalaman ditembak snipper para pejuang rakyat di Afganistan, pengalaman tengah malam berhadapan dengan beruang gurun di tepian Himalaya, atau saat ditabrak pengemudi mabuk di Pakistan, hingga Kang Jeje jatuh terjembab. Motornya pun rusak. Atau ceritanya yang mengharukan, seperti pertemuannya dengan seorang WNI di tengah gersangnya padang pasir Libya. Sang WNI, adalah seorang tenaga ahli sebuah developer asing. “Ia memimpin tim kerja yang semua anggotanya orang Arab”, tutur Jeje.

Di beberapa forum pertemuan, Kang Jeje dihujani aneka pertanyaan kami, para WNI di Tunisia. Pertanyaan seputar pengalaman di jalan, soal harga motor BMW-nya, trik perawatannya, kiat menjaga kesehatan selama perjalanan, juga rencana-rencana ke depannya. Maka dengan telaten Kang Jeje menjawab semuanya, mengisahkan warna-warni perjalanannya. Tak terkecuali soal kesan-kesannya tentang Tunisia. “Ini adalah negeri Arab yang paling rapi”, tutur Kang Jeje, yang sebelumnya telah melewati lebih 10 negara Arab. Tunisia, menurut Kang Jeje, nampak lebih tertib dalam hal tata kota, aturan berkendaraan dan juga kebersihannya. “Infra strukturnya bagus, masyarakatnya ramah, dan nampaknya mereka berpendidikan baik”, katanya.

Dimana Akang Sekarang?!
Sabtu (5/5) pagi, belasan WNI melepas Kang Jeje yang hendak meninggalkan kota Tunis, guna melanjutkan petualangan solo-nya, menuju Aljazair. Sebuah perjalanan bersejarah, untuk kampanye damai. Sesuai motto perjalanannya ; Ride For Peace.

Saat menulis catatan ini, aku tak tahu, dimana posisi Kang Jeje sekarang. Masih di Aljazair?! Maroko?! Ataukah telah menyeberang ke Spanyol?!

Untuk Kang Jeje, dimanapun Anda berada, doa tulus kami –WNI Tunis- sertai perjalanan Anda. Ayo Kang, serukanlah perdamaian di setiap negeri yang Akang singgahi. Sebagaimana makna kalimat yang Akang tulis di buku tamu Wisma Duta KBRI Tunis “The road may end. But not our spirit of adventure, brotherhood, and peace...”.
Ayo Kang, harumkan nama Indonesia di berbagai belahan negeri, sebagaimana yang telah Akang lakukan di negeri tempat kami tinggal ; Tunisia. Biar semua WNI di negeri yang Akang singgahi ikut merasakan kebanggaan seperti yang kami rasakan di Tunis, buah perjalanan Akang. Salam Manis dari Tunis.
Tunis al Khadra, 17 Mei 2007
*Website Kang Jeje : http://www.rideforpeace.info/

Friday, April 27, 2007

Tunis Aborsi

Aborsi Legal ala Tunis

Gadis-gadis di desa Tataouine, Tunisia Selatan.

Pekan lalu, serombongan orang dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan kunjungan ke Tunis. Tujuannya, studi banding soal Keluarga Berencana (KB).

Dalam hal program KB, Tunisia memang terhitung sukses, dan karena itu kerap jadi rujukan negara lain. Pada tahun 2003, laju pertumbuhan penduduknya hanya 1,09 persen. Tingkat kesejahteraan rakyat pun mudah digenjot, hingga dengan pendapatan per kapita sebesar $ 3000, Tunisia menempati posisi negeri termakmur ketiga di benua Afrika, setelah Afrika Selatan dan Libya.

Saya sempat bertemu dan berdiskusi dengan beberapa anggota delegasi BKKBN itu. Baik saat pertemuan resmi di KBRI, saat berziarah ke Mesjid Agung Zaituna, atau juga saat mengantar kepulangan mereka di bandara.

Dari sekian temuan baru seputar KB di Tunis, ada satu hal yang menarik, yakni kebolehan aborsi, yang bahkan menjadi salah satu instrumen penting dalam menekan laju pertumbuhan penduduk. Kenapa di Tunisia yang rakyatnya 99 persen muslim aborsi malah dibolehkan ? Apa dasar hukumnya ? Bagaimana sikap para ulamanya ? Tidakkah itu jadi ‘pembuka’ jalan pergaulan bebas ? Dan seterusnya…

Dari Sekulerisme ke Feminisme
Berbicara tentang aborsi di Tunisia, berarti berbicara soal gerakan feminisme di negeri bekas jajahan Perancis ini. Menelusuri asal usul kebolehan aborsi, harus dibaca dalam bingkai umum gerakan kebebasan wanita. Agar difahami secara proporsional.

Adalah Habib Borguiba (1903-2000), presiden pertama Tunisia –memerintah selama rentang 1956-1987 – yang dinobatkan sebagai Tokoh Pembebas Perempuan Tunisia. Gerbang makamnya di Monastir – kota pesisir, 150 km selatan Tunis – bertuliskan kalimat ‘Borguiba Muharrir al Mar’ah at Tunisiyyah’.
Kebijakan presiden berideologi sekuler ini memang dinilai banyak membela hak-hak perempuan. Meski sebagian kalangan menyebutnya feminisme yang kebablasan, karena terlalu jauh menyimpang dari ajaran agama.

Diantara kebijakan terkenalnya adalah pengesahan Code of Personal Status Law (al Majallah al Ahwal as Syakhsiyyah – selanjutnya saya sebut MAS), sebuah undang-undang hukum keluarga yang dinilai membela perempuan, pada tanggal 13 Agustus 1956, atau lima bulan setelah Tunisia meraih kemerdekaan (20 Maret 1956).

Untuk ukuran saat itu, MAS dianggap sebagai produk perundang-undangan yang paling progressiv di dunia. Sebagian kalangan malah menilainya menyimpang dari ajaran Islam. Lihat saja point-point utamanya ; larangan suami berpoligami, talak bukanlah hak mutlak suami (melainkan hanya boleh terjadi di depan hakim), pembatasan usia nikah (pria 20 tahun, wanita 17 tahun) serta larangan menikahkan gadis secara paksa (tanpa persetujuan sang gadis).

MAS muncul di tengah tradisi muslim Tunisia yang memandang poligami sebagai hal biasa dan dibolehkan agama. Pernikahan di bawah umur, atau gadis yang dinikahkan secara paksa juga masih sering terjadi. Aktifitas kaum perempuan masih terbatas di dalam rumah. Program pembatasan kelahiran alias KB juga belum dikenal. Maka, MAS benar-benar mencengangkan publik Tunisia saat itu, bahkan sebagian kawasan di dunia Islam.

Reaksi mengemuka, tetapi sang presiden pantang mundur. Ia malah gencar melakukan kampanye buka jilbab bagi para muslimah Tunis, serta melemparkan gagasan kesamaan hak waris antara pria-wanita. Konsep wanita bekerja dan Keluarga Berencana dipopulerkan. Pada tahun 1960, ia juga mengajak muslim Tunisia untuk tak berpuasa Ramadhan, demi peningkatan ethos kerja.

Kecaman publik yang semakin dahsyat bin seru, tak dihiraukannya. Juga stempel kafir dari sejumlah ulama Arab, salah satunya Syekh Bin Baz, Mufti Saudi saat itu. Di Tunis sendiri, mufti negara Syekh Abdul ‘Aziz Ju’ait memilih mundur dari jabatannya. Kemudian, selama rentang 1960-1962, kursi mufti negara dibiarkan kosong, tak ada yang mengisi.

Aborsi Untuk KB
Pada tahun 1961, program KB resmi diberlakukan, setelah melewati perdebatan dan polemik yang panjang. Para ulama umumnya mengkritik soal kebiri dan aborsi yang dilegalkan dalam rangka pengaturan jarak kelahiran.

Saya tidak punya informasi cukup tentang polemik panjang ini. Hanya saja, pro kontra ini nampaknya memang terus berlanjut, hingga akhirnya hilang ditelan masa. Seiring dengan diterimanya gagasan-gagasan sekulerisasi Borguiba yang penerapannya didukung oleh kekuatan struktural, aborsi saat ini telah menjadi sesuatu yang diterima oleh masyarakat muslim Tunisia.

