Monday, July 25, 2005

SSM 17 : Bakso di Kairo

Di Kairo Juga Ada Bakso

Kendati jauh dari tanah air, masyarakat Indonesia di Kairo tetap akrab dengan aneka makanan khas Indonesia. Bakso, tekwan, mie ayam, sate, pecel lele atau empe-empe, sangat mudah ditemui di warung-warung makanan Indonesia.

Di Nasr City, kawasan tinggal sebagian besar mahasiswa Indonesia, ada sekitar 10 Rumah Makan (RM) penyedia makanan khas Asia/Indonesia. Sebuah RM di kawasan Gamie malah khusus menyajikan masakan Padang. Diantara yang 10 itu, ada juga RM milik warga Malaysia dan Thailand yang menyajikan makanan khas mereka semisal tomyam atau berbagai jenis nasi goreng.

Acara bazaar yang menampilkan aneka makanan khas Indonesia juga kerap digelar, mengiringi sebuah acara resmi. Seperti bazaar makanan yang saya saksikan Jumat siang tadi. Tak kurang dari 10 stand makanan Indonesia menempati pojok-pojok lapangan belakang Mesjid Indonesia Kairo (MIK), di Dokki, sebuah kawasan elit Kairo. Setiap meja stand dipasangi merk nama makanan. Ada sate, bakso, pecel lele, batagor dan empe-empe. Juga ada stand yang menjual bumbu dapur atau obat-obatan buatan Indonesia.

Usai salat Jumat, kira-kira seratusan orang Indonesia mengerubuti stand-stand makanan itu. Tentu untuk membeli serta menikmati makanannya. Lapangan seluas 70an meter persegi itu pun menjadi sesak. Mereka terdiri dari keluarga pegawai KBRI dan mahasiswa.

Harga masing-masing menu makanan juga bervariasi. Satu porsi empe-empe, mie ayam atau bakso, rata-rata dijual seharga 4 – 5 Pound (Rp 6000 – Rp 7500). Sedangkan pecel lele dijual 8,5 Pound (Rp 12 ribu). Tentu ini sudah lengkap dengan nasi, sambal dan lalapannya.
Siapakah pembuat aneka makanan khas itu ?! Jawabannya, para mahasiswa, tentu. Kreatifitas kawan-kawan mahasiswa dalam hal yang satu ini memang layak dihargai. Saya mengenal beberapa kawan yang biasa membuat tahu-tempe atau ikan asin, lalu dijajakan dari rumah ke rumah atau ditampilkan di acara-acara bazaar tadi. Untuk konsumen orang satu negeri, tentu. Satu kantong kemasan kecil ikan asin biasanya dijual sekitar 3 Pound. Harga itu bisa lebih tinggi jika dijual kepada keluarga pegawai KBRI.

Musim panas tahun lalu saya juga pernah nyoba bikin ikan asin. Tidak banyak, karena hanya untuk konsumsi sendiri, not for sale, alias bukan untuk dijual. Caranya memang mudah. Ikan segar yang sudah dibersihkan, direndam satu malam, dicampuri garam agak banyak dan sedikit cuka. Lalu, ikan itu dijemur selama 3-4 hari hingga benar-benar kering.

Dua-tiga kawan yang tinggal di asrama, memanfaatkan lahan kosong depan asrama, untuk ditanami kangkung dan bayam. Sayang sekali, tumbuhan ini hanya hidup selama musim panas saja, yakni antara Juni hingga September. Seperti halnya tahu-tempe dan ikan asin, kangkung dan bayam ini juga dijajakan dari rumah ke rumah.

Hasil penjualan dari usaha sendiri ini lumayan, bisa menambah-nambah uang saku. Maklum, beasiswa yang diterima sangat minim. Ternyata, kreatifitas terbentuk secara sempurna tatkala seseorang dihadapkan pada tuntutan kebutuhan.
Beberapa tamu pejabat dari Jakarta yang pernah saya temani jalan-jalan, mengaku kaget karena ternyata di Kairo juga ada bakso. Safder Yusacc dan Mulyana Kusuma, dua orang fungsionaris KPU pernah kami suguhi bakso kala bersilaturahmi ke sekretariat mahasiswa Jawa Barat di Kairo. Kekagetan yang sama juga diungkapkan oleh Profesor Hidayat, Guru Besar Sastra Arab UIN Jakarta kala berkunjung kesekretariat yang sama, akhir 2003 lalu..

Jika para mahasiswa bikin acara semisal syukuran kelulusan ujian, selamatan/doa perpisahan mau pulang atau sekedar kumpul-kumpul dadakan, maka bakso atau mie ayam biasanya menjadi menu suguhan utama. Terkadang modalnya saweran, lalu bikinnya pun bareng-bareng..Makannya..?! Tentu bareng-bareng juga, donk....

Pinggiran Nil, 22 Juli 2005