Wednesday, January 04, 2017

Santri di Tunis

Syekh Saptono dan Transmisi Intelektual
Tunisia-Indonesia


Pengembaraan intelektual sahabat kami, Saptono Bin Sabon di Tunisia, berakhir hari ini. Nanti siang, ia akan pulang ke tanah air. Selama 10 tahun di Tunis, Tono – panggilan akrabnya – tekun mengaji pada para ulama di negeri Zaitunah ini, hingga meraih sejumlah ijazah sanad dalam ilmu-ilmu keagamaan.

***
Dari Syekh Farid al Baji – ulama ahli hadits terkemuka / pimpinan pondok Dar al Hadits az Zaituniyyah– Tono mengaji hadits hingga memperoleh ijazah sanad kitab Adab al Mufrad (karya Imam Bukhari) dan kitab al Muwatha (karya Imam Malik).

Dari Syekh Husni bin al Burni al Ayasyi al Azhari, ia mendapatkan ijazah sanad kitab as Syamail al Muhamadiyah (karya Imam Turmudzi), kitab hadits al Arba'in an Nawawiyah, kitab Dalail al Khairat (karya Imam Jazuli), serta beberapa bab dari kitab Sunan Nasai. Dari Syekh Husni pula, Tono belajar fikih Maliki melalui kitab Mursyid al Mu’in fi Mayyarah Sughra (karya ibn Asyir), serta meraih ijazah sanad beberapa musalsal hadits seperti Musalsal fi Qiraah Surat as Shaf, Musalsal bin Nidaaini Yaumal Jumah, Musalsal bil Fuqaha, dan Musalsal fi al Qabdhi ‘ala al Lihyah.

Ijazah sanad kitab as Syamail al Muhammadiyah juga ia dapatkan dari Syekh Ali Gharbal, putera ulama kharismatik Tunis pada masa lalu : Syekh Muhammad Gharbal. Sedangkan dari Syekh Mushtafa Ma’tuq, ulama sepuh asal kota Sfax, Tono mengaji kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyid al Mursalin (karya Syekh Muhamad Khudari).

Di bidang akidah- akhlak, pria lajang berusia 30 tahun ini belajar pada Syekh Nizar Hammadi, ulama Zaitunah yang dikenal produktif menulis dan mentahqiq / pimpinan Markaz ibn Arfah lit Takwin al ‘Ulum al Insaniyah. Dari ulama muda ini, ia mempelajari bab Akidah dalam kitab Mursyidul Mu’in fi Mayyarah Sughra (karya ibn Asyir), kitab al Yaqut al Faridah fi Nadhmi Lubab al Aqidah, kitab Mukhtashar al Iji(bidang akhlak), serta kitab ad Dalil al Qaid li Dirasat Ilm al Aqaid. Kitab yang disebutkan terakhir adalah karya Syekh Nizar sendiri.

Sedangkan kitab tasawuf terkenal, ar Risalah al Qusyairiyah, ia pelajari dari Syekh Mounir Kamantar, ulama Tunis lulusan Damaskus dan Kairo yang pernah menjadi salah seorang syekh di Masjid Al Azhar.

Dari Syekh Abdul Mun’im Bisyr, pria yang bercita-cita mendirikan pesantren ini menamatkan kitab Ushul Fiqh terkenal : Waraqat (karya Imam al Juwaini), kitab Sullam al Munauraq di bidang Mantiq, serta kitab Syarh al Muqaddimah al Ajrumiyah fi Ilm Ushul al Arabiyah di bidang tata Bahasa Arab (karya Syekh Khalid al Azhari). Dari Syekh Burhan Nefati, ia belajar Ushul Fiqh Maliki, melalui kitab Syarh Tanqih al Fushul (karya al Qurafi). Syekh Nefati ini tiada lain pembimbing thesis Tono di Universitas Zaitunah.

Selain kuliah dan mengaji, Tono juga mengikuti program tahfidz di kawasan Bardo dan Zahra. Kini, ia telah menghafal 20 juz sekaligus memegang sanad beberapa qiraat mu’tabarah. Salah satunya qiraat Qalun 4 wajah, yang ia dapatkan dari Syekh Ali Bou Syalaghim. Ulama ahli Qiraat al Asyrah al Kubra ini juga mengajarkan syarah Matan Jazariyah (bidang tajwid) kepadanya. Tono juga pandai menulis khat /kaligrafi. Bersama guru kaligrafinya, Syekh Muhamad Yasin Mathir, ia menulis kaligrafi di sejumlah Masjid di kota Tunis.

Oya satu lagi yang tak kalah keren : Tono bisa bahasa Turki, buah dari persahabatannya dengan para mahasiswa Turki di Tunis. Tak heran jika kemudian ia dipercaya sebagai pengajar les bahasa Arab mereka, serta menjadi guru agama di Sekolah Internasional Turki di kota Tunis. Ia juga pernah berkunjung ke negeri Turki atas undangan sahabat-sahabat Turki-nya.

Masih banyak gurunya yang lain yang belum disebut, seperti Syekh Kamal Sa’adah, Syekh Shalahudin el Mistaoui, serta sejumlah syekh di Masjid Zitouna, tempat ia mengaji talaqqi di Ta’lim Zitouni beberapa waktu lalu.

Berkat bimbingan mereka, Tono puas mereguk segarnya samudera ilmu pengetahuan, lalu menyerap wawasan spiritual yang kelak akan ia kucurkan lagi kepada murid-murid sebangsanya di tanah air. Dengan demikian, proses transmisi intelektual Islam dari Magrib Arabi (khususnya Tunisia) ke Indonesia terjadi. Di antaranya melalui Tono.

***
Hari ini, guru para mahasiswa Indonesia di Tunis ini akan kembali ke kampung halamannya di Cirebon, membawa selembar ijazah S1, selembar ijazah S2 (bidang Ushul Fiqh), serta belasan lembar ijazah sanad beragam ilmu, dari para gurunya.

Lembaran-lembaran ijazah itu hanyalah kertas yang suatu saat akan usang ditelan masa. Akan tetapi warna-warni pengalaman yang terekam dalam memori, buah pengembaraannya selama 10 tahun di Tunis, itulah yang abadi. Dan semua itu akan memperkaya cerita-cerita Syekh Saptono kepada murid-muridnya di tanah air nanti, Insya Allah.

Selamat jalan sahabatku. Negerimu nun jauh di sana, menanti kiprahmu.

Tunis al Khadra, 29 September 2016

No comments:

Post a Comment