Tentu aborsi yang dimaksud adalah yang dilakukan sebelum kehamilan berusia 3 bulan. Jika dilakukan setelah itu, si pelaku dan pihak-pihak yang terlibat didalamnya akan dikenai sanksi pidana yang berat. Karena sudah termasuk kategori pembunuhan.

Usia 3 bulan jadi standar, karena merujuk pada ajaran agama. Ada hadis Nabi saw yang menjelaskan bahwa saat kandungan berusia 120 hari (empat bulan), ruh telah ditiupkan Tuhan kepada si jabang bayi. Maka ia sudah termasuk kategori hidup. Lalu, untuk hati-hati (ihtiyath), usia kehamilan yang menolerir aborsi dibatasi sampai 3 bulan, bukan 4 bulan.

Di berbagai belahan dunia muslim saat ini, soal kebolehan aborsi di bawah usia kandungan 4 bulan masih jadi pro kontra. Antara boleh dan tidak. Tetapi jika aborsi dilakukan setelah usia kandungan 4 bulan, semuanya sepakat mengkategorikannya sebagai pembunuhan dan karena itu termasuk dosa besar.

Aborsi AmanKebolehan aborsi – di bawah usia kandungan 3 bulan - di Tunisia, dalam praktiknya, tak dibiarkan begitu saja tanpa kawalan pemerintah. Sebaliknya, pemerintah justru menyediakan sejumlah peraturan dan fasilitas pendukung agar semuanya berjalan aman.

Semua Rumah Sakit memiliki dokter khusus aborsi plus perangkat medisnya. Wanita pelaku aborsi, harus membuat pernyataan bahwa itu dilakukan atas kesadaran sendiri serta izin dari suami. Sebaliknya, RS menjamin privasi pasien. Secara sosiologis, dibentuk opini publik bahwa aborsi tak usah dianggap sebagai sesuatu yang memalukan atau menakutkan.

Seorang rekan Tunis yang belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tunis bertutur bahwa selama tahun 2005, RS Rabta menangani sekitar 1000 kasus aborsi. RS Rabta adalah RS milik kampus, lokasi praktikum para mahasiswa calon dokter. Ia juga bertutur, mulanya aborsi hanya bagi wanita bersuami, artinya memang benar-benar jadi instrumen program KB. “Tetapi belakangan ini, gadis-gadis pun banyak yang aborsi”, tutur sang rekan sambil tersenyum.

Menurut sang rekan pula, tak ada cerita aborsi yang dilakukan oleh dukun beranak. Juga tak ada aborsi yang dilakukan setelah usai kandungan 4 bulan. “Dokter tak ada yang mau, karena itu dosa besar”, tuturnya.

Dengan demikian, semua kelahiran di negeri ini, bisa dipastikan sebagai kelahiran yang benar-benar dikehendaki. Karena kehamilan yang tidak dikehendaki – karena satu dan lain hal – telah diantisipasi sejak dini, lewat mekanisme aborsi. Karena itulah, di Tunisia ini tak ada cerita seputar bayi-bayi merah yang dibuang di tong sampah, selokan atau kolong jalan tol, sebagaimana yang sering kita dengar di tanah air.

Dari Feminisme ke Aborsi
Ini hanya sekilas cerita soal aborsi di Tunisia. Keterbatasan data membuat tulisan ini sangat sederhana.

Akan tetapi, saya bisa memastikan bahwa legalitas aborsi di negeri ini benar-benar terjadi karena berangkat dari bingkai umum feminisme dan sekulerisasi. Ia harus dibaca dalam konteks kecenderungan umum di Tunisia bahwa wanita yang telah berusia 20 tahun, dianggap bertanggung jawab total atas dirinya. Ia berhak melakukan apapun ; orang tua tak lagi berhak mengatur. Sebuah konsep yang sepertinya mustahil bisa diterima oleh masyarakat Arab yang muslim. Sebuah konsep yang hanya dianut oleh dua negara muslim yang melegalkan aborsi ; Turki dan Tunisia.

Karena itu, dari beberapa pengamatan sementara, saya masih lebih setuju aborsi dilarang, seperti yang selama ini diterapkan oleh berbagai belahan dunia lain, termasuk Indonesia. Aborsi hanya terjadi, karena benar-benar darurat, demi keselamatan ibu, serta tentu, atas izin dokter.

Jika merujuk ke konsep agama, dalam Islam ada prinsip sad adzara’i, yakni upaya menutup sebuah jalan kemunkaran, guna menghindari kemunkaran yang lebih luas. Sesuatu –meski hukum asalnya halal – bisa dinyatakan terlarang jika diyakini berpotensi membuka jalan kerusakan (mafsadat) secara luas.

“Meski dilarang, dalam setahun saja ada 1,5 juta praktik aborsi di Indonesia”, tutur Pak Sugiri Syarif, Kepala BKKBN, dalam kesempatan dialog pekan lalu. Artinya, jika dilegalkan, tentu praktik itu akan jauh lebih banyak. Dari sisi lain, legalitas aborsi tentu akan semakin membuat leluasa para penganut pergaulan bebas. Seperti yang selama ini terjadi pada sebagian kalangan di Tunis ; muda-mudi bebas bergaul, selain karena pengawasan sosial yang memang sangat longgar dan serba permissif, juga nampaknya karena mereka tak perlu risih soal kehamilan yang tak diinginkan ; khan ada aborsi.. !

* * *

Tunisia – dan Turki - tentu memiliki sejumlah alasan dan konsep yang menjadi dasar legalitas aborsi ini. Baik alasan-alasan medis, sosiologis dan bahkan argumen teologis. Sesuatu yang selayaknya kita hormati. Apalagi secara teologis, aborsi dibawah 4 bulan memang merupakan persoalan ijtihadiyah, bahan pro kontra kalangan agamawan, sebagaimana saya sebutkan di atas. Ragam pendapat didalamnya, adalah hal yang wajar.

Maka, dalam kasus-kasus yang ijtihadiyah itu, selayaknya pertimbangan kemaslahatan menjadi standar. Pilihan mana yang diyakini memiliki sisi kebaikan lebih luas (jalb al masalih), serta tingkat efektifitasnya dalam meredam keburukan (dar al mafasid), itu yang harus diambil. Barangkali konsep inilah yang dijadikan pertimbangan utama oleh para agamawan di Tunisia.
Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, 24 April 2007

Monday, April 23, 2007

Istana Sahara

Istana Tua Leluhur Afrika

Daerah pedalaman selatan Tunisia ternyata memiliki peninggalan sejarah yang antik ; rumah-rumah batu yang menempel di lereng-lereng gunung. Juga bangunan-bangunan bertingkat di tengah gurun. Orang Tunisia biasa menyebut bangunan-bangunan ini dengan qasr, artinya istana.

Kendati istana-istana peningalan bangsa Barbar – suku asli warga Afrika Utara abad pertengahan– itu tak lagi dihuni orang, bangunannya tetap utuh, kokoh dan menjadi obyek wisata yang menarik. Pada tahun 1997 lalu, beberapa istana di kawasan Tataouine dan Matmata, dijadikan lokasi syuting film Hollywood terkenal ; Star Wars.
Di dekat sebuah istana itu pula, ada seorang wanita Indonesia, yang tinggal bersama suami dan dua bocah mungilnya..

Chenini : Istana Bukit
Akhir Maret lalu, empat diantara istana-istana tua itu kukunjungi. Semuanya di Tataouine, propinsi ujung selatan Tunisia, di tepi gurun Sahara. Tataouine, kota kecil yang berjarak 530 km dari Tunis ini memang dikenal dengan istana-istana tuanya. Ada sekitar 170 situs istana yang hingga saat ini masih terawat di seluruh kawasan propinsi berpenduduk 160 ribu jiwa ini.

Diantara empat istana itu ada Qasr az Zahra, yang jadi lokasi festival, seperti kututurkan dalam tulisan Parade Syair di Gurun Pasir itu. Istana ini berlokasi di desa Zahra, sekitar 25 km di luar kota Tataouine.

Sekitar empat belas kilometer barat kota, ada istana lain yang cukup terkenal, yakni Qasr Chenini. Yakni rumah-rumah batu yang menempel di dinding bukit Chenini. Umumnya rumah-rumah kecil, kira-kira ber tipe 36.

Seperti layaknya sebuah rumah, istana-istana Chenini memiliki ruangan-ruangan kecil untuk kamar tidur, dapur dan ruang tamu. Semuanya terbuat dari batu yang bersusun. Ada juga yang berupa gua-gua buatan, yang berjajar di dinding bukit. Menurut seorang polisi wisata, jumlah rumah di bukit Chenini ada 500an.

