Thursday, October 14, 2004

Pesona Ummi Kulsum

Puteri Panggung itu Bernama Ummi Kulsum

Sebuah pernyataan klasik, bahwa "Orang Arab akan berbeda pendapat dalam segala hal, tetapi tidak dalam satu soal ; Ummi Kuslum", nampaknya telah menjadi aksioma di Tanah Arab ini. Lihat saja sejarah, betapa orang-orang Arab beserta para pemimpinnya, tidak pernah kompak menghadapi Israel dan AS. Mereka tak satu suara menyikapi persoalan Palestina. Belum lagi perang dingin 'Sunni-Syiah', antara kaum agamawan Mesir dan Iran yang masih nampak hingga sekarang. Tetapi dalam soal Ummi Kulsum, semuanya mengatakan hal yang sama ; Ia adalah penyanyi kesohor asal Mesir, yang belum ada duanya hingga saat ini.

Mendiang Ummi Kulsum tidak akan pernah tahu bahwa banyak orang Indonesia sangat mengenal suaranya. Bahkan, di sebagian pesantren, lagu-lagunya acap dinyanyikan secara rutin. Ummi Kulsum adalah diva lagu-lagu Arab. Anda yang akrab dengan lagu-lagu Arab Padang Pasir, tentu akan tahu – atau setidaknya pernah mendengar – lengkingan suara khas Ummi Kulsum. Ibu saya saja nun jauh di Sukabumi sana, konon telah menyukai lagu-lagu Ummi Kulsum sejak masih single. Dalam penilaian orang Arab, suara emas Kulsum dianggap menyimpan alkamal wal jamal ; kesempurnaan dan kecantikan sekaligus. Ummi Kulsum sudah dianggap sebagai maskot kebanggaan warga Arab keseluruhan, yang tersebar di 20 negara Timur Tengah, tak lagi Mesir sendiri. Dengan kata lain, Ummi Kulsum telah menjadi legenda orang Arab yang tiada duanya. Hingga zaman ini

Tiga Februari 2004 lalu, sebagian orang Arab dan tentu juga Mesir, memperingati haul atau peristiwa kematian Ummi Kulsum yang ke-29. Beberapa koran Kairo yang terbit di sekitar hari itu, menyediakan ruangan khusus berisi ulasan tentang kehidupan dan perjalanan karir sang artis. Mingguan kesukaan saya, Rouz el Youssef, menyajikan tulisan dua halaman tentang Ummi Kulsum dalam rubrik Pembesar-Pembesar Mesir. Menurut koran-koran itu, ternyata peringatan kematian Ummi Kulsum, tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Mesir, tetapi juga orang-orang Arab di negara lain. Seperti dilakukan oleh Departemen Kebudayaan Tunisia, yang mengadakan acara peringatan haul Ummi Kulsum pada akhir dekade 1970-an. Dalam sebuah kesempatan haul, Pemerintah Mesir pernah mencetak 1,5 juta perangko bergambar Ummi Kulsum. Begitu juga di Uni Emirat Arab, yang pernah memasang gambar Kulsum di salah satu perangko resmi dan uang kertasnya.

Ummi Kulsum meninggal pada 3 Februari 1975. Hingga kini, makamnya di daerah Ismailiyyah, Mesir, selalu ramai dikunjungi orang. Konon, kala kematiannya 29 tahun lalu itu, ratusan ribu – atau mungkin jutaan - orang Mesir turun ke jalan. Bukan untuk demo, melainkan wujud duka cita yang tiada terkira. Sekedar ilustrasi, barangkali tak beda dengan respon publik Indonesia terhadap kematian Ibu Tien Suharto, di hari lebaran Idul Adha 7 tahun lalu. Bedanya, sebagian orang kita turun ke jalan, melakukan tahlil dan doa bersama, karena tak lepas dari iklim feodalistik ala rezim Orde Baru. Karena almarhumah adalah isteri orang terkuat kala itu, Soeharto. Sedangkan tangis orang Mesir atas kepergian Ummi Kulsum, benar-benar tangisan tulus, ekspresi kecintaan pada sang legendaris. Tidak karena prinsip ABS (asal bapak senang), atau karena motivasi politik lain.

