Thursday, October 14, 2004

Pria Mesir Perkasa

Pria Mesir nan Perkasa


Beberapa pria Mesir di pintu gua Firaun, tepian Laut Merah

Orang Mesir adalah masyarakat yang cinta damai, bukan pendendam, alias mudah memberi maaf. Frekuensi terjadinya tindakan kriminalitas semacam penodongan, pemerkosaan, apalagi pembunuhan, sangat-sangat jarang. Kalo mereka berantem, bukannya baku hantam atau bunuh-bunuhan kayak di Indonesia, tetapi cukup dengan adu pelotot mata, caci-maki yang nyaris susah dihentikan, atau sekedar pegang-pegangan kerah baju. Konon, orang yang mukul duluan, apapun kasusnya, akan disalahkan.

Tapi, dalam rumah tangga, kehidupan sebagian mereka, tidak seindah syurga. Semangat cinta damai tadi, hanya berlaku di luar rumah. Aksi kekerasan para suami terhadap perempuan (isteri), masih sering terjadi. Terutama yang paling populer adalah tindakan pemukulan terhadap isteri. Dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh sebuah LSM perempuan di kota Kairo akhir 2002 lalu, terungkap bahwa 70 persen responden (para ibu rumah tangga di kota Kairo), memiliki pengalaman ‘biasa dipukul’. Dari jumlah itu, 60 persennya biasa dipukul oleh suami, 25 persen kadang dipukul oleh saudara ipar, dan 15 persennya dipukul oleh famili suami lainnya.

Fatimah Daratista, bukan nama sebenarnya, seorang aktifis di LSM perempuan penyelenggara polling tadi, mengatakan bahwa pihaknya sering menerima keluhan dan pengaduan para isteri korban pemukulan suami. “Khan kasian, mereka itu, dipake juga, dipukulin juga”, kenang dia dengan mata berkaca-kaca.
Ada banyak faktor pemicu tindakan suami ringan tangan ini. Diantaranya yang paling populer adalah karena cemburu, atau sikap suami yang egois, tak ingin dianggap istiqomah (ikatan suami takut isteri di rumah). Jadi, suami berlagak jagoan, karena tidak mau kalah oleh isterinya.

Seorang sopir angkot, masih dalam cerita Fatimah, punya isteri cemburuan tinggi. Kalo ketauan ada penumpang wanita cantik duduk di depan sebelah sopir, maka kiamat seolah terjadi hari itu dalam hidup si sopir. Meskipun, wanita cantik itu, penumpang biasa, yang juga bayar ongkos. Sang isteri nanti, tidak akan membukakan pintu rumah, apalagi pintu kamar tidur. Baju diserahkan lewat jendela, karena rumah itu memang milik keluarga si isteri, alias komplek mertua indah. Nah, belakangan, sang suami balik kesel. Ia mulai terbiasa mukulin isteri, hingga kini, saat usia pernikahan mereka sudah 14 tahun.

Seorang janda cerai beranak 6, berkisah lain lagi. Suami barunya sering mukulin dia, sejak hari ketiga pengantinan, juga akibat terlalu mudah cemburu. “Kata orang, ana sangat cantik wa bahenol sih..”,begitu kata sang isteri sambil garuk-garuk perut, seperti ditirukan Fatimah. Sang suami, selain mudah terangsang, katanya juga mudah tersinggung. Ia sering nampar isteri, bahkan hingga di rumah ortu-nya si isteri. Pernah suatu kali, sang suami matiin rokok beneran di kulit si isteri. Ih….amit-amit…

Nah, para isteri korban aksi kekerasan suami itu, jarang yang mau mengadu ke hansip, bawwab, apalagi polisi. Anggapan bahwa “aib besar jika menjelek-jelekkan suami depan bawwab”, masih sangat kental di kalangan para nyonya cucu kleopatra ini. Apalagi kalo pengaduan itu malah kontra-produktif, alias berbalik murka suami. Sang suami akan dengan mudah menjatuhkan talak, yang tentu saja, berakibat fatal bagi isteri. Status janda tea.... wah wah wah…..bener-bener harus dihindari.