Di kaki bukit, ada pelataran parkir yang luas, kafe, rumah makan, kantor pos, kantor polisi serta toko-toko souvenir. Semuanya nampak terawat dan bersih. Di atas bukit sana, rumah-rumah tua itu nampak berderet. Kelihatan dari jendela-jendelanya yang membolongi bebatuan.

Untuk menuju ke puncak bukit, para turis biasa menelusuri jalan setapak yang berbelok-belok. Berjalan melewati rumah-rumah tua itu, hingga tiba di puncak. Sebuah pelataran luas yang memiliki mesjid bertembok putih. Menaranya sekitar 5 meteran, nampak kelihatan dari kaki bukit.

Beberapa kali aku mampir di rumah-rumah tua itu. Rumah-rumah yang tanpa pintu. Beberapa diantaranya nampak masih berpenghuni. Yakni orang-orang tua yang memakai sufseri, baju tradisional Tunisia yang warna-warni. “Mereka tinggal di sini atas biaya pemerintah, sebagai daya tarik wisata saja”, tutur seorang pemandu wisata.

Hedada ; Istana Film Star WarsDi Ghamarsen, 30 km dari Tataouine, ada istana Hedada. Berupa komplek bangunan batu di atas tanah seluas kira-kira hampir 1 hektar. Sebagian bangunannya bertingat tiga, juga ada yang bertingkat empat.

Qasr Hedada dinamakan juga Hotel Hedada. Karena dulu memang pernah berfungsi sebagai hotel. Hingga kini, di selatan Tunisia, memang ada beberapa hotel berupa gua atau bangunan antik. Ranjang-ranjangnya berupa batu. Pake kasur, tentu. Menginap di hotel-hotel begini, ternyata jadi daya tarik tersendiri bagi sebagian turis.

Di depan gerbang Hedada, ada plang putih besar, berisi tulisan tiga bahasa ; Arab, Perancis dan Inggeris. Berupa penjelasan singkat bahwa Hedada pernah menjadi miniatur Mos Espa, kota khayalan di planet Tataouine, dalam film Star Wars. Disebutkan pula bahwa film garapan Goerge Lucas ini digarap pada bulan Juli 1997.

Aku mengunjungi istana Hedada bersama 7 rekan. Dari hotel, kami dijemput dan dipandu oleh sebuah tim dari Radio Pemda Tataouine. Aku sangat senang, karena kesempatan untuk bertanya banyak hal sangat terbuka lebar.


Istana Hedada, salah satu lokasi syuting Star Wars

Aulad Sultan ; Istana Wanita Betawi
Aku juga mengunjungi Kasr Aulad Sultan, sekitar 15 km timur Tataouine. Aulad Sultan artinya anak-anak raja. Dulunya, istana ini memang menjadi tempat tinggal keluarga raja.

Bangunannya terdiri dari empat lantai, berbentuk persegi. Di tengah-tengahnya ada pelataran. Temboknya masih kokoh, berwarna kuning tua yang usang. Seperti halnya az Zahra, Aulad Sulton juga biasa dijadikan lokasi festival serta aneka ritual tradisi.

Beberapa kali aku masuk ke istana itu, serta menaiki tangga, menuju lantai lebih atas. Jepretan kamera dari para rekan nyaris tak berhenti. Suasananya asyik banget..! Ruangan-ruangannya kecil.

Saat kami sedang asyik berfoto-foto, seorang pria Tunis menghampiri kami seraya menyapa dengan bahasa Indonesia. Kami tercengang. Rupanya ia adalah Khalifa, seorang pemuda setempat yang beristerikan wanita Indonesia. Nama isterinya adalah Almaini, 30 tahun, seorang wanita Betawi.

Khalifa bersama isteri dan dua puteranya ternyata tinggal dekat Aulad Sultan. Aku tertegun. Subhanallah, di desa terpencil tepian Gurun Sahara begini, ternyata ada seorang wanita satu negeri.

Lalu kami diajak ke rumahnya. Sekitar 400 meter dari istana. Rumah permanen, di tengah gurun. Hampir tak ada pepohonan. Tetangga juga hanya satu-dua rumah.

Almaini nampak gembira ketika kami tiba. Baginya, ketemu orang Indonesia secara mendadak, adalah kejutan dan kebahagiaan yang luar biasa. Maka, selama lebih setengah jam ia bertutur, curhat kepada kami. Tentang hari-harinya yang sepi, tentang dua anaknya - Abdullah (4 tahun) dan Muhammad (2 tahun) - juga tentang kerinduannya pada tanah air.

Perkenalan Khalifa dan Almaini terjadi di Jakarta, sekitar tahun 1998. Lalu mereka menikah. Tahun 2004, wanita lulusan SMA 18 itu diboyong suaminya ke Tunisia. Maka, Almaini menjalani suasana yang benar-benar berbeda ; dari hiruk pikuk metropolitan Jakarta, menuju kesunyian dan gersangnya Gurun Sahara.

Aku dan kawan-kawan bergantian memangku Muhammad, seorang putera pertiwi yang dilahirkan dan dibesarkan di tepian Sahara. Sementara Abdullah bermain-main di halaman rumah. Sendirian.

Saat kami pulang, kedua anak itu melambaikan tangan. Dari balik jendela mobil, terdengar teriakan beberapa rekan, “Abdullah, Muhammad..! Ayo pulang ke Indonesia..!”.

Mobil bergerak perlahan. Kulirik ke belakang, lambaian tangan keluarga Almaini belum terhenti. Seperti hatiku yang juga tak henti bersuara. Tentang Abdullah dan Muhammad, tentang esok mereka, tentang ketegaran Almaini, wanita Indonesia yang tinggal di dekat sebuah istana tua, di tepi Sahara, nun jauh di Afrika sana..

Tunis, 21 April 2007

Wednesday, April 11, 2007

Puisi Gurun

Parade Syair di Gurun Pasir

Acara Festival Istana Gurun Pasir ke-29 (al mahrajan addauli li al qusur as sahrawiyyah) yang digelar di Tataouine, Tunisia, 22-24 Maret 2007 lalu, semakin meyakinkan saya betapa budaya syair telah menjadi tradisi yang mengakar di Tanah Arab.

Di acara itu, saya menyaksikan ribuan warga Tataouine duduk setia semalaman suntuk hanya untuk menyimak syair-syair yang dibacakan oleh para sastrawan. Lalu, tak jarang mereka tertawa, bertepuk tangan, atau berteriak histeris kala menyimak puisi-puisi itu. Tak ubahnya seperti anak-anak yang terhanyut ketika mendengarkan cerita seorang pendongeng.

Padahal, warga Tataouine adalah orang-orang kampung. Yakni mereka yang sehari-hari tinggal di tengah gurun, jauh dari hingar bingar metropolitan. Tataouine, kota kecil di ujung selatan Tunisia, dekat perbatasan Libya. Tataouine, kota di tepian Sahara yang berjarak 530 km dari ibukota Tunisia, Tunis.

Festival GurunSesuai dengan namanya, festival tahunan itu memang khusus menampilkan aneka tradisi orang-orang gurun. Seperti balapan kuda, berburu, puisi, serta seni rakyat (funun sya’biyyah). Pada tahun 2007 ini, enam negara turut ambil bagian, masing-masing Tunisia, Aljazair, Libya, Kuwait, Jordania dan Indonesia.

Panggung-panggung festival itu bukanlah aula-aula modern nan megah. Melainkan situs-situs sejarah berupa rumah orang-orang abad pertengahan yang telah usang, serta berada di tengah gurun pasir. Rumah-rumah itu kini dinamai dengan qasr, yang berarti istana. Di seluruh propinsi Tataouine, saat ini terdapat 170 istana klasik yang dilestarikan sebagai obyek wisata. Dan karena itu pula, festival di kota Tataouine ini dinamakan festival istana gurun.

Para penonton festivalnya juga bukan orang-orang berbaju necis atau berdasi, serta datang dengan mobil mewah. Tetapi warga pedesaan di gurun pasir, yang datang berjalan kaki serta memakai barnus, jubah tebal berwarna coklat pengusir dingin dan kencangnya angin sahara.

Saya hadir di festival itu sebagai anggota delegasi Indonesia. Jumlah tim kami hanya 7 orang, semuanya para mahasiswa di kota Tunis. Di acara itu, kami menampilkan 5 macam atraksi kesenian, yakni musik Angklung, Pencak Silat, Kecapi-Suling, Tari Melayu serta Joged Poco-Poco.