Ummi Kulsum dilahirkan pada tanggal 4 Mei tahun 1904, di Thama Zuhairah, sebuah desa di daerah Ismailiyah, 140 km utara Kairo. Sejak kecil ia memang dibesarkan dalam lingkungan keluarga peminat seni suara. Ayahnya, Syekh Ibrahim, adalah seorang petani kapas dan juga qari yang terkenal di kampungnya.

Satu hari sebelum isterinya melahirkan - kala itu, hari-hari terakhir Ramadhan- Ibrahim bermimpi melihat seorang wanita berbaju putih menyalaminya. "Siapa Kamu?" tanya Ibrahim. "Saya Ummi Kulsum", jawab si wanita itu. Nah, atas dasar mimpinya itulah, Ibrahim dengan mantap, menamakan puterinya yang lahir keesokan harinya itu dengan nama Ummi Kulsum. Sejak hari itu pula Ibrahim begitu yakin dengan firasat bahwa puterinya akan memiliki keistimewaan khusus yang dikaruniakan Allah.

Bersama saudara kandungnya, Khalid, Kulsum kecil diajari seni tilawah Al Quran, langsung oleh ayahnya. Juga bagaimana mengembangkan bakat di bidang musik, pelajaran baca-tulis, hingga soal etika menyanyi di panggung. Teori-teori bagaimana sikap seorang artis kala penontonnya riuh bertepuk tangan, menyanyi pakai teks, hingga bagaimana mengatur pandangan mata ke penonton, rupanya telah membekas kuat dalam diri Kulsum kecil. Menurut catatan sejarah, pada masa-masa itu, belum banyak keluarga Mesir – apalagi di daerah pedesaan - yang secara serius bisa mengajarkan anak gadisnya dunia tilawah, baca tulis, syair-syair Arab, hingga etika menyanyi.

Bakat menyanyi rupanya telah melekat kuat pada pribadi Kulsum kecil. Saat usia belasan tahun, ia sudah terbiasa manggung di acara-acara panggung rakyat pedesaan, di sekitar kota Ismailiyah. Tahun 1918, ia diundang menyanyi di kota Zaqaziq, 81 km dari Ismailiyyah, dalam acara pesta di sebuah keluarga pembesar. Tahun 1920, Kulsum muda sudah mulai diundang menyanyi hingga ke Kairo.

Begitulah, selama rentang dekade 1920-an, Kulsum muda menjadi puteri panggung. Tetapi tentunya tidak sama dengan Inul Daratista atau Uut Permatasari yang memang punya lagu berjudul "Puteri Panggung". Nama Kulsum semakin dikenal orang, seiring dengan frekuensi manggungnya yang meninggi. Ia mulai sibuk melayani permintaan menyanyi di berbagai kota di Mesir. Diantara panggung bersejarah yang mengangkat namanya hingga terkenal seantero Mesir adalah pada saat menyanyi di acara pembukaan radio pemerintah Mesir pada tanggal 27 Januari 1935. Sejak saat itu pula, Ummi Kulsum menjadi artis penyanyi yang suaranya tidak hanya didengar orang Mesir, tetapi juga negara-negara Arab lain.

Ummi Kulsum juga kerap diundang menyanyi oleh para penguasa Mesir, sedari Raja Farouk, Presiden Gamal Abdul Nasser hingga Anwar Sadat. Bahkan, kala Mesir kalah perang atas Israel di tahun 1967, Ummi Kulsum diminta tampil ke publik secara khusus, untuk menghibur para prajurit. Ia mendendangkan lagu-lagu perjuangan, pendorong semangat juang dan percaya diri bangsa Mesir untuk mengusir Israel dari Semenanjung Sinai. Kulsum juga keliling dunia Arab, berangkat ke Libya, Tunisia, Maroko, Sudan, dan Lebanon ; hanya untuk menyanyi dan membawa misi kampanye dukungan bagi perjuangan Mesir. Hingga akhirnya, Mesir mampu mengusir Israel dari Sinai pada pertempuran 6 Oktober 1973 yang terkenal itu.