Wahid Dasuki, seorang pengamat wanita, aktifis gerakan perempuan di Mesir maksudku, mengatakan bahwa tindakan kekerasan ini merupakan aksi unjuk gigi seorang suami depan isteri dan lingkungannya. Para suami berpendidikan rendah, menurut Wahid, sering memukuli isteri di rumah dengan teriakan kencang sementara posisi jendela dibiarkan terbuka, untuk menunjukkan kepada tetangganya, bahwa ia pun bisa mendidik isteri, tidak mencuekkannya. Ya..semacam show of force ; unjuk kekuatan dan wibawa kira-kira. “Di kalangan keluarga berpendidikan, suasananya agak berbeda. Aksi pemukulan ini, sebagaimana jenis aksi khusus mereka lainnya, dilakukan secara sembunyi-sembunyi”,kata Wahid lagi sambil senyum simpul, penuh misteri.

Para suami Mesir, masih menurut Wahid, sering menjadikan isteri sebagai sasaran kekecewaan, kemarahan dan tekanan mental akibat kondisi sosial-ekonomi yang tidak stabil. Isteri, sebagai figur lemah yang posisinya “lebih rendah”, kerap jadi korban. Pada pasangan suami isteri berpendidikan rendah, ketidakharmonisan akan lebih sering terasa, akibat lemahnya daya / kualitas komunikasi kedua pihak.

Selain karena takut dicerai, para isteri enggan mengadukan penderitaannya itu, juga karena secara hukum, posisi mereka lemah. Hingga sementara ini, Mesir masih memberlakukan putusan Mahkamah Agung nomor 6848 thn 1963, yang membolehkan suami memukul isteri untuk tujuan mendidik, “selama tidak menyebabkan bekas / cacat dalam tubuh isteri”. Jika menimbulkan penderitaan berat dan cacat misalnya, sang isteri baru boleh mengajukan cerai.

Dengan aturan ini, para suami, seolah mendapat legitimasi dalam melakukan tindak kekerasan terhadap isteri. Sebaliknya, para isteri, dibikin tak berkutik. Kalopun ada isteri yang memprotes aturan ini, masih malu-malu. Pernah ada seorang ibu rumah tangga mengusulkan agar kalimat dalam pasal itu ditambah dengan “Pukulan tidak boleh lebih dari sekali, dalam seharinya”.

Baru pada bulan Januari 2003 lalu, para aktifis gender Mesir, mendirikan semacam lembaga advokasi, khusus menangani isteri korban penganiayaan suami (Wihdah al Istima’ lil Mar’ah al Mu’annafah), yang diketuai oleh Ny. Ashgan Abdul Hamed. Hingga akhir Maret 2003, pihaknya telah menerima sedikitnya 25 pengaduan dari para isteri. “Ada 3 kasus yang paling menarik, dan akan dijadikan sampel dalam upaya kami ke depan”, kata si nyonya Ashgan dengan mata melotot geram. Sekilas mirip Su Aceng. Bedanya dikit, si nyonya tidak punya kartu nama. Oya, sory, diantara kasus-kasus itu adalah kisah seorang isteri lulusan akademi bisnis, bersuamikan seorang buruh perusahaan yang buta huruf. (Angka buta huruf masih tinggi di Mesir. Jumlah perawan tua juga lumayan banyak, akhir 2001 ada sekitar 6 juta orang, akibat terlalu tinggi ‘pasang harga’. Akibatnya, dalam usia diatas 30-an, para gadis tua itu banting harga, dengan satu prinsip, yang penting dapet cowo sehat, hehehehe).

Nah, isteri yang sarjana itu sering dipukuli suaminya yang ngga bisa baca-tulis tea. Saking seringnya, ia menderita stres berat, semacam geger otak, hingga ketularan penyakit suaminya, yakni ngga bisa baca lagi. Dalam ketidakberdayaan, sang isteri dibawa temannya bersilaturahmi ke sekolah pemberantasan buta huruf, hingga ia bisa baca lagi, dan belakangan baru sadar lagi bahwa ia sebenarnya telah lulus akademi.

Ezzat Sulaiman, seorang pengacara dan aktifis gender Mesir menggugat hukum yang tidak berpihak bagi kaum wanita Mesir itu. “Kalo suami punya hak mukul isteri dengan tujuan mendidik, kenapa isteri tidak boleh ? Bagaimana kalo isteri juga punya hak yang sama, untuk mendidik suami yang ngga bener? Emangnya suami itu malaikat, yang ‘Laa Ya’tiihil Bathil’?” demikian gugat Ezzat.

Saya tidak tahu, apakah gugatan Ezzat dan upaya advokasi yang dilakukan oleh para pemerhati gender di negeri Qassim Amin ini akan berjalan efektif atau tidak. Kita tunggu saja perkembangannya. Untuk Anda para pemerhati gender dan feminisme, saya ucapkan selamat berjuang.

Pinggiran Nil, ujung bulan Kartini 2003.

No comments:

Post a Comment