Semua bidang yang kami tampilkan ini memang tak ada kaitannya dengan budaya orang gurun. Keikutsertaan Indonesia untuk yang pertamakalinya ini, semata-mata sebagai bentuk promosi kebudayaan kita di luar negeri.

Kamis (22/3) sore, festival dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan Tunisia, di sebuah lapangan luas, di tengah gurun pasir tepian kota. Beberapa saat sebelum pembukaan, kami mengikuti parade di sebuah jalan utama kota Tataouine.

Usai prosesi pembukaan itu, saya menyaksikan kehebatan orang-orang pedalaman Tunisia dalam hal balapan kuda. Beberapa orang joki berdiri di atas kuda yang berlari kencang. Alih-alih merasa ketakutan atau kedinginan, mereka malah tertawa-tawa dan menggoyang-goyangkan badan. Maka, ribuan hadirin pun bertepuk tangan. Usai balapan kuda, ada atraksi tarian kolosal yang menggambarkan kepiawaian orang gurun memainkan pedang, berburu kijang, menggembala kambing serta menggali sumur.

Malam ‘Seribu Satu Malam’
Usai Isya, saya bersama anggota tim Indonesia lainnya berada di Qasr Zahra, sebuah situs sejarah yang menjadi salah satu panggung festival. Lokasinya sekitar 25 km di luar kota Tataouine. Jalan raya menuju ke sana menelusuri gurun, berliku-liku, serta sesekali naik turun. Di atas sana, nampak bulan sabit yang dikelilingi taburan bintang.

Saat di jalan itu, beberapa kali saya menjumpai rombongan orang-orang yang berjalan kaki, menelusuri jalur jalan raya, atau mereka yang menuruni bebukitan. Mereka membalut tubuhnya dengan barnus, tentu karena dingin angin gurun yang tanpa pepohonan. “Mereka adalah orang desa yang hendak menonton acara kita”, tutur Anwar bin Umar, pemandu kami.

Qasr Zahra adalah pelataran seluas kira-kira 3000 meter persegi, dikelilingi bangunan usang setinggi 5 meteran. Di dinding bangunan itu terdapat jendela-jendela tanpa kaca. Saat kami tiba, lebih seribu orang memadati pelataran, serta puluhan lainnya nongkrong di jendela-jendela itu.

Semua pengunjungnya laki-laki. Hanya ada tiga wanita yang duduk di bangku para tamu. Itupun wanita anggota tim kesenian dari Jordan. Menurut Anwar, tradisi di pedalaman Tunisia Selatan memang tak memperbolehkan kaum wanita keluar rumah pada malam hari, apalagi hanya untuk hadir di acara-acara hiburan.

Di tengah pelataran, terdapat api unggun. Di pojok kanan, terpampang spanduk putih bertuliskan huruf Arab, “Sahrah Alf Lailah wa Lailah”, yang artinya Malam Seribu Satu Malam. Di bawahnya nampak berjejer dua puluhan lelaki yang duduk di bangku, dengan meja yang dipenuhi hidangan ringan dan syay (teh). Barangkali mereka adalah para pejabat lokal Tataouine, pikir saya dalam hati.

Saya bersama rekan-rekan, dipersilahkan duduk di dalam sebuah tenda besar, bersama sekitar 40an orang Arab. Setelah acara dimulai, saya baru tahu bahwa mereka adalah para sastrawan yang hadir untuk meramaikan festival. Dan mereka berasal dari berbagai pelosok Tunisia, serta beberapa negara sekitar, seperti Libya dan Aljazair. Ada seorang penyair Libya bernama Muhammad el Akhdar, yang nampaknya ia sangat dikenal luas. Terbukti baru disebut namanya saja, para penonton telah bertepuk tangan meriah. “Berarti orang-orang yang duduk di sebelah kita ini orang-orang sekelas Rendra dan Taufik Ismail-nya”, tutur seorang rekan.

Para sastrawan itu mendapat giliran berpuisi masing-masing sekitar 7 menit. Posisi berdirinya di dekat api unggun itu. Setiap selesai 3 penyair, diselingi penampilan kesenian peserta festival, termasuk dari tim Indonesia.

Puisi Cinta
Saat para sastrawan membacakan puisi, ribuan hadirin terdiam. Nampaknya mereka sangat serius menyimak syair-syair itu. Jika kebetulan syairnya bertema humor, maka derai tawa hadirin mengiringi setiap bait yang dibacakan. Jika bertema cinta, tak jarang terdengar teriakan ataupun tepukan tangan nan meriah.

Saya berusaha menyimak isi bait-bait puisi yang umumnya menggunakan bahasa Arab ‘amiyah itu. Hanya sedikit yang saya mengerti. Bahasa Arab logat orang gurun di tepian Sahara, memang sangat khas dan berbeda dengan logat Arab Tunis atau Mesir yang pernah saya pelajari.

Dari pemahaman yang sepotong-sepotong itu, saya melihat bahwa kebanyakan tema puisi-puisi malam itu adalah berkisar soal nasihat agama, keindahan alam dan juga cinta. Dan diantara puisi-puisi cintanya, ada yang bercerita tentang kerinduan pada kekasih, impian kebahagiaan atau mengenang memori di tempat-tempat indah, yang dalam ilmu sastra Arab kerap dinamakan atlal. Yakni syair tentang lokasi-lokasi pertemuan dengan kekasih yang selalu dikenang. Seperti sebait puisi Arab Jahili yang bercerita tentang kisah cinta antara Kais dan Laila berikut ini.

“...amurru ‘aladdiyari diyari Laila.. fa uqabbilu dzal jidari wa dzal jidari,
laisa hubbuddiyari syagafna qalbi..walakin hubba man sakanad diyari...”


(aku lewat ke sebuah rumah, yakni rumahnya Laila,
aku menciumi dinding ini, juga dinding itu,
bukanlah kecintaanku pada rumah ini yang membutakan hatiku,
melainkan kecintaan pada dia yang (dulu) menempati rumah ini...”

Kendati angin dingin menerpa, saya terlarut dalam keindahan syair dan suasana yang eksotis malam itu. Saya yang sedang duduk di ruang terbuka dikelilingi dinding usang berumur lebih 5 abad, bersama ribuan orang desa yang berbaju tebal di tepian Sahara, atau 530 km selatan kota Tunis itu, seolah merasakan putaran sang waktu yang berhenti. Seolah saya melanglang ke masa silam, kala pembacaan syair-syair itu belum difestivalkan, melainkan masih menjadi ritual dalam setiap episode kehidupan.

Tunis al Khadra, 26 Maret 2007

Saturday, March 31, 2007

Sfax dan Tataouine

Antara Sfax dan Tataouine
 

Aku di Sfax, kota yang memiliki dua sisi ; wajah kota tua dan modern

Selama rentang 20-24 Maret 2007 lalu, saya mengunjungi dua kota di bagian selatanTunisia, yakni Sfax dan Tataouine. Sfax, kota pesisir pantai berjarak 270 km dari Tunis. Sedangkan Tataouine, kota kecil di tepian Sahara, berjarak 530 km dari Tunis.

Saya datang ke dua kota itu bersama 8 rekan untuk mengenalkan kesenian tradisional Indonesia seperti Angklung, Pencak Silat, Kecapi-Suling, Tari Indang dan Joged Poco-Poco. Di Sfax, kami diundang Pemda setempat untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan Tunisia ke 51. Sedangkan di Tataouine, kami mewakili Indonesia dalam Festival Istana Gurun (al Mahrajan ad Dauliyah lil Qusur as Sahrawiyyah) ke -29, yang diikuti oleh 6 negara.

Tulisan ini bukan untuk menuturkan konser itu, melainkan hanya seputar pesona dua kota, serta beberapa kisah menarik yang saya temukan di perjalanan yang melelahkan tetapi mengesankan itu. Kisah-kisah seputar konser akan saya tuturkan secara khusus dalam tulisan lain, insya Allah.

Sfax, Surabaya-nya IndonesiaSebagian pejabat di KBRI Tunis biasa menyebut Sfax sebagai Surabaya-nya Indonesia, karena beberapa kesamaan diantara keduanya.