Kini, setelah 29 tahun kepergiannya, kaset-kaset lagu Ummi Kulsum tetap menjadi best seller di berbagai negara Arab, especially in Egypt. Hingga akhir hayatnya, 280 judul lagu ia lantunkan. Alf leila We Leila, Ana Fintezarak, Fakarouni, Leilet Hob, Enta Omri dan Lessa Faker, adalah diantara judul lagu-lagu kesohor sang diva. Di toko-toko kaset kota Kairo, lagu-lagu Ummi Kulsum – yang dijual rata-rata seharga LE 10 (sekitar 12 ribu rupiah)- masih mampu bersaing dengan artis-artis ngetop dan bahenol Arab era sekarang, semisal Nawwal Zoghby, Bascal Mash'alani, Diana Haddad, hingga Samira Said. Televisi-televisi Mesir, juga masih sering menayangkan rekaman-rekaman panggung Ummi Kulsum. Hard Disk komputerku juga menyimpan sebuah klip rekaman sang artis legendaris, berisi lagu-lagu terbaiknya, dengan masa durasi 78 menit. Tentu saja lagu-lagunya tidak berupa klip warna-warni seperti kebanyakan klip para artis sekarang. Klip Ummi Kulsum masih berupa rekaman diatas panggung, gaya menyanyi masih monoton, pakaian yang sopan, dengan gambar yang masih hitam putih agak-agak suram.

Begitu juga di radio-radio Mesir, baik AM maupun FM, hampir selalu ada – setidaknya satu gelombang - yang sedang memutar lagu-lagu kenangan Ummi Kulsum. Apalagi kalau malam hari, mencari saluran radio yang memutar lagu Ummi Kulsum sangatlah mudah. Maklum, lengkingan khas Kulsum, dengan segala lekuk-lekuk suaranya yang terkadang mirip tilawah lagu-lagu Al Quran, sangat pas dinikmati dalam keheningan malam, sebagai pengiring tidur. Musik pengiringnya pun, berupa kelompok permainan organik, grup atau ensemble semacam orkestra. (Ensemble, yang berasal dari bahasa Perancis, dalam terminologi musik, adalah sebuah permainan musik secara serempak atau bersama-sama). Meski dimainkan oleh kelompok besar, irama musik pengiring lagu Kulsum biasanya tetap 'santun', hangat, bergema, romanits, dan tentu saja tidak menyalak-nyalak sebagaimana kebanyakan lagu Arab hip-hop sekarang.

Beberapa tahun lalu, sinetron Ummi Kulsum juga sempat populer di Mesir. (Sayang sekali, saya tidak memiliki informasi tentang hal ini). Sejumlah buku juga ditulis orang, khusus membahas kehidupan sang ratu panggung kebanggaan orang Arab ini. Diantaranya yang saya miliki adalah karya Zakaria Hashim yang berjudul Ummi Kulsum, Tuhfatul Asr Wa Mu'jizatud Dahr.

Lagu-lagu Ummi Kulsum, sejauh yang saya rasakan, memang bercitarasa seni tinggi. Syair-syair yang dibawakannya juga bernilai sastra. Dari 280 judul lagu itu, sebagian besar diantaranya bertema seputar cinta, keagamaan dan nasionalisme. Dan yang jauh lebih penting dari itu, kemerduan suaranya mampu menembus tingkatan oktaf nada yang amat tinggi, dengan nada yang tetap stabil. Sangat pas dinikmati oleh seorang bujangan dalam perantauan. Hingga tidak jarang, saya betah berlama-lama duduk depan komputer sambil menulis, diiringi haleuang Ummi Kulsum, sebagaimana yang saya lakukan saat menulis catatan ini.

By the way, kapan Indonesia punya puteri panggung sehebat Ummi Kulsum?

Pinggiran Nil, 7 Februari 2004

3 comments:

  1. Boss mo nanya nih, Ummi Kulsum meninggalnya karena apa ya...???

    ReplyDelete
  2. assalamu'alaikum.
    mas dede, punya koleksi mp3 atau clipnya ummi kulsum?? kalo ada, mohon saya diberi kabar via email jmcgopal@yahoo.com, tentang alamat dimana saya bisa mendownloadnya.

    terima kasih banyak.

    *ps. lagi kangen berat denger suara beliau mas.

    ReplyDelete
  3. Mas, q ngefans bgt sama umi kulthum, tapi yg q butuhkan teks syairnya, tolong dong mas, kalau ada info ya..thanks
    azpolarfie@gmail.com

    ReplyDelete