Seperti halnya Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia, begitu pula Sfax. Dengan jumlah penduduk 832 ribu jiwa, Sfax menempati posisi kota terbesar kedua di Tunisia setelah kota Tunis. Tentu angka ini masih jauh dibawah jumlah penduduk Surabaya yang mungkin mencapai tiga kali lipatnya.

Sfax juga dianggap seperti Surabaya karena sama-sama berlokasi di tepi pantai serta menjadi salah satu kota industri utama. Satu lagi, dua kota itu memiliki nilai sejarah penting dalam perjuangan kemerdekaan negerinya. Jika Surabaya terkenal dengan peristiwa 10 Nopember-nya, maka Sfax dikenang karena pernah menjadi lokasi muktamar Partai Destour pada tahun 1956. Muktamar partai milik pemerintah itu dinilai sebagai titik tolak utama menuju kemerdekaan Tunisia pada tahun berikutnya.

Wartawan senior kita, Rosihan Anwar, menghadiri muktamar Sfax itu sebagai undangan. Di Harian Kompas edisi 5 April 2004, ia mengenang peristiwa itu dengan ungkapan, "...Di sana saya saksikan kehebatan Habib Borguiba sebagai tukang pidato yang mampu menyihir peserta muktamar. Berulang kali mereka menyerukan Borguiba Yahya (Hidup Borguiba). Di sana Borguiba menyingkirkan orang dari dewan pimpinan partai oposan, yaitu Saleh ben Youssef, yang menghadiri Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Saleh ben Youssef berseberangan strategi politik dengan Borguiba dalam perjuangan melawan Perancis. Di Sfax, saya lihat kecenderungan sifat otoritarian Borguiba yang kelak diperlihatkannya saat menjabat sebagai Presiden Tunisia".

Asbak Made in Indonesia
Dari Tunis, Sfax ditempuh selama 4 jam perjalanan darat. Selain dengan kendaraan biasa, dari Tunis kita juga bisa naik kereta api atau pesawat. Sebagai kota utama bisnis, saat ini Sfax telah punya bandara internasional.

Jalur jalan raya menuju Sfax terbilang mulus, menyusuri pesisir pantai Mediterania yang berair tenang. Pemandangan hijau di kiri kanan jalan kerap membuat saya lupa bahwa saya sedang berada di sebuah negeri Arab.

Tunisia memang termasuk negeri Arab yang alamnya hijau. Meski hijaunya bukan karena pepohonan lebat atau rimba belantara. Melainkan karena perkebunan zaitun, gandum, rerumputan serta beberapa jenis pohon, seperti pohon kurma dan pinus. Gurun pasir hanya ada di kawasan selatan, dekat perbatasan Libya dan Aljazair.

Di sebuah kafe di dekat kota Sousse, kami beristirahat sejenak untuk sekedar minum kopi dan makan shawarma. Saat itu, saya sempat kaget karena asbak di meja kami bertuliskan 'Indonesia'. Segera kuperlihatkan ke beberapa rekan. Mereka juga sempat kaget. Iseng-iseng saya intip beberapa asbak di meja-meja lain. Rupanya semua produk Indonesia.

Saya bertanya-tanya, siapakah penyalur asbak dari Indonesia ke Tanah Arab ini? Mungkinkah Ammu Rido? Ya, mungkin saja dia, pikirku. Ammu Rido adalah seorang pengusaha Tunisia yang biasa melakukan bisnis ekspor impor antara Tunisia-Indonesia. Ia memiliki toko besar di kawasan wisata al Kantaoui, Sousse, yang menjual aneka souvenir Asia, termasuk dari Indonesia. Untuk bisnisnya itu, dalam setahun, ia bisa 5 kali pulang pergi Jakarta-Tunis.

Sfax Kota Tua
Selasa sore, kami tiba di Sfax. Dalam sekilas pandang pertama, Sfax nampaknya kota yang sibuk, perumahannya juga padat.

Hotel tempat kami menginap, kebetulan dekat alun-alun dan kantor Gubernur. Sfax adalah perpaduan dua wajah kota ; kota tua dan modern. Wajah kota tua ditandai dengan adanya benteng besar bertembok usang. Benteng itu mengelilingi sebuah kawasan perkampungan yang berisi bangunan-bangunan antik, serta mesjid bersejarah. Beberapa sudut kota tua itu menjadi kawasan pasar tradisional yang menjual aneka souvenir lokal. Sementara, gedung-gedung megah serta hotel-hotel mewah mewakili wajah kota modernnya.

Saya tertarik dengan salah satu pasar tua yang bernama Suq al Arwiqah. Tata letak dan arsitektur bangunan berlantai dua itu sangat khas. Berbentuk persegi, di tengah-tengahnya ada pelataran. Dindingnya usang, menyiratkan usia yang tak muda. Tetapi nampak bersih dan terawat.

Di pelataran depan gerbang besar tepi jalan raya, ada kerumunan anak-anak muda. Irama musik terdengar brang breng brong. Rupanya, itu adalah panggung musik terbuka dalam rangka HUT kemerdekaan.

Menjelang magrib, saya kembali ke hotel. Tak usah lama-lama melihat Sfax. Selain harus segera beristirahat, wajah kota yang memadukan dua sisi khas seperti Sfax, bukanlah hal baru bagi saya. Ada Kairo, Rabat, Cassablanca, Marrakesh, dan juga Tunis, yang telah kusinggahi, kutelusuri dan beberapa keindahannya kurekam dalam memori.

Ke Tataouine Lewat Gabes
Rabu sore, usai manggung di kota Sfax, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Tataouine. Sementara kawan-kawan bertukar cerita tentang kesan-kesan panggung Sfax, di mobil, saya duduk santai sambil mengamati suasana sepanjang jalan.

Dari Sfax, kami meluncur terus ke arah selatan. Suasananya masih seperti perjalanan Tunis-Sfax ; Laut Mediterania di sebelah kiri, serta kebun zaitun di sebelah kanan.

Irama Mizwad Tunisi yang diputar sopir terdengar mengalun. Mizwad Tunisi adalah sejenis musik tradisi orang Tunis hasil permainan orkestra khas Arab yang lagunya biasa diputar pada pesta-pesta kawinan di musim panas. Kadang lagu-lagunya itu berupa salawat atau syair-syair sufi yang menyiratkan tradisi keagamaan yang kental. Dan mendengarkan lagu-lagu seperti itu di Tunisia - bagi saya – menyiratkan sekerat wajah kehidupan yang paradoks. Tunisia saat ini, bukanlah Tunisia saat syair-syair indah itu diciptakan. Hantaman modernisasi dan sekulerisasi yang pernah menimpa negeri berpenduduk 99 persen muslim ini seolah telah 'melemparkan' nilai-nilai yang dikandung syair-syair agama itu, jauh dari kehidupan.

Ups, sory jadi kemana-mana ceritanya. Mobil terus meluncur. Hingga tak terasa, kami tiba di kota Gabes. Hamparan kotanya kelihatan di sebelah kiri, karena kebetulan jalur jalan raya yang kami lewati berposisi lebih tinggi. Gabes, kota berjarak 400 km dari Tunis, yang terkenal karena kurma dan legmi-nya. Legmi adalah minuman sejenis tuak yang terbuat dari perasan buah kurma. Legmi mudah dijumpai di Gabes, karena tersedia di kios-kios tepian jalan raya. Berdampingan dengan kios-kios souvenir khas Tunis seperti aneka tembikar, tas, kursi, sandal serta hasil kerajinan tangan lainnya.

Gabes dikenal dengan julukan “Gateway to the South”, karena semua jalur lalu lintas darat yang menghubungkan bagian utara dan selatan Tunisia harus melewati kota ini. Dan siapapun yang lewat ke Gabes, biasanya mampir sejenak, sekedar menikmati manisnya legmi. Seperti juga kami sore itu. Beberapa gelas legmi membasahi kerongkongan yang dahaga. Nikmat sekali.

Bagi saya, Gabes tak hanya identik dengan legmi, tetapi juga akan selalu mengingatkan saya pada kampus tempat saya belajar, Universitas Zaituna. Karena dari Gabes, banyak sekali mahasiswa yang belajar agama di kampus tua ini.

Aku beristirahat sejenak di dekat kota Gabes..
Bensin Lebih Murah dari Air
Pada jarak 76 km selatan Gabes, ada kota kecil bernama Mednin, yang menjadi jalur persimpangan tiga kota ; Gabes, Tataouine dan Ben Garden. Dari Mednin, kami belok kanan menuju Tataouine. Jalanan lurus adalah menuju Ben Garden, kota di perbatasan Tunisia-Libya. Dari Mednin, Tripoli hanya 270 km lagi.

Salah satu pemandangan khas sebelum memasuki kota Mednin adalah banyaknya penjual bensin eceran di sepanjang jalan raya. Jerigen-jerigennya memenuhi kios-kios kecil yang berjajar. Beberapa diantara kios-kios itu dijaga oleh anak-anak kecil.

Kabarnya, itu adalah bahan bakar yang disuplai dari negeri tetangga sebelah yang kaya minyak ; Libya. Di Mednin, semua itu dijual dengan harga yang lebih murah. Bahkan hingga setengah dari harga jual di SPBU resmi. Di negeri asalnya, Libya, jauh lebih murah lagi. Celotehan seorang rekan, di negeri Muammar Khadafi itu, harga bensin dan solar masih lebih murah dari harga air. Benarkah?!

Dan ternyata, bahan bakar bukanlah satu-satunya produk Libya yang marak dijual di kawasan selatan Tunisia. Sepanjang jalur Gabes dan Mednin, beberapa kali saya menjumpai pasar Libya, yakni kawasan pasar yang khabarnya menjualbelikan benda-benda seperti aneka pakaian, boneka, sepatu, selimut dan benda elektronik. Benarkah semua itu dari barang loakan dari Libya?! Wallau a’lamu.

Tataouine di Tepi Sahara
Saat Mednin telah berada di belakang kami, senja mulai menyapa. Pemandangan kanan kiri jalan mulai redup. Pepohonan juga mulai jarang, berganti kawasan gurun pasir.

Tataouine memang berada di tengah gurun, bahkan terselang jarak 20an km lagi ke Gurun Sahara yang terkenal itu. Jika mengacu ke peta, Tataouine adalah salah satu propinsi di ujung selatan Tunisia yang berbatasan langsung dengan Aljazair.

Menjelang pukul 19.00, kami tiba di Tataouine. Kota kecil yang lengang, dengan komplek pemukiman yang tak padat. Jalanannya rapi, bersih dan nampak terawat. Di sebelah kanan jalan utama, ada tulisan Arab yang menempel di lereng bebukitan, “Tataouine Turahhibu Bikum”, artinya Tataouine Mengucapkan Selamat Datang.

Dari 24 propinsi di Tunisia, Tataouine berada di urutan ketiga dari bawah, dalam hal jumlah penduduk. Yakni hanya 160 ribu jiwa. Masih dibawah jumlah penduduk kota tempatku melewatkan masa-masa SMA dulu ; Sukabumi.

Tapi, biar sedikit penduduk serta berada di tepian Sahara, selama 29 tahun terakhir ini Tataouine mampu menggelar sebuah festival kebudayaan internasional. Sebuah momen resmi untuk mempertahankan dan menjaga unsur-unsur budaya lokal gurun, di tengah amukan globalisasi yang kerap tanpa kompromi ini..

Salam Manis dari Tunis

Tunis al Khadra, Senja 30 Maret 2007

Tuesday, March 13, 2007

Tunis Studi

Tinggal di Tunisia, Belajar di Zaituna


Suasana sidang tesis Arwani di Universitas Zaituna, Tunis

Raut sumringah terus memancar dari wajah Arwani Syaerozi, lajang asal Cirebon berusia 27 tahun, ketika 80an orang bergiliran menyalami dan mengucapkan selamat kepadanya. “Syukron, syukron….ya’isyak..Barakallahu Fiik…”, hanya itu kata-kata yang sesekali terucap ketika membalas ucapan selamat. Ya’isyak dan Barakallahu Fiik adalah bahasa orang Tunis kala membalas aneka basa-basi, pujian atau ucapan terima kasih.

Senin (12/3) siang itu, pantas Arwani merasa gembira. Ia yang mengenakan stelan jas hitam dan peci hitam, baru saja mempertahankan tesis bertema Konsep Maqasid Syariah dalam Pemikiran Ibnu Hazm adz Dzahiri di depan sidang munaqasyah Fakultas Pascasarjana Universitas Zaituna, Tunis. Tiga dosen penguji yang terdiri dari Hisyam Krisha, Abdullatif Bouazizi dan Nuruddin al Khadmi– ketiganya profesor Ushul Fiqh - baru saja menghujaninya dengan aneka pertanyaan dan kritik seputar tesisnya selama hampir tiga jam.

Dan Arwani yang menyelesaikan S1-nya di Yaman itu menjawab setiap pertanyaan dengan penuh semangat serta bahasa Arab yang fasih. Sesekali ia mengutip ayat Alquran, Hadis Nabi atau pendapat ulama populer. Maklum, ia adalah seorang hafidz, penghafal Alquran. Dan ternyata, semua itu tak sia-sia ; Arwani dinyatakan lulus dengan yudisium hasan, sebuah standar nilai yang terhitung istimewa di kampus-kampus Tunisia.

Maka, Arwani layak bersukacita atas perjuangan yang telah dilewatinya. Ia juga layak menerima ucapan selamat dari orang-orang, termasuk dari Duta Besar RI di Tunis, Hertomo Reksodiputro SH beserta beberapa staf dan keluarganya, yang juga hadir di acara siang itu.

Laksana Keluarga BesarArwani adalah satu diantara lima belas mahasiswa Indonesia yang saat ini tengah belajar di Universitas Zaituna, Tunis. Keempat belas orang lainnya terdiri dari lima mahasiswa S1, tujuh mahasiswa S2 serta dua mahasiswa S3. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan mahasiswa Indonesia di Mesir (5000 orang), Yaman (700 orang), atau Iran (sekitar 200 orang).

Sejak awal dekade 1990, jumlah mahasiswa Indonesia di Tunis setiap tahunnya memang sekitar lima belas orang. Pemerintah Tunisia hanya memberikan jatah tiga hingga lima mahasiswa baru bagi Indonesia setiap tahun. Kemudian, sistem belajar memungkinkan mahasiswa untuk selesai tepat waktu, sehingga jumlah mahasiswa baru selalu sama dengan jumlah yang selesai kuliah. Penumpukan jumlah mahasiswa kita seperti di Mesir, tak terjadi di Tunis.

Tinggal dalam komunitas mahasiswa satu negeri yang berjumlah sedikit– sejauh yang saya rasakan – memang lebih banyak enaknya. Konsentrasi belajar lebih maksimal. Tak banyak acara ini itu sehingga target studi bisa segera tercapai. Setiap hari saya bisa berangkat ke kampus, baik untuk membaca buku di perpustaan atau bertemu profesor pembimbing tesis. Saya juga punya banyak waktu senggang untuk mengunjungi Perpustakaan Nasional guna melengkapi referensi. Hal lainnya, jumlah mahasiswa yang sedikit membuat perhatian KBRI juga sangat baik. Aneka bantuan dan kemudahan – baik yang sifatnya resmi atau kekeluargaan – kerap kami dapatkan. Keakraban terjalin baik, sehingga kami merasa berada dalam sebuah keluarga besar ; keluarga WNI di Tunisia.

Dan salah satu bentuk perhatian baik dari KBRI itu adalah kehadiran Duta Besar, para staf KBRI serta keluarga di acara sidang tesis Arwani itu. Mereka hadir untuk memberi semangat kepada seorang anak ibu pertiwi, agar sukses meraih prestasi di depan publik orang asing. Mereka juga hadir dengan membawa oleh-oleh ; aneka kue khas Indonesia, untuk disuguhkan kepada para audiens yang multietnis ; ada orang Arab Tunis, Aljazair, Libya, Sudan, Turki, juga negara-negara Teluk dan Afrika. Kampanye keragaman budaya dan pesona Indonesia, meski dalam skala kecil...

Kampus Tertua
Kami semua belajar di Universitas Zaituna. Menurut catatan sejarah, kampus kami termasuk lembaga pendidikan Islam tertua. Cikal bakalnya adalah pengajian-pengajian halaqah ala pesantren yang digelar di Mesjid Agung Zaituna.

Pengajian-pengajian ini telah berlangsung sejak awal didirikannya Mesjid Agung Zaituna pada tahun 732 Masehi. Saat itu, Tunis diperintah oleh seorang gubernur bernama `Ubaidillah al-Habhab, pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik dari Dinasti Umayah. Materi yang diajarkan dalam halaqah-halaqah itu meliputi Alquran dan ilmu-ilmu keislaman secara umum. Waktu belajarnya adalah setiap usai salat fadhu.

Kegiatan pengajian yang menggunakan kitab kuning ini terus berlangsung selama berabad-abad. Hingga pada paruh kedua abad 19, mulai terjadi reformasi sistem pengajaran. Diantara bentuknya adalah penerapan sistem absensi, pengaturan jenjang dan jadwal belajar, pengajaran bahasa asing dan ilmu-ilmu umum, standarisasi ujian, serta pengembangan metode dialog.

Dalam buku Alaisa as Subh bi Qarib, Syekh Thahir ibn Asyur –seorang ulama terkemuka Tunisia yang wafat pada tahun 1973 - menuturkan bahwa pada reformasi pendidikan yang mendasar itu terjadi pada tahun 1292 H (sekitar tahun 1890 M) dan banyak diilhami oleh Muhammad Abduh dan Khairuddin at Tunisi. Nama yang disebutkan terakhir adalah seorang negawaran yang memiliki pengalaman melanglang buana ke negara-negara Eropa. Kekaguman Khairudin pada kemajuan Eropa serta beberapa gagasan pembaharuannya ia tuliskan dalam sebuah buku yang saat ini sangat dikenal di Tunis ; Aqwamul Masalik fi Ma’rifati Ahwal al Mamalik.
Perbaikan sistem pengajaran terus berlangsung di Tunis. Pada tahun 1894, didirikan pula Madrasah Khalduniyah, sebagai salah satu lokasi belajar bagi para santri. Sepuluh tahun kemudian, al Jam’iyyah az Zaituniyyah (Lembaga Zaituna) secara resmi didirikan. Pembentukan lembaga ini sekaligus menjadi momen berdirinya Universitas Zaituna hingga yang dikenal saat ini.

Dalam Genggam Sekulerisasi
Derap sang waktu terus berlalu, dengan warna-warni dinamika khasnya. Orang bilang, dunia laksana roda yang berputar. Dan putaran roda dunia itu juga nampaknya dirasakan oleh Universitas Zaituna, selama rentang panjang keberadaannya.

Dari beberapa pengamatan historis, saya melihat bahwa beragam warna lembaran kehidupan pernah dijalani oleh kampus agama satu-satunya di Tunis ini. Para ilmuwan di Zaituna kerap dihadapkan pada dilema dan pilihan-pilihan sulit, kebimbangan memilih antara idealisme dan pragmatisme; antara suara umat dan suara penguasa. Sesuatu yang juga sering dialami oleh banyak lembaga pendidikan di mana pun di muka dunia ini.

Selama rentang 2002-2005 saya tinggal di Kairo. Dalam beberapa kesempatan, saya mengamati dialektika hubungan ulama dan umara di sana. Bagaimana al mukarramin para ulama Al Azhar harus mengalami dilema-dilema idealisme kala berfatwa. Sekedar menyebut contoh adalah kasus fatwa kehalalan bunga bank yang dikeluarkan oleh Majma Buhus al Islamiyah (MBI) pada akhir 2002 serta kritik publik atas keberpihakan Grand Syekh kepada Husni Mubarak saat pemilihan presiden pada pertengahan 2005. (Sekelumit cerita tentang hubungan ulama Al Azhar dan politik di Mesir bisa dibaca di tulisan ‘Dilema Sang Kyai’, edisi September 2005 di blog ini).
Di Tunis, hal yang sama juga terjadi. Dominasi politik penguasa kerap mengebiri kebebasan dan kenyamanan para ulama dalam menyampaikan kebenaran kepada umat. Independensi dan idealisme jadi tergadai. Selama masa pemerintahan Presiden Habib Borguiba, seorang muslim Tunis penganut sekulerisasi yang memerintah selama rentang 1957-1987, Universitas Zaituna ‘dikebiri’ hanya menjadi fakultas (Kulliyyah Zaituniyyah lis Syariah wa Ushuluddin) yang menginduk ke Universitas Tunis. Jumlah mahasiswanya dibatasi. Padahal, menurut Abdurrahman Heila –seorang praktisi hukum kawakan Tunis dan mantan aktifis mahasiswa tahun 1955- jumlah mahasiswa Aljazair saja di Universitas Zaituna pada tahun 1950 mencapai seribu orang. Belum lagi mahasiswa dari negara-negara lain. Selama era Borguiba, jumlah mahasiswa asing hanya puluhan orang.

Kebijakan Borguiba ‘mengebiri’ Universitas Zaituna ini hanyalah satu diantara sederet bentuk propaganda modernisasi dan sekulerisasi yang ia terapkan di Tunisia. Selain itu, ia juga ‘mengharamkan’ poligami tanpa kompromi, mengajak kaum muslimah untuk melepas jilbab, mewajibkan penggunaan bahasa Perancis serta melarang penampakan syiar-syiar keagamaan di ruang publik.

Era Modern, Era Baru
Borguiba lengser dari kursi presiden pada tahun 1987, era sekulerisasi pun berlalu. Presiden pengganti Borguiba, Zainal Abidin ben Ali, mengembalikan Zaituna kepada ‘khittah’nya. Zaituna kembali jadi universitas, dan kemudian terus berbenah diri. Saat ini, selain fakultas Ushuludin, Syariah dan Peradaban Islam, kampus kami juga memiliki Fakultas Multimedia. Gedung megahnya berdampingan dengan gedung Fakultas Humaniora Universitas Tunis. Fasilitas pendukung seperti perpustakaan, laboratorium bahasa, komputer dan akses internet juga tersedia serta bisa dinikmati oleh mahasiswa secara mudah.

Kegiatan perkuliahan menggunakan Sistem Kredit Semester (SKS). Standar penilaian terukur jelas. Pada program S2, jumlah mahasiswa per kelas berkisar antara 15 hingga 20 orang. Dosen-dosennya kompeten di bidangnya, juga umumnya sangat kooperatif. Sistem administrasinya juga rapi dan teratur. Sejak tahun 2006 lalu, registrasi ulang mahasiswa lama menggunakan sistem internet. Jika dijalani dengan tekun, program S2 bisa selesai selama 24-30 bulan. Oya satu lagi ; kuliahnya juga gratis, berkah dari porsi 26,2 % APBN Tunisia untuk pendidikan.

Lingkungan di luar kampus juga cukup kondusif untuk pendukung kelancaran studi. Masyarakat umumnya ramah dan menghormati mahasiswa asing. Alam kota Tunis yang hijau serta tenang, tanpa hingar bingar kepadatan lalu lintas, serta eksotisme kota tuanya sangat pas untuk jadi lokasi bersantai sekedar melepas kejenuhan belajar yang kadang terasa.

Semua faktor itu terasa sangat membantu dalam menciptakan kenyamanan dan kesuksesan belajar. Target akademis bisa tercapai secara tepat waktu dengan hasil yang layak, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Arwani hari Senin kemaren. Salam Manis dari Tunis.

Tunis al Khadra, 13 Maret 2007

Thursday, February 15, 2007

Tragedi Arafah

Air Mata Tertumpah di Padang Arafah

Aku bersama beberapa rekan petugas di Madinah

Cukup lama aku tak menulis di sini. Keberadaanku di Tanah Suci selama 77 hari - dalam rangka mengemban amanah sebagai petugas haji Indonesia - benar-benar membuatku sulit menyisakan waktu sekedar untuk menulis.

Alhamdulillah, sejak 5 Februari 2007 lalu, aku telah kembali ke Tunis, kota tempatku belajar, menghiasi diri dengan ilmu. Di kota ini, setiap usai Subuh aku biasa meluangkan sedikit waktu untuk duduk depan komputer, sekedar curhat atau mengabadikan memori lewat tulisan. Tak terkecuali sederet kenangan indah yang kualami saat menunaikan ibadah haji itu.

Dan di antara kenangan itu adalah saat aku berada di Padang Arafah, ketika terjadi keterlambatan suplai makanan yang mengakibatkan kelaparan massal di kalangan para jemaah haji kita.

Saat itu, aku duduk melepas lelah di dalam kemah. Tiba-tiba ponselku berdering. Segera kuangkat. Di ujung telepon sana terdengar suara seorang ibu tua yang tak asing lagi di telinga ; Uwa Arsih, 63 tahun, kakak kandung ayah yang tahun ini berangkat haji. “Dede, tolong Uwa, dari kemaren siang belum makan. Datanglah ke tenda Uwa, membawa makanan”, tutur Uwa dengan isak tangis yang tertahan.

Aku terkesiap, dadaku bergetar. Ya Allah, mengapa Uwa belum makan? “Di sini tak ada makanan. Kawan-kawan Uwa juga belum makan”, lanjut dia lagi. “Uwa tunggu di sana. Saya akan segera datang”, tuturku seraya beranjak keluar dari kemah.

Mumpung baru jam 10.00, dzuhur belum tiba, wukuf belum dimulai. Aku harus mencari makanan untuk Uwa-ku. Uwa yang datang ke tanah suci untuk berhaji, sekaligus membawa salam rindu ayah bunda dari desa ; ayah bunda tercinta yang belum pernah kutemui selama 5 tahun terakhir.

Aku berjalan zig zag melewati kerumunan para petugas haji yang sedang sibuk, berseliweran kesana kemari. Bathinku tak henti bergumam ; mengapa tak ada makanan? Bukankah selama empat hari di Arafah-Mina para jemaah kita mendapat jatah makanan? Apakah kateringnya tak datang?! Ataukah pembagiannya yang tak tertib?

Di seberang jalan raya, aku melihat serombongan haji Indonesia berbaju ihram, berdiri menghadap arah kemah petugas. Mereka berteriak-teriak, beberapa diantaranya mengacung-acungkan tangan. Sepertinya sedang melakukan unjuk rasa.

Dari teriakan mereka serta sekilas obrolan para petugas yang sempat kudengar, aku baru tahu bahwa telah terjadi keterlambatan katering untuk jemaah, sejak kemaren sore.

Artinya, sejak Kamis sore hingga Jumat siang ini, para jemaah haji Indonesia menderita kelaparan, tanpa ada pasokan makanan.

Ya Allah, betapa berat penderitaan yang mereka rasakan. Semalaman di kemah Arafah, ditempa angin dingin yang menusuk, hanya mengenakan sehelai kain ihram. Tanpa makanan..! Air hangat pun tak ada.

Aku terus berjalan mengitari komplek perkemahan haji Indonesia. Kedua mataku mencari-cari pedagang makanan. Makanan apapun yang bisa kubeli, untuk segera kuantarkan ke kemah Uwa.

Aku berjalan menembus hiruk pikuk para haji Indonesia yang berjalan kesana kemari. Di antara mereka, ada yang berlari-lari kecil, sambil membawa potongan roti atau segelas teh. Dari obrolan-obrolan yang kudengar, aku tahu bahwa mereka juga sedang mencari makanan.

Di sebuah pertigaan, aku berpapasan dengan seorang rekan petugas yang sedang berlari-lari kecil. Tangannya memegang plastik putih berisi roti. “Dari mana ustad dapat roti itu?”, tanyaku tanpa basa-basi. “Tuh di ujung sana, ada orang jual. Tapi harus segera, hampir habis..”, tuturnya seraya menunjuk ke jalan arah kiri.

Aku pun berjalan ke sana, dengan langkah yang lebih cepat. Berjalan di antara deretan kemah haji Indonesia. Benar ternyata, di ujung jalan itu ada seorang pedagang roti tawar. Ia dikelilingi beberapa orang haji. Tetapi mereka bertengkar kecil. Nada-nada suara yang tinggi, serta raut kebingungan sang pedagang. Selidik punya selidik, rupanya mereka kecewa karena puluhan bungkus roti itu telah habis diborong oleh seorang ketua kloter.

Subhanallah, hanya itu ungkapan yang terucap. Lalu aku memutar haluan, berjalan menelusuri komplek perkemahan haji Indonesia. Aku membuntuti sang ketua kloter yang memborong roti tadi.

Ia berjalan agak cepat, hingga kemudian memasuki sebuah gerbang maktab. Puluhan jemaah menyambutnya, seraya merebut roti-roti tawar itu. Suasana menjadi tak tertib. Beberapa haji lain berlarian dari kemahnya. Teriakan-teriakan terdengar di antara mereka.

Aku tertegun terharu menyaksikan pemandangan itu. Ya Allah, mengapa semua ini bisa terjadi? Wahai Allah, mengapa Engkau sia-siakan para tamu-Mu?! Dalam suasana normal, tentu roti-roti tawar itu takkan dilirik oleh orang Indonesia. Tetapi hari ini, roti tanpa rasa itu menjadi sangat berharga.

Dalam sekejap, roti-roti itu telah berpindah tangan. Para jemaah yang belum kebagian, berlarian kesana kemari. Sebagian mereka, tentu orang-orang tua yang lemah, atau mereka yang menderita sakit.

Merasa tak tega berlama-lama di sana, aku kembali berjalan. Mencari penjual makanan. Tetapi memang tak ada. Konon, para penjual makanan dilarang masuk ke komplek perkemahan Arafah.

Akhirnya aku kembali ke perkemahan petugas. Meski hati terasa teriris, ingat Uwa di Maktab 55 sana yang saat ini tengah menderita kelaparan. Pun juga dua ratus ribu jemaah Indonesia lainnya. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada mereka.

Aku terus berjalan, di antara hiruk pikuk jemaah yang berlarian, juga para petugas yang sibuk menggotong para haji yang pingsan atau sakit.

Aku tiba di perkemahan petugas haji, ketika sebuah pertemuan sedang digelar. Pertemuan darurat yang diikuti oleh Duta Besar RI di Saudi, Amirul Haj Tarmizi Taher, beberapa anggota DPR, Wakil Muassasah, para ketua kloter serta para petugas haji. Juga nampak puluhan wartawan dari media-media nasional.

Aku mencoba mendengarkan pembicaraan mereka. Terdengar desakan kuat dari perwakilan jemaah, agar pemerintah mengusahakan makanan darurat dalam waktu yang cepat. Tanpa menunggu jatah makanan yang dijanjikan oleh Perusahaan Ana Katering. “Kami sudah bosan mendengarkan janji-janji. Kami ingin makanan segera. Aku sendiri masih bisa menahan lapar. Tetapi di sana, di kemahku, banyak orang tua yang lemah, jemaah jompo yang kepayahan...”, tutur seorang jemaah dengan suara yang lantang. Seorang ibu tua yang duduk di sebelahnya tak henti menangis.

Dubes, Amirul Haj serta anggota DPR itu bergiliran bicara. Sambil sesekali menerima telepon. Beberapa saat kemudian, pertemuan berakhir. Diantara kesepakatannya, pemerintah akan mendatangkan 200 ribu paket Indo Mie dari Jedah.

Aku kembali ke tenda. Bersama para petugas haji yang lain. Kami duduk terdiam, kebingungan. Karena persoalan makanan tak lagi berada dalam jangkauan kewenangan kami. Kami hanya petugas lapangan, bukan pemegang kebijakan. Dalam suasana itu, kami hanya bisa membantu para petugas medis mengobati jemaah sakit. Sambil menanti kedatangan mie instan yang dipesan itu.

Saat dzuhur tiba, khutbah wukuf disampaikan oleh KH Makruf Amin, seorang Ketua MUI. Dalam doa wukuf, tak lupa kami panjatkan permohonan, semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada para jemaah Indonesia.

Pukul 14an, kontainer pembawa Indo Mie itu tiba. Alhamdulillah. Semua petugas dilibatkan dalam membantu distribusi Indo Mie ke tenda-tenda jemaah. Tak terkecuali aku. Kami berdiri berderet, mendistribusikan kotak-kotak mie instan itu secara estafet. Ribuan jemaah berdiri di jalanan depan kemah mereka. Acara wukuf tak lagi diisi dengan doa dan dzikir di dalam kemah, melainkan dengan berdiri berderet sambil menahan lapar.

Suasana hiruk pikuk. Banyak jemaah yang merebut dus-dus Indo Mie dari tangan para petugas. Rasa lapar yang teramat sangat, memaksa mereka melakukan itu. Beberapa petugas akhirnya melemparkan dus-dus itu ke dalam komplek perkemahan yang terhalang pagar tinggi itu.

Aku pun demikian. Agar segera sampai ke tangan jemaah dus-dus itu pun kulemparkan. Kulemparkan dengan iringan doa dan kelopak mata yang terasa menghangat. Di balik pagar sana, ribuan manusia berbaju putih menanti dengan tangan-tangan yang terangkat.

Allahummaj’al hajjana hajjan mabrura, wa dzanbana dzanban maghfura, wa sa’yana sa’yan masykura...

Tunis, 12 Februari 2007